HEALTHY LIFE LIFESTYLE TIPS WOMEN STORY

Melindungi Kesehatan Mental Ibu di Masa Pandemi Covid-19

Melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19

Sosok ibu memiliki peran penting dalam memastikan ketangguhan keluarga selama masa karantina Corona. Ibu berperan untuk memenuhi kebutuhan fisik, psikis, pendidikan, sosial dan spiritual keluarga. Sayangnya terkadang mereka melupakan pentingnya melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi covid-19 ini.

Harapan besar untuk mulai beradaptasi dengan kehidupan New Normal segera sirna begitu saja ketika kelurahan kami dinyatakan zona merah Covid-19. Setelah tiga bulan bertahan di rumah dan mentaati segala peraturan terkait PSBB wilayah, nyatanya kami harus menerima kabar kemunculan cluster baru di area pasar di wilayah tempat tinggal kami. Tak tanggung-tanggung, hanya beberapa hari sejak Tes SWAB yang pertama kali dilakukan, 12 orang dinyatakan positif Covid-19.

Kadar kecemasan yang tadinya sempat menurun kini serasa meningkat kembali. Apalagi bagi saya yang selama tiga bulan terakhir ini masih beberapa kali ke pasar tersebut, termasuk saat H-4 Hari Raya. Meskipun pedagang yang terindikasi positif berada di bagian dalam pasar dan termasuk area yang jarang saya kunjungi. Namun tetap saja, perasaan cemas tak dapat disembunyikan lagi.

Sebagai ibu, saya merasakan tuntutan untuk menjadi lebih tangguh selama karantina pandemi ini. Meskipun sebelumnya saya memang Ibu Rumah Tangga dan hanya di rumah saja, namun dalam kondisi ini rasanya sungguh berbeda karena harus memastikan semuanya baik-baik saja.

Saya harus mendampingi school from home untuk kedua anak dengan kecenderungan kinestetik, memastikan rumah bersih dan nyaman, mencukupi kebutuhan pangan keluarga, menjaga kesehatan fisik dan mental, menjaga komunikasi dengan pihak sekolah dan orangtua murid lain, memastikan anak-anak tenang, bahagia dan tidak bosan. Menjaga kehidupan spiritual keluarga berjalan lancar. Bahkan sebagai freelancer, saya pun masih harus bergelut dengan deadline yang seringkali mampu mengalihkan rasa bosan. Meskipun saya akui sering juga menambah beban pikiran.

Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19

Melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19

Pada masa kritis seperti ini seorang ibu setidaknya harus memenuhi lima kebutuhan dalam keluarganya.

Kebutuhan Fisik

Pertama kebutuhan fisik yang meliputi kecukupan pangan, kebersihan pakaian dan tempat tinggal. Kecukupan kebutuhan rumah tangga lain seperti peralatan belajar dan perlengkapan kesehatan.

Kebutuhan Psikis

Kedua, kebutuhan psikis meliputi perhatian untuk seluruh anggota keluarga. Ibu dengan segala kesibukan dan pergulatan batinnya sendiri harus mampu memberikan perhatian dan hadir secara lahir batin untuk keluarga.

Kebutuhan Sosial

Ketiga, kebutuhan sosial. Dalam kondisi karantina seorang ibu tetap menjaga hubungan dengan pihak-pihak luar seperti sekolah anak, organisasi kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal dan komunitas-komunitas yang menunjang keperluan keluarga.

Kebutuhan Pendidikan

Keempat, kebutuhan pendidikan. Entah Ibu Rumah Tangga atau Ibu Bekerja, saya rasa pada masa pandemi ini semuanya memikul tanggung jawab besar dengan pendidikan anak. Kebijakan SFH mau tak mau mengembalikan tugas mendidik yang sebelumnya didelegasikan sebagian kepada guru. Sejak 3 bulan terakhir ibu kembali menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak. Ibu “dipaksa” mendidik dan mendampingi anak menyelesaikan materi di kelas.

Baca juga: Kiat Parenting di Masa Pandemi

Kebutuhan Spiritual

Kelima, kebutuhan spiritual. Tidak jauh berbeda dengan kebutuhan fisik dan psikis, naluri seorang ibu seolah terpanggil untuk memastikan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta tak pernah tertinggal. Apalagi pada masa ini di mana tempat ibadah ditutup demi memutus penyebaran Covid-19. Manusia dipaksa menghadirkan Tuhan di hati mereka, di rumah mereka dan dalam keluarga mereka.

Sekali lagi ibu sebagai Ratu Rumah Tangga memegang kendali penting untuk memastikan kebutuhan spiritual keluarga terpenuhi. Meskipun kerap kali lupa melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi ini.

Apakah seorang ayah tidak berperan dalam pemenuhan kelima kebutuhan di atas? Tentu saja ayah sangat berperan. Namun, kita harus mengakui bahwa kendali terbesar kembali lagi pada seorang ibu yang menjadi pusat energi dalam rumah tangga. Mengingat seorang ayah memiliki peran publik yang tidak kalah besar.

7 Cara Melindungi Kesehatan Mental Ibu di Masa Pandemi Covid-19

Melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19

Dalam kondisi sekarang ini, saya yakin tidak sendiri. Di luar sana pasti banyak ibu-ibu seperti saya, bahkan lebih banyak lagi yang tanggung jawabnya jauh lebih besar. Misalnya ibu tunggal, ibu yang masih harus work from home, ibu dengan lebih dari 2 anak dan masih banyak ibu-ibu lain dengan tanggung jawab besar di pundaknya. Sungguh peran yang sangat kompleks.

Sering saya berpikir, adakah yang memikirkan perasaan kami? Apakah para suami memahami lelah fisik dan psikis yang mendera tubuh dan jiwa kami? Adakah yang memikirkan bagaimana melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19 ini?

Berikut beberapa tips yang perlu diketahui setiap ibu untuk memastikan kondisi mentalnya stabil dalam melalui masa-masa sulit ini:

  • Sediakan waktu istirahat yang cukup.

Cemas, khawatir kemudian insomnia. Keadaan ini dapat memperburuk kondisi kesehatan fisik dan psikis ibu. Untuk itu, usahakan cukup beristirahat baik pada malam ataupun siang hari. Usahakan mencari waktu istirahat di sela-sela aktivitas sehari-hari. Membiasakan jam tidur malam lebih awal, kemudian bangun lebih awal juga jauh lebih baik daripada begadang hingga dini hari.

  • Usahakan melakukan aktivitas fisik di luar rutinitas sehari-hari.

Jalan pagi, zumba, yoga atau aerobik di rumah. Usahakan menyediakan waktu untuk berolahrga untuk menjaga peredaran darah lancar, tubuh berkeringat dan racun-racun dalam tubuh ikut terbuang.

  • Konsumsi makanan bergizi

Makanan bergizi tidak hanya berguna untuk menjaga imunitas tubuh namun juga memengaruhi kondisi emosional. Sediakan menu dengan nutrisi seimbang untuk asupan sehari-hari. Dan pahami bahwa asupan dengan nutrisi seimbang tidak selalu mewah namun bisa disiasati dengan bahan-bahan sederhana namun kaya nutrisi. Misalnya kelor, tahu dan tempe.

  • Menghentikan kebiasaan kurang baik

Saya pribadi mulai berhenti begadang sejak pandemi Covid-19. Selain kondisi tubuh sudah lelah pada siang harinya, saya merasakan begadang sangat menurunkan stamina pada siang hari. Selama 3 bulan terakhir ini saya memilih tidur cepat untuk kemudian bangun lebih awal sebelum waktu subuh.

  • Membatasi konsumsi media sosial

Jika memungkinkan, detok media sosial bisa menjadi cara ampuh untuk memberikan ketenangan batin. Namun jika tidak memungkinkan untuk melakukannya, setidaknya batasi penggunaan media sosial. Entah untuk sekedar melihat-lihat, bertegur sapa atau mencari informasi terkini tentang perkembangan pandemi.

Jadwalkan kapan harus melihat sosial media dan kapan harus meletakkan gawai kemudian kembali pada dunia nyata.

Baca juga: Mempersiapkan Anak dengan Kehidupan New Normal

  • Membangun rutinitas baru untuk diri sendiri

Bangun rutinitas baru di luar urusan rumah tangga dan pekerjaan. Beberapa teman saya mengaku selama masa pandemi Covid-19 ini mulai rajin memasak setelah sebelumnya menggunakan jasa catering. Tidak sedikit juga yang mengaku mulai menyisihkan waktu untuk menekuni hobi lama seperti merajut atau menggambar di sela-sela kesibukan work from home dan rutinitas rumah tangga.

Membangun rutinitas baru dapat melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19 ini. Ibu dapat menyalurkan emosi yang sedang tidak stabil atau jenuh akibat rutinitas yang setiap hari berulang.

  • Mempertahankan komunikasi dengan saudara dan teman

Karantina pandemi mungkin membatasi ruang gerak dan interaksi di dunia nyata. Tetapi tidak begitu halnya dengan komunikasi virtual baik melalui telepon, video call atau berbagai aplikasi conferencee lainnya. Tetap jaga silaturahmi dengan keluarga dan teman dekat. Tetap aktif berkomunitas meskipun secara fisik berjauhan. Mempertahankan komunikasi dan silaturahmi merupakan suatu bentuk dukungan dan kepedulian terhadap orang-orang terdekat kita.

Kesimpulannya, memiliki peran penting dan tanggung jawab yang besar pada keluarga bukanlah suatu alasan bagi seorang ibu untuk tidak memberikan perhatian bagi dirinya sendiri. Usahakan tetap sabar dan bahagia menjalani masa sulit ini. Jangan segan untuk mengambil jeda dan meminta bantuan keluarga untuk melindungi kesehatan mental ibu di masa pandemi Covid-19 yang penuh ketidakpastian ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *