Uncategorized

Speech Delay dan Speech Disorder – Benarkah Lebih Sering Dialami Anak Laki-laki? (Bagian 1)

Speech delay pada anak laki-laki
Belakangan, Najib sering sekalimenirukan cara berbicara teman bermain laki-lakinya.  Teman Najib ini atau kita sebut saja Si A,  memang masih susah mengucapkan kata-kata. Hanyabeberapa kata saja yang dapat kami mengerti maksudnya dengan jelas, seperti “Jib”yang berarti Najib, “aem” yang berarti maem atau makan, “dah” atau sudah, “Bah” atau Mbah kemudian “Buk” dan “Pak”. Selebihnya kami selalu berusaha memahami maksudnya berdasarkan gerak tubuh atausituasinya saja.
Fase di mana dia mulaimengeluarkan suara pun terbilang jauh tertinggal dibanding teman-teman sebayanya.Sehingga saat semestinya anak mulai melatih kata-kata pertamanya, Si A yang sekarang sudah berusia 3,5 tahun barubelajar berbahasa, dan masih suka berteriak ataumenjerit ketika ingin menyampaikan maksudnya.
Sebenarnya, sejak Si A iniberusia 1,5 tahun, para tetangga termasuk saya sudah sering mengingatkan orangtuanya untuk lebih sering menstimulasi. Tapi begitu keluarganya bilang nggakada masalah. Kami lantas tidak berusaha mengingatkan lagi. Kami percaya orangtua dan keluarganya jauh lebih memahami si anak.
Tapi sampai usianya menjelang 3tahun, tidak ada perkembangan yang berarti yang dapat kami temui. Hingga beberapabulan berikutnya, salah seorang anggota keluarga menyampaikan bahwa Si A akhirnyamenjalani terapi wicara.
Teman Najib ini memang sangatsering bermain ke rumah. Maka dari itu saya lumayan dekat dengan keluarganya. Najibcenderung anteng dan betah berlama-lama dengannya. Mungkin saja karena Si A ini tidak mau melawan atau ngeyel denganNajib. Jadi Najib merasa nyaman-nyaman saja bermain dengannya.
Tapi, saya sering curiga jangan-jangan pembawaanSi A yang nggak mau ngeyel ini bisa jadi karena kesulitan untuk menyampaikanmaksudnya. Najib yang masih 3 tahun saja pernah mengatakan kalau Si A ini belumbisa ngomong. Begini katanya, “Buk, A itu kan gak isa omong, adi iem aja.”(maksudnya, Buk, Si A ini kan nggak bisa ngomong, jadi diam saja).

speech delay pada anak laki-laki
Saya lumayan kaget pada saatitu. Bagaimana bisa anak umur 3 tahun berpendapat bahwa temannya nggak bisangomong? Apakah memang selama bermain Si A ini terlalu diam? Atau, bisa sajaNajib pernah mengajaknya berbicara tapi dia tidak merespon balik?
Jujur, berdasarkan pengamatansaya sebagai orang tua yang juga sedang mengasuh anak sepantaran dengan Si A.Tahap perkembangan bahasanya memang jauh tertinggal dari teman-temannya. Tapisaya berusaha berbaik sangka, bisa jadi karena Si A memang sedang mengembangkankemampuan lainnya., atau bersifat pendiam. Saya yakin setiap anak memang unik,begitu pun dengan grafik tumbuh kembangnya yang bisa jadi tidak selalu sama. 
Sempat Khawatir denganPerkembangan Berbahasa Najib
Saya sendiri sempat merasakankekhawatiran dengan perkembangan bahasa pada Najib. Pengalaman mengasuh  Najwa terus terang membuat saya was-was.Karena pada usia yang lebih muda, Najwa sudah sangat terampil berbahasa.Seingat saya, menjelang ulang tahun yang pertama Najwa sudah bisa menjawabpertanyaan dengan baik dan tidak melalui masa cadel.

Speech delay pada anak
Ulang tahun Najwa yang pertama. Masih merangkak tapi sudah cerewet.
Berbeda dengan Najib yang sampaimenjelang ulang tahun kedua masih kurang jelas ucapannya. Sudah banyak ngomong,sih. Dan ketika diajak berbicara atau ditanya dia sudah merespon dengan tepat.Hanya pengucapannya yang masih tidak jelas.
Neneknya sempat khawatir sampaimenyarankan untuk mengikuti terapi. Tapi, saya pun berpikir Najib baik-baiksaja, seperti halnya ibu Si A.  Dan sayapastikan terus menstimulasi dan memantau perkembangannya.
Perkembangan Berbahasa Najwa dan  Najib pada Usia yang Sama
Saya merasa keyakinan saya ini juga tidakasal-asalan, atau untuk menenangkan hati saja. Saat itu saya banyak mencari  informasi tentang tumbuh kembang balita baikanak laki-laki maupun perempuan. Maksud saya untuk membandingkan, karena sayamelihat tumbuh kembang Najwa dan Najib cenderung berkebalikan.
Najib usia 15 bulan. Sudah suka gowes sepeda kakaknya, tapi masih belum banyak ngomong.

Pada usia 1 tahun Najwa sudahterampil berbahasa, tapi belum bisa berjalan. Sedangkan Najib sudah lebih duluberjalan, sedangkan saat usianya lewat 15 bulan dia baru banyak ngomongmeskipun belum jelas kata per kata.

Sampai hari ini, saat usia Najwa6,5 tahun dan Najib 3 tahun, perkembangan motorik kasar Najib jauh di atas Najwa pada usia yang sama. Begitu pun halnya, keterampilan berbahasa Najwa melejit,jauh di atas Najib pada usia yang sama.Berkaca pada 2 hal tersebut, saya punmenyimpulkan sendiri, bahwa bisa jadi grafik tumbuh kembang keduanya memangunik dan berbeda. Tapi, saya pastikan bahwa keduanya berada pada batas normalpola tumbuh kembang umum, sesuai batas usianya.
Setelah melihat kasus Najib, Si Adan mendengarkan curhat beberapa orang tua yang mengeluhkan anak laki-lakinya yangcenderung telat mengembangkan kemampuan berbicara atau berbahasa. Saya kemudian berpikir apa benar bahwa kasus speechdelay lebih banyak dialami anak laki-laki? Pertanyaan inilah yang kemudianmengantarkan saya pada berbagai bahan bacaan tentang speech delay dan speechdisorder pada anak.

anak terlambat bicara
Apa itu Speech Delay dan SpeechDisorder?
Speech Delay dan Speech Disorder,meskipun keduanya terdengar mirip dan sama-sama diasumsikan sebagai kasusketerterlambatan bicara pada anak. Sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Dalam salahsatu artikel yang saya baca, speech delay merupakan istilah dari keterlambatanberbicara, sedangkan speech disorder adalah gangguan berbahasa.

Berbicara dan berbahasa adalah 2hal yang berbeda. Berbicara merupakan kemampuan untuk mengeluarkan suara,sedangkan berbahasa lebih berkaitan pada arti kata dibanding suara yang dikeluarkan.Seorang anak terindikasi mengalami keterlambatanberbahasa ketika perkembangannya mengalami urutan yang sama, tapi terlambat.Sedangkan gangguan berbahasa bisa diindikasi ketika perkembangan berbahasa anaktidak sesuai dengan polanya. 

 

 

Pola di sini tentu saja mengacu pada pola tumbuhkembang anak sesuai rentang usia yang digunakan secara umum. Sedangkan masalahketerlambatan berbahasa (berbicara) sendiri, umumnya lebih sering dialamianak-anak pada usia prasekolah.

gangguan berbicara pada anak
theconversation.com
Apakah benar speech delay lebihsering dialami anak laki-laki?

Menurut salah satu penelitian,  bayi yang terpapar hormon testoteron tinggisemasa janin riskan mengalami keterlambatan dalam perkembangan berbahasa.Pernyataan ini didasarkan pada salah satu penelitian yang dilakukan denganmengukur testoteron dalam darah tali pusat dari 700 lebih bayi yang baru lahir.Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pada perkembangan bahasa mereka padatahun pertama, kedua dan ketiga.

 

Hasil penelitian menujukkan anaklaki-laki dengan paparan kadar testoteron tinggi cenderung mengalami keterlambatanberbahasa atau berbicara. Sedangkan salah satu fakta menyebutkan bahwa janinlaki-laki memiliki sirkulasi testoteron hingga 10 kali lebih tinggi dibanding janinperempuan.

Namun, efek sebaliknya ditemukanpada anak perempuan. Anak-anak perempuan yang mendapatkan paparan testoterontinggi semasa dalam kandungan mengalami penurunan resiko speech delay. (Sumber:Kompas.com)

 

Selain itu, ada perbedaan pada perkembangan otak anak laki-laki dan perempuan.  Pada anak laki-laki, bagian otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tumbuh lebih cepat. Bagian ini biasa disebut cerebellum. Sedangkan pada anak perempuan, bagian otak yang mengontrol panca indra bisa dibilang lebih sensitif ketimbang anak laki-laki.Tapi, perbedaan jenis kelamin sebenarnya tidak selalu mengindikasi tumbuh kembang anak. Karena pada dasarnya stimulasi yang diberikan orang-orang di sekitar anak akan sangat menunjang. begitu pun halnya dengan kemampuan berbicara. Anak laki-laki maupun perempuan yang sering mendapatkan stimulus, misalnya diajak berbicara atau bercerita. Cenderung tidak mengalami gangguan bicara atau berbahasa.

Berikut adalah beberapa poin yang dapat dijadikan patokan perkembangan bahasa anak usia 0 hingga 3 tahun.

gangguan berbicara pada anak

1. Usia 0 tahun / lahir : menangis2. Usia 2 – 3 bulan Menangis dengan cara berbeda dalam berbagai kondisi, mengeluarkan suara sebagai respon kepada orang tua3. Usia 3 – 4 bulan : mengoceh tidak beraturan4. Usia 5 – 6 bulanMengoceh dengan pola berulang, “mama”, “papa”, “tata”5. Usia 6-11 bulanMengoceh dengan cara meniruklan suara orang di sekitarnya, sering kali diikuti mimik wajah yang berubah-ubah.6. Usia 12 bulanMengucapkan 1 – 2 kata, mampu mengenali nama, memahami beberapa bunyi dan kata, memahami instruksi singkat dari orang-orang di sekitarnya.7. Usia 18 bulanDapat menggunakan 5 – 20 kata termasuk menyebutkan nama.8. Sampai usia 2 tahunDapat mengucapkan kalimat pendek dan sederhana yang terdiri dari 2 kata. Seperti “minta makan”, “Adik mau”, dan sebagainya. Perbedaharaan katanya semakin banyak, bisa melambaikan tangan sambil mengucapkan “da..” atau ” bye..”. Menirukan suara hewan, menggunakan kata “apa” untuk bertanya, dan “tidak” atau “nggak” untuk menolak. 9. Sampai usia 3 tahunDapat mengenali dan menyebutkan bagian tubuhnya. Menyebut diri sendiri dengan kata, saya, aku atau menyebutkan namanya. Dapat mengkombinasikan kata hingga sekitar 450 kata. Dapat merangkai kalimat sederhana. Mampu mencocokkan warna. Bisa membedakan’besar’ dan ‘kecil’. Menyukai cerita dan dapat menceritakan kembali.(Sumber : Ibu dan Balita, mommies daily, nakitagrid.id)Berdasarkan poin-poin di atas,bisa jadi anak-anak mengalami perkembangan yang lebih cepat, atau sedikit lebih lambat. Tapi, sayatetap berpatokan pada progress yang terukur dari hasil pengamatan langsung.Selama ada perkembangan dan keterlambatannya tidak terlalu jauh, saya rasamasih normal. Keterlambatan yang tidak terlalu signifikan bisa jadi disebabkan oleh sifat bawaan anak maupun pola interaksi dengan lingkungannya.Jika memang ada gangguan, maka  tugas orang tua untukmengamati lebih dalam. Apa poenyebab dan gejala yang mulai ditunjukkan. Selanjutnya, mari kita tanya dirisendiri, sudahkah memberikan stimulasi yang tepat dan berkesinambungan? Karena nggak bisa dipungkiri, ya. Stimulasi dari orang tua atau orang-orang di sekitaranaklah yang dapat merangsang kemampuan psikomotorik dan bahasanya. Tanpaadanya rangsangan, susah bagi otak anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir.Padahal otak bayi berkembang sangat cepat pada masa-masa awal kehidupannya. Benar bukan?Pada postingan kedua tentang tema speech delay nanti, saya akan membahas tentang penyebab, gejala dan stimulasi yang tepat. Jadi, jangan lupa mampir lagi ya. 😉😉Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan One Day One Post Oktober 2017 Blogger Muslimah Indonesia.#ODOPOKT4

4 thoughts on “Speech Delay dan Speech Disorder – Benarkah Lebih Sering Dialami Anak Laki-laki? (Bagian 1)”

  1. Saya gak tau apakah memang lebih banyak dialami anak lelaki atau tidak. Tetapi kalau beberapa cerita pengalaman dari beberapa teman, justru anak perempuan yang mengalami. Dan sampai dibawa terapi 🙂

  2. Anak pertama saya, perempuan, lebih duluan bicaranya daripada jalannya. Dia mulai berjalan umur 18 bulan secara tiba-tiba karena sebelumnya dia tidak latihan jalan sendiri tapi kami selalu bantu tetah. Cukup surprise waktu itu walau sempat khawatir jika anak seusianya sudah pandai berlari. Namun saya yakin jika anak itu unik, berusaha berpikiran positif. Sedangkan anak kedua, laki-laki, dia jalan lebih dulu daripada bicaranya. saat ini dia umur 20 bulan. bicara hanya 1 atau 2 kata saja, misal mama, papa, gak mau. Menyebut benda saja masih belum jelas misal pesawat bilangnya wawat,pinguin bilangnya uiwin. Saya sempat berpikir apa speech delay? Namun jika saya tanya kesana kemari baca sana sini, kebanyakan anak laki-laki memang lebih banyak jalan duluan daripada bicaranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *