PARENTING

Bicara Realita Bencana dengan Anak

Ajak anak siaga bencana

Mengajak anak siaga bencana bukanlah perkara mudah, karena jika dilakukan tanpa pendekatan sebelumnya, anak justru mengalami ketakutan. Orangtua harus menyiapkannya dengan seksama, salah satunya dengan mengajak anak berbicara realita bencana.

Berbicara realita bencana di negerinya, menjadi salah satu cara untuk ajak anak siaga bencana
Dear Najwa
Kali ini aku tidak ingin menakutimu. Tapi sebagai ibumu, aku merasa perlu untuk kembali berbicara tentang realita yang harus kita hadapi.
Naj, masih ingatkah kamu dengan simulasi tsunami dan gempa yang pernah kita lihat di Museum Merapi? Iya, aku yakin kamu masih mengingatnya. Aku lihat kamu sangat antusias kala itu. Bahkan berhari-hari berikutnya kamu masih mengajakku berdiskusi hal serupa. Yang akhirnya memaksaku membaca lebih banyak untuk melayani rasa ingin tahumu.
Setelah hari itu, aku banyak bercerita tentang posisi negeri kita yang berada dalam wilayah ring of fire. Iya, negeri kita ini berpotensi terancam gempa bumi dan letusan gunung berapi. Apalagi di Indonesia ini memang banyak gunung berapi aktif.
Jika suatu waktu ibu bercerita tentang gunung Merapi yang pernah membuat saudara-saudara sepupumu harus mengungsi, itu hanya salah satunya saja, Naj. Masih banyak gunung berapi lain yang  aktif di negeri ini.
Oh ya, kamu pasti tahu tentang gunung Lawu yang berada sangat dekat dengan rumah masa kecil ayah dan ibumu? Nah, gunung Lawu adalah salah satu gunung yang masih aktif itu. Hanya saja untuk saat ini dia sedang “tidur”. Dan ibu selalu berdoa semoga ia tak pernah bangun lagi.

Pertemuan  3 Lempeng Tektonik

Wilayah Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik
Naj, selain berada pada wilayah ring of fire, negeri kita yang elok dan tercinta ini berada pada daerah rawan karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik. 3 Lempeng itu adalah lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng pasifik. Tapi, ini bukan tentang lempeng yang biasa kita makan dengan sambel pecel itu, Naj. Bukan. Sama sekali bukan yang itu.
Lempeng yang kumaksud adalah lempeng tektonik, pecahan dari permukaan bumi yang terdiri dari segmen keras kerak bumi — yang mengapung di atas astenosfer yang cair dan panas. Karena lempeng tektonik ini mengapung, Naj, maka ia bebas “berenang” ke mana saja. Kemudian bertemu dan berinteraksi dengan lempeng tektonik lainnya.
Tapi, interaksi dan pertemuan mereka bukan hal yang disukai penduduk bumi, Naj. Karena sekali mereka bersinggungan, maka bumi ini akan terguncang. Gempa bumi hingga tsunami menjadi ancaman sekaligus realita yang harus dihadapi manusia yang bermukim di permukaannya.
Nah, sekarang  aku akan mengingatkanmu tentang bencana akibat pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Dimulai dari Aceh yang pernah memancing rasa ingin tahumu tentang kejadian kronologisnya. Melalui film “Hafalan Salat Delisa” mungkin kamu sudah melihat banyak, tapi kemudian kita memberanikan diri melihat lagi rekaman saat bencana terjadi.
Dari Aceh kemudian kita bergeser ke Jogja. Berulang kali aku bercerita padamu tentang saudara sepupumu yang lahir saat Merapi meletus pada tahun 2010. Ya, saat Merapi meletus Cila sedang berada di rumah sakit, karena usianya baru beberapa jam setelah dilahirkan.  Kemudian kami pun segera mengungsikannya dalam kondisi panik.
Oh ya, Jogja juga pernah diguncang gempa. Kala itu ibumu ini sungguh sangat beruntung. Karena aku baru saja meninggalkan Jogja pada sore harinya untuk pulang ke Magetan. Kemudian pada pagi harinya berita itu ibu terima melalui siaran televisi nasional.
Selain itu masih ada Sinabung, Nias, Mentawai, Pangandaran bahkan kita yang di Jakarta juga sempat merasakan gempa yang menggoyang Lebak, Banten. Ibu sempat panik, Naj, apalagi ayahmu berada di lantai 37. Kala itu Ibu hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan keselamatan untuk kita semua.

Ajak Anak Siaga Bencana

Kini,  belum juga habis pertanyaanmu tentang gempa di Lombok pada Agustus yang lalu. Perhatianmu kembali teralihkan dengan berita bencana Palu dan Donggala yang membawaku kembali memilih stasiun TV nasional. Berulang kali kamu bertanya mengapa gempanya bisa berpindah, dari Lombok mengapa jadi ke Palu? Apakah mungkin gempa akan berpindah ke Jakarta?
Lagi-lagi, dengan berat hati aku harus mengatakan kemungkinan ini. Karena sekali lagi, negeri elok yang kita cintai ini terletak di daerah dengan potensi bencana, tak terkecuali Jakarta.  Ketika suatu waktu ibu selalu mengingatkanmu agar tidak membuang sampah sembarangan, tentu kala itu Jakarta memang selalu siaga menghadapi banjir. Tapi kali ini, Naj, sebuah kemungkinan baru bisa saja terjadi pada kota ini. Meskipun aku dan jutaan orang yang tinggal di kota ini selalu berharap kebaikan dan keselamatan untuk kami.
Ibu cukup senang kamu sudah mulai memahami bagaimana harus melindungi diri ketika gempa terjadi di sekolah. Biasanya kamu akan mengambil tas kemudian menunduk di bawah meja . Begitu gempa mereda, berlarilah keluar dari gedung, namun perhatikan tempat sekelilingmu. Jauhi pohon besar atau tiang listrik, hindari jembatan dan sungai. Carilah tempat terbuka seperti lapangan atau halaman masjid.
Jika kamu butuh pertolongan, jangan lupa sebutkan nama orangtua dan alamat rumahmu. Pastikan nomor telepon kami tidak pernah kamu lupakan. Jika di sekelilingmu tak ada yang kamu kenal, carilah petugas  keamanan  atau kesehatan, karena dengan mereka kamu akan aman.
Tas siaga bencana
Naj, terpaksa ibu harus mengajakmu berbicara dan menyiapkanmu dengan kondisi ini, karena situasi kita yang nggak mungkin selalu bersama. Aku pun akan melakukan hal serupa, selain menyiapkan “Tas Siaga”, seperti yang dihimbau banyak pihak, aku akan berusaha menyelamatkan diri bersama adikmu. Sebelum nantinya aku akan mencarimu.
Belakangan ini, aku juga sedang memikirkan titik pertemuan dengan ayahmu. Karena tempat kerjanya yang jauh dari rumah kita, dan terkadang harus keluar kota, maka aku merasa butuh menentukan titik pertemuan untuk kita semua. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi beginilah realita yang harus kita hadapi. Jika ada yang bilang kita harus berserah diri, tentu aku pun akan setuju. Tapi mempersiapkan diri untuk menghadapi realita kehidupan adalah bagian terpentingnya.
Naj, satu lagi pesan dariku. Sebagai manusia modern kita tentu tahu bahwa bencana yang menerpa negeri ini timbul akibat berbagai gejala alam. Ya, berbekal ilmu pengetahuan kita pasti bisa mempelajarinya.
Namun, sebagai seorang ibu, aku ingin kita meyakini kuasa Tuhan. Bahwa bencana ini adalah peringatan agar kita lebih mawas diri. Tak perlu menyalahkan orang lain, atau menuding perilaku sekelompok orang yang menyebabkan Tuhan murka. Tapi tunjuklah diri kita sendiri, apakah kita sudah baik? Apakah sekiranya Tuhan suka dengan perilaku kita? Apakah sebagai manusia kita sudah merawat pemberian-Nya? Apakah kita sudah berempati dengan sesama? Yakinlah, peringatan dibuat agar manusia ampu mengintrospeksi diri.
Naj, sebenarnya memikirkan ini semua membuat kepalaku sakit. Tak henti-hentinya aku merenung dan membayangkan keluarga lain yang sekarang harus menghadapinya. Tapi sekali lagi, Naj, kita harus siap dengan segala hal. Meskipun dalam hati, aku ingin bilang kita akan baik-baik saja
Love,
Ibu yang akan mendampingimu menghadapi realita kehidupan

18 thoughts on “Bicara Realita Bencana dengan Anak”

  1. Surat cinta yng menyentuh dari BukNaj buat Mbak Naj. Wah, film Hafalan Salat Delisa juga favorit anak gadis saya. Pernah juga kami berdiskusi ttg gempa dan tsunami berawal dari film itu. Krn pas gempa Aceh, dia belum ada di dunia, emak sama bapaknya aja masih berteman doang 🙂 Good point ttg introspeksi pasca bencana: jgn menyalahkan orang lain. Duh, siapa lah kita ini bisa tau dosa2 orang?

  2. Ahhh mba damar saya sedih bacanya.. balik lg kita cuma manusia yang bisa kita siapin mungkin hanya pengetahuan saja selebihnya Allahlah yang punya kehendak atas semua yg terjadi..Saya juga masih merinding dan agak trauma krna semper ngerasain gempa lombok pas lg stay dibali kemaren.. gak kebayang klo saya bener2 lanjutin rencana saya dan suami utk ke lombok juga.. tapi Allah bener2 masih ngelindungin saya dan suami sampe kita mengurungkan niat k lombok saat itu..

  3. Peringatan dibuat agar manusia mampu mengintrospeksi diri…setuju dengan iniTak perlu menghakimi lebih baik koreksi diri dan memohon kebaikan untuk semua.Ide yang inspiratif Mbak Damar…aku belum sedetil ini ngajak bicara anak tentang kesiapsiagaan saat bencana. Padahal dulu kami pernah merasakan guncangan gempa yang lumayan saat tinggal di Sumatera Utara, waktu gempa Aceh dan Nias..Tapi waktu itu anakku masih bayi.Jadi punya ide setelah baca artikel ini, trimsss…Mengenalkan kesiagaan bencana pada anak kita, penting ternyata!

  4. Cara mencintai anak bukan hanya menyediakan fasilitas dan hadiah saja. Tetapi memberikan surat cinta seperti ini adalah salah satu bukti nyata kecintaan ibu kepada anaknya. Kelak Najwa akan membaca tulisan ini lalu ia akan datang memeluk mbak Damar. Semoga Najwa tumbuh menjadi gadis yang sehat, bahagia dan terutama menjadi anak salihah. Aamiin

  5. Masya Allah mba, ini bener banget. Anak harus paham mengenai bencana. Tas siaga itu memang perlu untuk jaga2. Karena kita enggak pernah tau kapan bencana datang. Makasih ya mba pengingatnya.

  6. Aku kok bacanya sambil terharu ya mba Damar. Inget pas gempa Jogja, bapak ibuk di rumah sendiri sedang kami anak-anak di luar kota. Atau saat gempa Tasik yang menggoncang Bandung dsk, membuat lututku gemetar seharian. Thanks for sharing gimana cara ngajak anak paham dan siaga bencana. Jadi pengen jg ngajak anak-anakku ngobrolin ini.

  7. Tulisan ini perpaduan menarik antara kasih sayang orang tua dan pengetahuan yang sangat harus diketahui anak. Karena terkadang saat bencana semua keluarga sedang tidak bersama.Makasih untuk pengetahuannya mba

  8. Mengharu biru, penuh perasaan sampai terasa banget pesan penuh cinta dari seorang ibu.Memang bukan hal mudah menghadapi bencana tapi mau bagaimana lagi ketika Allah berkehendak. Kita memang harus berusaha memberi pemahaman dengan bahasa anak-anak ya mbak. Trims mbak sangat inspiratif.

  9. Tulisan ini perpaduan menarik antara kasih sayang orang tua dan pengetahuan yang penting diketahui untuk anak. Karena terkadang saat bencana terjadi semua keluarga sedang tidak bersama. Makasih buat sharingnya mba.

  10. Sumpah ini awal baca openingnya aja, udah dalem bener nih. Inilah pentingnya pemahaman kepada orang2 tua di rumah bahwa bagaimana pun Orang tua, khususnya Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Btw, mampir ke postinganku dong. 😀

  11. Kasih ibu tak terhingga sepanjang masa, mashaAllah Mbak, aku terharu bacanya. Persiapan tas siaga dan menentukan titik pertemuan. Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita semua. Btw, makasih referensi film Hafalan Surat Delisa, sy baru inget itu kisah tsunami Aceh. Bs bahan referensi ke anak mengenai bencana alam.

  12. Membaca artikel ini saya jadi ingat dengan KH Gus Mufaqih. Kita diajarkan untuk siap, jika tinggal di tepi pantai harus tahu dan siap kapan itu pantai akan pasanga atau datang tsunami. Jika tinggal di lereng gunung, harus siap dan tahu tanda-tanda gunung itu kapan akan meletus. Jadi bukan menganggap hal itu sebagai musibah atau bencana. Karena katanya pula, gunung itu ya tugasnya meletus. Dan setelah gunung meletus akan menadatangkan manfaat yang banyak, tanah semakin subur dan material batu semakin berlimpah.Kurang lebihnya seperti itulah kesimpulan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *