Uncategorized

Bersyukur Tinggal di Jakarta Timur

“Di Jakarta tinggal di mana?” begitu tanya salah seorang teman saat kami bertemu di kampung halaman.

“Di Perumnas Klender, Jakarta Timur,” jawab saya .
“Ohh, Bekasi, ya?”
“Bukan, kalau Bekasi itu masuknya planet lain Jawa Barat. Kalau Perumnas Klender sudah Jakarta, meskipun baru masuk Jakarta.
Penjelasan seperti itu nggak hanya sekali atau dua kali harus saya ucapkan pada teman atau tetangga di kampung halaman.  Bagi mereka Jakarta Timur itu Bekasi. Padahal Bekasi sudah bukan wilayah administratif DKI Jakarta melainkan Jawa Barat. Tapi nggak salah juga, sih. Karena Jakarta Timur, khususnya daerah tempat tinggal saya memang belum terlalu Jakarta. Lokasinya betul-betul di pinggir timur Jakarta. Bahkan bisa dibilang mepet dengan Bekasi Barat.
Sekilas tentang Kota Administratif Jakarta Timur
Cerita sedikit tentang Jakarta Timur, ya. Menurut Nenek Haji – tetangga depan rumah saya, Jakarta Timur itu dulunya rawa. Setelah tersentuh perluasan pembangunan kota, daerah ini kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa wilayah yang secara administratif terdiri atas 10 kecamatan dan 65 kelurahan kalau saya tidak salah dengar. Untuk daerah tempat tinggal saya sendiri termasuk di kecamatan Duren Sawit.
Luas wilayah Jakarta Timur sendiri mencapai 187,75 km persegi, atau 188,19 km persegi menurut info yang saya baca dari Badan Perencana Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Dengan wilayah seluas itu, Jakarta Timur disebut sebagai kota administratif terluas di Provinsi DKI Jakarta.
Untuk batas-batas wilayahnya sendiri di bagian utara berbatasan langsung dengan Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Bagian barat berbatasan dengan kota administratif  Jakarta Selatan. Bagian timur berbatasan dengan Bekasi, sedangkan untuk wilayah selatan berbatasan langsung dengan Depok.
Dulu, sampai dengan tahun 90’an, kantor walikota Jakarta Timur masih berada di wilayah Jatinegara Baru. Teman-teman pasti tahu, kan, Jatinegara? Iya, selain terkenal dengan stasiunnya, di wilayah Jatinegara ini berdiri salah satu lapas terbesar di Indonesia, yaitu Rutan Cipinang. Baru sekitar tahun 2000, kantor pusat aministratif Jakarta Timur kemudian dipindahkan ke Penggilingan, Kecamatan Cakung. Alhamdulillah, lokasinya juga sangat dekat dari rumah.
Berbagai Kemudahan bagi Warga Jakarta Timur
Lima tahun menetap di Jakarta. Awalnya saya pun ragu menjadi salah satu bagian dari kota megapolitan ini. Tapi kemudian saya jatuh cinta, khususnya pada Jakarta Timur dan Duren sawit yang menjadi domisili kami sekeluarga.
Memang tak ada hal-hal yang terlalu spesial hingga akhirnya saya merasa betah dan mantap ber-KTP DKI Jakarta. Tapi beberapa fasilitas pendukung aktivitas warga berikut ini, mau tak mau membuat saya mengakui bahwa tinggal di Jakarta Timur adalah pilihan tepat.
Dekat dengan Pusat Pemberhentian Transportasi Darat dan Udara
Kereta, entah itu kereta jarak jauh atau commuterline jabodetabek, merupakan moda transportasi yang kini digandrungi masyarakat. Selain anti macet, jenis transportasi yag satu ini sangat nyaman dengan tarif terjangkau untuk semua kalangan.
Saat pulang kampung ke Magetan, kereta api selalu menjadi pilihan utama. Begitu pun saat di Jakarta, mobilitas kami sekeluarga sangat terbantu dengan moda commuterline yang melintasi Jakarta dan beberapa kota tetangga.
Bersyukur tempat tinggal kami sangat dekat dengan stasiun KRL di daerah Pondok Kopi. Untuk pergi ke daerah Jatinegara pun bisa dibilang nggak jauh. Nggak sampai 30 menit dengan sepeda motor, kalau dengan KRL mungkin hanya 10 menit saja dari stasiun terdekat dari rumah.
Begitu pula dengan lokasi terminal. Semenjak fungsi dari terminal Rawamangun dipindahkan ke Pulo Gebang, semakin bersyukurlah saya karena tinggal di daerah sini. Untuk menjangkau terminal yang melayani bis antar kota dan provinsi ini, saya hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari rumah. Dekat  banget, kan? Itu sebabnya saya rajin pulang ke Magetan.
Selain itu, lokasi rumah kami juga tidak terlalu jauh dari bandara Halim Perdana Kusuma. Setidaknya dibandingkan ke Soekarno Hatta selisih waktunya tetap banyak. Meskipun bandara ini belum melayani semua rute, tapi rute penerbangan ke Solo, Yogyakarta dan Malang sudah tersedia dari sini.
Dekat dengan Pasar, Komplek Sekolah dan Pusat Pelayanan Kesehatan
Masalah jarak dari rumah ke sekolah merupakan salah satu pertimbangan kami dalam menentukan pilihan sekolah untuk anak-anak. Penginnya anak-anak bersekolah di tempat yang dekat dari rumah, sehingga tak perlu lelah di perjalanan bahkan nggak sampai macet-macetan
Kebetulan tempat tinggal kami sangat dekat dengan komplek sekolah. Mulai TK sampai SMP, banyak pilihan sekolah favorit mulai dari sekolah negeri hingga swasta. Untuk jenjang SMA juga ada. Hanya saja jika menginginkan sekolah yang lebih favorit, orangtua harus  harus rela berkendara lebih lama untuk mengantarkan dibandingkan sekolah yang biasa.
Bagaimana dengan pasar? Ya, lagi-lagi saya harus bersyukur karena dari rumah kami hingga ke pasar hanya butuh waktu 15 menit saja berjalan kaki. Di area pasar ini juga terdapat Matahari Department Store di lantai 2 dan Ramayana di sebelahnya. Mayan kan, meskipun nggak ada mall masih bisa berburu diskonan di Matahari, hehehe.
Sama halnya dengan pasar, stasiun, sekolah dan terminal. Berbagai pusat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit swasta dan pemerintah, klinik dan puskesmas semuanya dekat dengan rumah. Ya, meskipun nggak ada satu orang pun yang berdoa minta dikasih sakit, tapi perasaan lebih ayem saja karena nggak perlu berlama-lama di jalan jika kebetulan sedang terkena musibah.

Area Hijau di Sepanjang Banjir Kanal Timur
Nah, selain sarana-prasarana pendukung aktivitas warga, satu hal yang paling bikin betah tinggal di Jakarta Timur, khususnya di daerah tempat tinggal saya adalah area terbuka hijau di sepanjang Banjir Kanal Timur. Tinggal di daerah padat seperti perumnas, rasanya kami butuh sekali area terbuka dengan pemandangan hijau dan pepohonan yang rindang. Dan keistimewaan itu kini tersedia di sepanjang Banjir Kanal Timur yang melewati tempat tinggal saya.

Hanya 5 menit berjalan kaki dari rumah, pada hari libur kami selalu menyediakan waktu untuk jogging atau bersepeda di area BKT. Selain itu ada juga “Pasar Tumpah” dan senam aerobik massal yang rutin diadakan setiap weekend tiba.
Kalau sedang bosan dengan hiruk pikik Jakarta, duduk diam di area hijau ini lumayan menenangkan. Selain dapat menghirup udara yang lebih segar dibandingkan di area sekitar rumah. Di sini kami biasa melepas penat hanya dengan melihat aliran air di dalam kanal, melihat hijaunya pepohonan, atau sekedar mengikuti liak-liuk ilalang akibat tiupan angin.
Sesuatu yang sederhana, namun berbagai kemudahan ini akhirnya membuat saya dan anak-anak betah tinggal di Jakarta. Untuk pusat-pusat hiburan memang tak seberapa dekat. Tapi selama ada commuterline, maka kami nggak pernah khawatir mau pergi ke mana saja. 
Saya jadi penasaran, hal apa yang kira-kira membuat teman-teman betah di tempat tinggalnya yang sekarang? Apakah karena keramaian kotanya? Atau hal-hal sederhana seperti saya?

14 thoughts on “Bersyukur Tinggal di Jakarta Timur”

  1. Mb Darma saya dulu pernah juga tinggal di Jakarta Timur, tepatnya di Cipinang Besar Selatan. Sudah merasa menjadi bagian denyut nadi Jakarta. Tapi saat ada gejolak di tahun 1998, keluarga saya trutama ibu tidak mengijinkan saya untuk bekerja di Jakarta. Akhirnya 1999 saya pulang dan menetap di Malang hingga saat ini. Hehe…pastinya betah di Malang secara kampung halaman keluarga besarku. Nyaman dan adem hehe…Selamat ya mba betah dan sudah menjadi warga DKI yang ber-ktp…

  2. wah, penjelasannya lengkap sepertinya yah mba, meski saya belum terbayang letak daerahnya hehhehe, maklum jarang banget ke Jakarta, meskipun kantor pusat saya di Jakarta Utara, jadi klo ke JKT yah paling daerah sana aja hehehe. Thanks infonya yah mba…

  3. Yang bikin penasaran tuh "pasar tumpah" nya. Maksudnya apakah semua barang "ditumpahkan" di pasar itu untuk dijual? hehehe. Betewe dimanapun kita tinggal selayaknya dicari sisi-sisi baiknya agar kita dapat bersyukur.

  4. Hihihi kebalikan Mbak Damar, saya dan suami mengindari tinggal dekat dengan keramaian. Jadi milih di Jakarta Barat saja dengan pertimbangan hanya keluar komplek sudah pintu tol. Masih banyak ijonya jadi enggak panas dan masih seeger udaranya di sekitar rumah.Tapi, masing-masing dari kita punya pertimbangan sendiri, bukan?

  5. Saya jadi kangen dengan BSD. 9 tahun di sana membuat kami betah dengan segala fasilitas dan kemudahanannya. Namun, ternyata rezeki membawa kami keliling dari Maluku ke Palembang. 😀

  6. Saya juga dr.lahir di jkt pusat (maklum orang betawi asli). Dipusat kota yg dekat dg masjid istiqlal, ps baru, ps senen,.lapangan bantemg.dll..ee..sekarang terdamat di tangerang yg juga dikelilingi mall & mudah aksesnya kemana-mana..hehehe

  7. Wah aku dlu pernah tinggal di Condet loh mbak, juga Cililitan deket PGC. Dan kalo sore, puasa2 kadang duduk2 dipinggir BKT. Wah sekarang BKT udah hijau gt yaaaa. Jakarta timur selalu ada dihati, dan sejarah hidupku hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *