BLOG CONTEST INSPIRASI LIFESTYLE WOMEN CORNER

Gapai Kebahagiaan Hakiki dengan Kebaikan Berbagi

Kebaikan berbagi

“Belajar dari rumah, bagaimana nasib anak-anak yang tidak memiliki orangtua?”

Pertanyaan tersebut terus berkelebat di kepala Nashihatud Diniyah Jahro, seorang ibu dengan empat orang putra yang juga aktif mendidik secara sukarela untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

Dini, begitu biasanya ia dipanggil. Seperti ibu-ibu pada umumnya yang sempat dibuat gamang dengan kebijakan belajar di rumah, Dini pun merasa resah karena memikirkan nasib anak didiknya yang tak kurang dari 8 orang untuk kelas homeschooling, sedangkan di kelas Rumah Baca Quran kurang lebih 20 anak yang pada hari-hari biasa harus dididiknya seorang diri.

Bagi Dini, belajar di rumah bukan hal yang mudah khususnya bagi anak didiknya yang tidak memiliki orangtua.

Nashihatud Diniyah Jahro (Dini), konsisten menebar kebaikan melalui jalur pendidikan

Ada cerita tentang Ulfa, gadis kecil berusia 5 tahun yang ditinggal ibunya pasca perceraian kedua orangtuanya. Ulfa kecil kini tinggal di rumah berukuran 3×5 meter bersama ayah dan neneknya yang sudah renta. Kondisi mereka sangat tidak mungkin untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh karena tidak ada fasilitas dan guru pengganti di rumah.

Ada juga kisah Azmi, laki-laki kecil berusia 7 tahun. Azmi seorang yatim semenjak ayahnya meninggal. Namun sejak saat itu pula ia ibarat yatim piatu karena keberadaan ibunya yang tidak jelas. Kini, Azmi kecil tinggal di rumah kontrakan bersama neneknya, perempuan tua yang dengan sabar mengantar jemput sang cucu untuk belajar di rumah Dini.

Bahagia itu Ketika Mampu Menebar Kebaikan pada Orang Lain

Kebaikan berbagi
Tak surut menebar kebaikan meskipun jalan tak selalu mudah

Ulfa dan Azmi adalah dua dari sekian alasan Dini untuk menyelenggarakan Islamic Homeschooling Ar Rhazes. Namun jangan dibayangkan kegiatan Dini ini meraup profit besar, karena baik rumah Quran maupun homeschooling yang diselenggarakannya berorientasi sosial. Sebagai seorang pendidik, Dini merasa terpanggil dan bertanggung jawab untuk mengamalkan ilmunya di jalur pendidikan.

Dini sadar, penyelenggaraan lembaga pendidikan memerlukan dana yang tidak sedikit. Namun demikian dia tetap maju, karena ghirah berbagi kebaikan terlanjur tak mampu dibendungnya. Jiwanya merasa tidak tenang ketika melihat anak-anak tidak mendapatkan haknya untuk mengakses pendidikan.

Di sisi lain, jalan terjal terhampar di depannya. Dini harus memutar otak untuk mencukupi biaya operasional yang tidak sedikit, karena hingga saat ini baik homeschooling maupun Rumah Baca Quran “GIAT” yang diselenggarakannya masih kesusahan mendapatkan donatur tetap.

Bagi sebagian orang, kebaikan yang dilakukan Dini terdengar sangat susah dan melelahkan. Ibaratnya, nambah-nambahi rekosone urip, karena sehari-hari pun Dini sudah sibuk dengan keempat orang putranya yang masih kecil.

Namun, tidak begitu halnya dengan apa yang dirasakan Dini. Ia merasa bahagia ketika melihat kebahagiaan terpancar dari senyum anak-anak didiknya. Baginya, sekecil apapun kebaikan yang dilakukan adalah obat atas lelah yang setiap hari mendera raga dan pikirannya. Ia percaya, Allah sudah menggariskan jalur pendidikan sebagai salah satu ladang menebar kebaikan baginya. Dini meyakini setiap kebaikan berbagi yang ia lakukan akan kembali pada dirinya sendiri.

Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Setiap kebaikan yang kita lakukan adalah sedekah. Sedangkan sedekah sendiri mengundang intervensi dari Allah untuk menyelamatkan kehidupan dengan cara-cara-Nya sendiri.

Melihat kisah Dini, memori saya kembali pada pengalaman masa kecil sekitar 30 tahun silam. Saat itu saya mengaji pada seorang Kyai yang juga guru agama dan seorang petani. Pak Juri, begitu kami memanggilnya. Meskipun menyandang status sebagai guru PNS namun Pak Juri hidup sangat sederhana karena pada saat itu gaji guru memang tidak seberapa. Apalagi Pak Juri harus menghidupi seorang istri dengan 4 orang putra dan seorang kakak.

Untuk menambal kebutuhan sehari-hari, sepulang mengajar di sebuah madrasah di desa kami, beliau pergi mengolah sawah. Mengerjakan sendiri mulai menanam, mengalirkan air, menabur pupuk hingga menyiangi. Hanya pada masa panen saja Pak Juri akan mengajak beberapa orang tetangga untuk membantu dan diberikan upah.

Dalam kondisi serba pas-pasan seperti itu, Pak Juri tidak pernah berhenti melakukan kebaikan. Setiap malam setelah salat magrib, rumahnya dibuka untuk anak-anak yang belajar mengaji. Kala itu muridnya lebih dari 20 anak. Mulai dari yang masih belajar alif, ba’, ta’. Hingga mereka yang sudah katam Quran kemudian memperdalam tajwid.

Kebaikan berbagi
Pak Juri  (paling kanan) dan keluarga. Guru ngaji yang mengajarkan bahwa setiap kebaikan adalah sedekah.

Pak Juri juga mengajak anak-anak yang sudah mahir membaca Quran untuk secara bergantian mengajari teman-temannya yang baru belajar. Tanpa sengaja, ia pun telah menularkan kebaikan berbagi kepada kami. Ia selalu mengajarkan bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan adalah sedekah. Sedangkan sedekah sendiri mengundang intervensi dari Allah untuk menyelamatkan kehidupan kita dengan cara-cara-Nya sendiri. Bahkan kerap kali, daya pikir manusia tak mampu menjangkau pertolongan yang diberikan-Nya.

Memetik Hikmah Kebaikan Berbagi yang Ternyata Kembali pada Diri Kita Sendiri

Hikmah kebaikan berbagi merupakan salah satu perjalanan ritual yang selalu membekas di hati

Pengalaman demi pengalaman bersinggungan langsung dengan kebaikan mengakumulasikan keyakinanku untuk berbagi kebaikan dengan apapun yang kumiliki, dan sebesar apapun yang bisa kulakukan.

Ilmu, keterampilan, harta yang tak seberapa, semuanya merupakan ladang kebaikan. Bahkan hal sesederhana berucap baik, bertegur sapa dengan tetangga dan orang yang kita kenal pun sejatinya telah menjadi kebaikan untuk orang lain. Namun yang lebih penting sebenarnya kebaikan itu adalah untuk diri kita sendiri.

Hikmah kebaikan berbagi merupakan salah satu perjalanan ritual yang selalu membekas di hati. Menyadari bagaimana pertolongan dari Allah selalu datang di saat yang tepat seringkali membuat hati ini bergetar hebat, tubuh merinding karena melihat keajaiban berbagi itu pasti. Mulut tak dapat berkata-kata, hanya hamdalah yang mengiringi jatuhnya bulir bening dari mata ini. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali pertolongan itu datang pada saat yang benar-benar tepat.

Saat masih kuliah dan tidak dapat membayar wisuda, pengajuan beasiswa yang sempat tidak ada kabar tiba-tiba saja cair dengan jumlah yang dirapel hingga satu tahun ke depan.

Saat kehabisan uang untuk membayar kost, seorang teman menawarkan tinggal bersama di rumahnya karena kedua orangtuanya pindah.

Saat kiriman dari orangtua macet, seorang kawan lama memberikan rekomendasi untuk menggantikannya di tempat kerja.

Bahkan sampai sekarang, setelah berumah tangga, pertolongan demi pertolongan selalu datang dari arah yang tak disangka-sangka. Pada saat anak-anak sakit, saat suami kehilangan pekerjaan, hingga saat melahirkan dalam kondisi krisis ekonomi, pertolongan itu datang meskipun tidak selalu berwujud materi.

Menebar Kebaikan pada Masa Sulit

Gambar milik: Dompet Dhuafa

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat dapur kita mengebul beriringan dengan dapur orang-orang di sekitar kita.

Setelah meyakini bahwa hikmah menebar kebaikan sejatinya kembali pada diri kita sendiri, aku pun memahami bahwa tak perlu menunggu untuk melakukan kebaikan.

Tak perlu menunggu kaya. Tak perlu menunggu longgar. Berbagi kebaikan bisa dilakukan kapan saja, bahkan saat sedang dalam kondisi sulit seperti masa pandemi corona sekarang ini. Tak terhitung berapa banyak orang di sekitar kita yang kehilangan pekerjaan. Tak sedikit yang terpaksa harus banting stir dengan usaha baru.

Sadar tak bisa berbuat banyak, aku pun mulai menggunakan keterampilan menulis yang tak seberapa ini untuk ikut mempromosikan usaha teman-teman. Memang hanya sebuah langkah kecil, tapi apapun itu semoga bisa memberi manfaat untuk orang lan.

Selain itu, aku pun mulai menyiasati kebutuhan sehari-hari dengan melibatkan orang-orang di sekitarku yang terdampak krisis pandemi. Mengalihkan belanja sembako dan kebutuhan bulanan ke toko kecil di sekitar rumah. Membeli bahan sayur dan lauk dari jualan tetangga.

Bagi sebagian orang mungkin tidak mudah ketika harus mengubah kebiasaan seperti ini. Apalagi jika berbicara diskon atau promo khusus yang tidak mungkin kita dapat dari usaha rumahan.

Tetapi, bagiku tak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat dapur kita mengebul beriringan dengan dapur orang-orang di sekitar kita.

Menebar Kebaikan bersama Dompet Dhuafa

Gambar milik: antaranews.com

Banyak hal bisa kita dilakukan dalam masa sulit ini. Tidak harus berjumlah besar namun tepat sasaran. Atau jika ingin cakupannya lebih luas, kita bisa menyalurkannya melalui lembaga seperti Dompet Dhuafa yang sudah berkhidmat dalam usaha pemberdayaan dan kemanusiaan sejak tahun 1993.

Dompet Dhuafa merupakan lembaga filantropi Islam yang mengabdi pada pemberdayaan umat dengan pendekatan welas asih dan wirausaha. Lembaga yang menaungi 27 cabang di dalam negeri dengan 200 zona layanan yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, serta 5 cabang di luar negeri dengan 29 Mitra Strategis di 22 negara ini mengelola dana Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf  dengan cara modern dan insya Allah amanah.

Pada masa pandemi corona ini, Dompet Dhuafa juga turut  menyiagakan 8 rumah sakit dan 21 klinik untuk melayani dan merujuk pasien dengan indikasi Covid-19.

Masih dalam masa tanggap bencana Corona, Dompet Dhuafa terus menebar kebaikan dengan meluncurkan program “Bersama Lawan Corona”. Program ini meliputi:

  • Paket sahur untuk tenaga medis di rumah sakit
  • Mobil Health Service: Layanan kesehatan door to door untuk kaum dhuafa
  • Pelatihan pemulasaraan jenazah  pasien Covid-19 untuk tenaga medis
  • Membantu penyelenggaraan pemakaman pasien PDP Corona oleh Badan Pemulasaraan Jenazah (BARZAH)
  • Pembagian APD untuk tenaga medis di rumah sakit
  • Pembagian sembako untuk kaum dhuafa dan pekerja jalanan terdampak pandemi corona
  • Penyemprotan cairan disinfektan di beberapa tempat dan fasilitas umum

Dengan menyalurkan donasi melalui Dompet Dhuafa kita telah turut mendukung penyebaran bantuan yang tepat guna dan sasaran. Di samping donasi tanggap bencana, kita pun bisa membayarkan zakat secara online sehingga mendukung physical distancing dan mempercepat penyalurannya untuk pihak-pihak yang membutuhkan.

Usaha menebar kebaikan yang telah dilakukan Dini, Pak Juri juga Dompet Dhuafa semoga tidak hanya menjadi inspirasi bagi kita semua. Sudah saatnya kita bergerak, tak perlu tapi atau nanti. Sekarang juga saatnya kita mengambil bagian untuk meraih kebahagiaan hakiki dengan kebaikan berbagi..

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

 

50 thoughts on “Gapai Kebahagiaan Hakiki dengan Kebaikan Berbagi”

  1. Ya Allah, sungguh mulia sekali yang dilakukan Ibu guru Dini. Semoga bisa dicontoh oleh guru-guru lain di Indonesia. kalau tidak salah ada satu guru juga yang berkeliling mengajar muridnya, guru laki-laki tapi saya lupa namanya

  2. Semoga Ibu Dini sehat selalu dan tetap istiqamah menjalankan perannya yang sungguh mulia. Berbagi kebaikan di dunia, terutama kegiatan-kegiatan berorientasi sosial mungkin tidak diganjar uang atau kekayaan di dunia, tapi insya Allah sudah pasti pahalanya melimpah untuk tabungan akhirat.

    1. Amiin. Kegiatan sosial memang terlihat susah tapi mereka yang meyakini kemudahan hidup di balik kegiatan tersebut pasti tak mau meninggalkannya.

  3. Bener banget, menebar kebaikan memang tidak harus nunggu kaya. Bu Dini dan Pak Juri hebat banget, semoga bisa menginspirasi seperti mereka

    1. Betul. Sebenarnya banyak orang-orang hebat di sekitar kita. Kita tinggal lebih jeli saja untuk menemukan inspirasinya.

  4. Yes bener banget mba. Setiap kebaikan adalah sedekah. Bahkan menyingkirkan duri dari jalan adalah salah satu kebaikan yang bikin pahala mengalir seperti sedekah. MasyaAllah

  5. Banyak sekali yang sudah dilakukan oleh Dompet Dhuafa ini ya mbak, terutama di kondisi pandemi ini. Semoga selalu amanah…

  6. sependapat mba, berbuat kebaikan nggak perlu keburu kaya, kalo kayanya masih lama lahh nggak nebar-nebar nantinya.
    dan nggak rugi juga buat berbagi sedekah atau apapun itu sama orang yang membutuhkan, insyaallah akan dilipatgandakan pahalanya. aminn

  7. sependapat mba, berbuat kebaikan nggak perlu keburu kaya, kalo kayanya masih lama lahh nggak nebar-nebar nantinya.
    dan nggak rugi juga buat berbagi sedekah atau apapun itu sama orang yang membutuhkan, insyaallah akan dilipatgandakan pahalanya. aminn ya robal alamin

    1. Betul, cukup lebih jeli melihat apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang kita miliki. Nggak selalu harus berwujud materi.

  8. semoga program dompet dhuafa benar2 bermanfaat ya kak untuk masy yg membutuhkan terlebih saat pandemi corona spti ini..sy setuju dengan prinsip setiap kebaikan adakah sedekah..semoga amalan kita jadi ladang pahala Amin YRA

  9. Aku terharu banget baca kisah ibu dini.
    Apa yang dilakukannya berpahala jariyah…
    Semoga ibu dini terus istiqomah mengajar anak-anak…

  10. Sangat menginspirasi. Kebaikan yang kita lakukan sebenarnya untuk kita. Berbagi kebaikan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dimana saja dan kapan saja. Apalagi dengan kecanggihan teknologi. Berbagi bisa dilakukan dari rumah. Seperti ikut donasi dompet dhuafa.

    1. Betul. Jaman sekarang malah jauh lebih mudah. Sekedar membantu mengiklankan produk teman dengan gadget kita juga sudah berbagi.

  11. Itulah ya, Mbak, setiap kita mengeluhkan permasalahan yang kita punya, terkadang lupa melihat ke arah lain. Saat itu kita akan merasa betapa hidup kita harus sangat bersyukur.

    Masa pandemik ini jadi momen yang sangat pas untuk banyak-banyak berbagi. Banyak orang yang tiba-tiba jatuh dalam kesusahan, sebagian besar lainnya sehari-hari malah sudah hidup susah. Semoga Allah berikan kemudahan untuk terus berbagi. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

  12. Kisahnya inspiratif sekali, mba. Pastinya bukan hal yang mudah bagi mba Dini dalam menjalankan kegiatannya tersebut. Tapi karena diiringi oleh keikhlasan hati hanya untuk menggapai ridha Illahi maka ia pun menjalaninya dengan senang hati. Semoga semakin banyak orang-orang yang mampu mengikuti jejak mba Dini dan pak Juri.

    1. Amiin. Mbak Dini ini anaknya masih kecil-kecil. PAling gede baru usia 9 tahun kalau gak salah, Tapi memang luar biasa sekali.

  13. Banyak peserta didik yang ternyata tidak bisa mengikuti belajar dari rumah melalui komunikasi jaringan. Banyak yang tidak mempunyai alat bantu yg memadai. Bukan hanya tingkat SD sih, bahkan sampai perguruan tinggi. Salut dng bu Dini, semoga sehat dan tetap semangat menebar kebaikan…

    1. Iya Mbak, Masa-masa ini memang dunia pendidikan sangat diuji. Semoga para guru dan siswa lulus dengan gemilang. Amiin.

  14. Semoga Ibu dini senantiasa dimudahkan segala urusannya sehingga tetep bisa fokus ngajarin anak2 ini ya. Kita nggak tahu kebaikan mana yg akan membawa ke surga. Pahlawan sesungguhnya ini, inspiratif

  15. Selalu mewek baca kisah – kisah orang baik yg suka berbagi,
    Salam hormat saya kepada mbak dini ya mbk Aisyah,
    Semoga selalu dilapangkan Allah rezeki beliau, aamiin

  16. Salut sama mbak Dini, Pak Juri. Setuju deh mba kalau kebaikan itu mau sekecil apa pun pasti ada balasan tak terduga dari Allah 🙂 Seneng deh dompet dhuafa programnya keren-keren, termasuk bersama lawan corona ini.

  17. MasyaaAllah sangat mengispirasi. Setuju dengan kalimat ini “Setiap kebaikan yang kita lakukan adalah sedekah. Sedangkan sedekah sendiri mengundang intervensi dari Allah untuk menyelamatkan kehidupan dengan cara-cara-Nya sendiri”. Semoga kita semua selalu diberkahi Allah dan dimudahkan dalam urusan aamiin

  18. Setuju banget k kebaikan berbagi memang harus selalu kita tanamkan dalam hidup sehari-hari. Bersama Dompet Dhuafa kita bisa berbagi untuk orang yang membutuhkan dengan berbagai layanan.

  19. MasyaAlloh berbagi kebaikan atau menebar kebaikan memang bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja ya k. Bersama Dompet Dhuafa menebar kebaikan bisa kita lakukan pada saudara seiman yang membutuhkan.

  20. Semoga bu Dini sehat selalu, kehadirannya sangat dibutuhkan anak-anak asuhnya.
    Baca kisah bu Dini saya merasa “tertampar”, beliau sambil gendong anak mampu mengasuh sekian banyak anak orang lain. Sementara saya, ngasuh 3 anak aja kadang uring-uringan

  21. Hebat Mbak Dini. Semoga selalu diberikan kekuatan dan kesabaran agar terus bisa mengelola HS-nya. Aamiin

  22. Betu mbak, kalau kita menanam kebaikan pastilah buahnya kebaikan juga. Jadi jangan pernah leleah berbuat baik.

  23. Kenaikan yang luar biasa dan itu selalu aku temui di masa kecilku mbak. Itu kenapa tekat mengajar dan berbagi selalu besar dalam hidupku. Karena ada gaji Allah yang selalu menyertai

  24. Setelah membaca artikel ini, ada satu hal yang saya baru mau coba lakukan, yaitu berbelanja di dekat rumah. Walaupun mahal tidak mengapa. Karena diniatkan sedekah walau tidak ada promo harga.

  25. Begitu banyak sosok Dini, Pak Juri dan sosok lain di luar sana yang menginspirasi serta dan menyakini jika kebaikan berbagi itu enggak pelu menunggu esok atau nanti. Karena bisa dilakukan kapan saja karena setiap kebaikan adalah sedekah yang akan kembali pada diri kita

  26. Langka orang2 spti beliau yg mengutamakan berbagi. Tapi yakinlah Allah akan membalas setiap kecil kebaikan. Smga berkah slalu ya

  27. Makin mupeng sama Dompet Dhuafa ini apalagi saat sekarang, kita dianjurkan di rumah saja, jadi bayar zakatnya tak perlu keluar rumah, bsa on line saja. Sukses terus Dompet Dhuafa

  28. Tul,aku setuju banget buat berbagi itu gak usah tunggu kita berlebih. Hanya beri apa yang kita punya sdh bisa bikin hepi.

    Semoga rantai kebaikan terus menyebar ya mba. Terlebih di kondisi spt sekarang ini ..

  29. Subhanallah, aku merasa tersentil. Tadi pagi bongkar-bongkar lemari nemu beberapa gamis yang masih utuh dalam plastiknya. Baru ingat kalau ini karena ketamakanku beli-beli baju lebaran tahun kemarin.
    Ampuni hamba yang telah berbuat mubazir Ya Allah..
    Aku langsung pasang niat, untuk membagikan baju-baju ini pada orang-orang yang membutuhkan.
    Terimakasih telah mengingatkan ya mba’

  30. Berbuat baik dlm kondisi terbatas tak membuat Bu Dini pantang menyerah ya mba. Beliau berusaha membantu anak-anak yg tak memiliki ibu sebagai pendamping saat bljar di rumah. Itu sdh panggilan hati. Btw Dompet Dhuafa juga bs mnjadi tempat buat berbagi ya. Lebih mudah krn sekarang bs online. Shingga pandemi seperti ini tdk menghalangi kita untuk berdonasi. Thx mb infonya bermanfaat…

  31. Ya Allah. Sebagai orang yang pernah merasakan hal yang sama, saya merasakan betul bagaimana pahitnya ditinggal kedua orang tua saat usia masih anak-anak. Semoga peran Bu Dini dapat menjadi pelipur lara sekaligus pelita bagi semua anak didiknya, khususnya anak-anak Yatim Piatu.

  32. Subhanallah… Sungguh luar biasa. Kisah²nya sangat inspiratif kak. Semoga kita menjadi orang yang terbiasa menebar kebaikan yaa.

  33. Bahagia itu ketika mampu menebar kebaikan pada orang lain, setuju banget. buat apa kita hidup klo ga mau berbagi,,

    bisa berbagi itu meski sedikit rasanya dihati itu enak dan lega sekaliii kok,,,luar biasa dimoet dhuafa semoga semakin byk yg berdonasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *