TRAVELING

Piknik A la DuoNaj #4 – Edutrip Museum Air Tawar di TMII

Sepertinya DuoNaj tak pernah bosan diajak berkunjung ke TMII. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 7 Oktober,  kami sekeluarga kembali melakukan edutrip ke sana. Padahal, kalau tidak salah, pada tahun 2017 ini kami sudah lima kali mengunjungi tempat wisata kebanggaan Jakarta ini. Entah untuk acara reuni atau piknik yang memang sudah direncanakan. Atau secara tidak sengaja mampir setelah dari acara yang lain. Taman Mini biasanya menjadi tempat persinggahan ketika kami harus kelayapan di daerah timur Jakarta.

Kali ini pun sebenarnya kami tak benar-benar merencanakan untuk pergi ke sana. Awalnya suami hanya bercanda dengan ajakannya. Sedangkan saya  sendiri sebenarnya memilih di rumah saja karena pada keesokannya Najwa akan menjalani UTS di sekolah.  Tapi yang namanya DuoNaj memang doyan pikniknya nggak ketulungan. Sekali ayahnya menawarkan satu tempat, tanpa pikir panjang mereka langsung mengiyakan.

Dunia Air Tawar dan Dunia Serangga yang menjadi destinasi edutrip kali ini. Sebenarnya lagi, saya dan anak-anak juga sudah pernah sekali berkunjung ke sana. Tapi saat itu memang kami hanya bertiga saja. Sehingga kepergian kali ini murni karena menuruti keinginan suami.

 

TMII Jakarta
Menjelang tengah hari sampailah kami di area TMII. Cuaca hari itu lumayan terik, sehingga kami rehat sebentar untuk sekedar mendinginkan kepala dan wajah setelah menerjang jalanan Jakarta yang macet dan panas. Sengaja kami memilih beristirahat di pelataran Museum Tugu Api yang udaranya lebih sejuk karena banyak pohon-pohon besar yang berjejer di sekitarnya.

Mengunjungi Museum Air Tawar di TMII

 

TMII Jakarta
Setelah melihat area Musum Tugu APi semakin padat dengan pengunjung, kami berempat segera bergegas menuju Museum Air Tawar atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Dunia Air Tawar. Menjelang jam makan siang, umumnya pengunjung memang mencari tempat-tempat yang rindang, seperti di lapangan Tugu Api ini untuk menggelar tikar dan menikmati bekal dari rumah. Maka dari itu, setelah membereskan barang-barang, kami pun segera merapikan tikar sewaan dan meninggalkan tempat tersebut untuk dipakai keluarga lain yang sudah siap dengan pesta kecilnya.

Dunia Air Tawar menjadi tujuan pertama sebelum ke Dunia Serangga. Lokasi keduanya sebenarnya hanya bersebelahan, tapi untuk masuk ke Dunia Serangga, pengunjung diharuskan membeli tiket masuk yang berlokasi di loket pembelian tiket Dunia Air Tawar. Harga tiketnya Rp. 25.000,- per orang baik anak-anak maupun dewasa. Oh ya, usia 3 tahun sudah harus membeli tiket orang dewasa.

TMII Jakarta
Harga ini lumayan mahal jika dibandingkan dengan museum lain yang ada di Taman Mini. Tapi jangan khawatir, tiket masuk ke Dunia Air Tawar sudah termasuk gratis ke Dunia Serangga. Jadi pengunjung tak perlu membeli tiket yang berbeda.

Dunia Air Tawar adalah museum atau wahana rekreasi yang berupa keanekaragaman hayati dari perairan air tawar Indonesia. Wahana yang diresmikan pada tanggal 20 April 1994 ini didominasi akuarium dalam berbagai ukuran, menyesuaikan dengan ukuran dan jenis dari masing-masing ikan yang menghuninya. Menurut keterangan, simulasi dan replika ini sudah dipersiapkan sejak tahun 1992. Sampai pada akhirnya dinyatakan siap untuk menjadi wahana rekreasi, kemudian diresmikan dan dibuka untuk umum 2 tahun berikutnya.

TMII Jakarta
Lokasinya bersebelahan dengan Dunia Serangga dan satu arah dengan keong Mas. Konon, katanya taman biota air tawar ini termasuk salah satu yang terlengkap di dunia dan terbesar di Asia. Sehingga koleksinya sangat banyak, beragam dan disertai berbagai penjelasan di setiap sudut akuariumnya. Hal ini lumayan membantu orang tua untuk memberikan penjelasan secara langsung kepada anak. Tak melulu melihat dari satu akuarium ke akuarium lainnya, kami pun bisa berinteraksi dengan tanya jawab bersama anak.

Salah satu koleksi yang sangat menarik minat anak adalah jenis Arapaima yang berukuran raksasa, Cat Fish, Blind Fish, Hiu Gergaji, Dolar Fish, Ikan Buta dan Piranha yang sangat terkenal dari Sunga Amazon, Amerika Serikat.

TMII Jakarta
TMII Jakarta

Selesai mengamati seluruh akuarium, kami pun menggenapkan edutrip ke Dunia Air Tawar dengan merasakan sensasi bioskop 4 dimensi di sana. Pengunjung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 15.000, – per orang untuk merasakan pengalaman bersentuhan langsung dengan dunia animasi ikan. Bagi orang tua, sensasi bioskop 4 dimensi ini mungkin biasa saja. Tapi bagi anak-anak seumuran DuoNaj, pengalaman ini sangat menyenangkan karena mereka merasa seperti diajak masuk dan bersentuhan langsung dengan dunia  bawah laut, meskipun hanya dalam bentuk animasi.

TMII Jakarta
TMII Jakarta
Film 4 Dimensi tentang kehidupan bawah laut

Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu

Puas mengamati seluruh biota air tawar dalam puluhan akuarium dalam berbagai ukuran. Kami pun segera beralih ke museum lain yang ada di sebelahnya. Ya, edutrip pun berlanjut ke Dunia Serangga dan Taman Kupu-kupu.

Dulu, dua wahana ini dikenal dengan sebutan Museum Serangga dan Taman Kupu-kupu. tapi sekarang sebutannya diubah menjadi Dunia Serangga dan taman Kupu-kupu. Seperti halnya Museum Air Tawar yang berubah menjadi Dunia Air Tawar.

 

Dunia Serangga yang resmi berdiri pada tanggal 20 April 1993 merupakan sebuah wahana untuk memperkenalkan aneka ragam serangga. Baik asal usul habitatnya, cara hidup dan beragam ciri khas baik bentuk maupun manfaatnya.

Selama ini, bagi anak-anak pada umumnya seperti halnya DuoNaj, serangga hanyalah salah satu jenis hewan kecil, dan mereka cenderung menghindari untuk berinteraksi langsung dengan makhluk jenis ini. Alasannya kalau nggak geli ya paling-paling takut digigit. Wajar, dong, karena anak-anak kan tahunya semut, nyamuk, atau lebah yang memang memiliki kecenderungan menggigit. Nah, membawa mereka ke tempat berlibur seperti ini bisa jadi satu cara yang tepat untuk mengenalkan jenis serangga yang lain, dan tentu saja manfaatnya bagi kehidupan ini.

Misalnya kupu-kupu yang membantu penyerbukan bunga, lebah yang menghasilkan madu dan beberapa jenis serangga lain yang memiliki peranan penting bagi ekosistem ini. yaitu sebagai Dekomposer.

Serangga sebagai Dekomposer

Seperti halnya anak-anak, sebagai orang tua saya pun baru mengenal istilah dekomposer ini ketika berkunjung ke Dunia Serangga. Dekomposer atau bisa juga disebut sebagai detritivor atau pemakan bangkai. Serangga berperan sebagai dekomposer karena mereka memakan organisme mati dan atau limbah dari organisme lain. Peranan dekomposer ini sangat membantu ekosistem mendapatkan kembali siklus nutrisi dari penguraian bangkai atau limbah-limbah tersebut.

Sistem kerja dekomposer ini dengan memakan atau menguraikan bahan organik untuk kemudian mengubahnya kembali menjadi abentuk anorganik mereka. Misalnya fosfat, amonium dan karbondioksida yang terkandung dalam bangkai atau limbah.

Pengetahuan seperti ini sebenarnya lebih menarik jika dipaparkan pada anak yang sudah lebih besar. Mungkin anak usia SD kelas 3 atau di atasnya  sudah lebih mudah memahaminya. Tapi, dengan penjelasan yang dipermudah, disertai contoh riil hasil kreasi orang tua. Bukan tidak mungkin untuk si pra sekolah dapat memahaminya. setuju, kan?

Menjelang ashar, kami pun mengakhiri acara edutrip kali ini dengan destinasi terakhir Anjungan Jakarta. Karena Najwa ada rencana mengikuti lomba Tari Ondel-ondel pada akhir bulan Oktober ini, maka kami sempatkan mampir sebentar untuk melihat situasi panggung sebagai bekal berlatih di sekolah.

 

Capek, panas, tapi tak sedikit pun terlihat sebal atau bosan di wajah anak-anak. Kami pun kembali menerjang kemacetan Jakarta dengan membawa segudang manfaat bagi seluruh anggota keluarga. Selain me-refresh semangat, acara jalan-jalan di akhir pekan adalah pilihan tepat untuk memaparkan anak pada pengalaman nyata berdasarkan aneka teori yang sering mereka dengar. Kegiatan seperti ini pastinya akan jadi pengalaman yang mengkristalkan untuk mereka. Benar, kan?

4 thoughts on “Piknik A la DuoNaj #4 – Edutrip Museum Air Tawar di TMII”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *