TIPS

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula

Meningkatkan kepercayaan diri penulis pemula

Bagaimana cara meningkatkan kepercayaan diri penulis pemula? Pertanyaan seperti itu sangat sering kita dengar, baik saat sharing atau workshop kepenulisan. Menurut teman-teman, adakah cara jitu untuk menjawab pertanyaan tersebut?

 

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula
Di zaman status facebook bisa berlembar-lembar, caption di instagram sampai harus nyambung ke kolom komentar, saking panjangnya. Sempat kaget juga waktu ada yang merasa nggak percaya diri untuk mulai menulis. Eh, tapi emang ada, ya, yang punya masalah kayak gitu? Ya, aku pun awalnya nggak percaya. Apalagi, kalau buat aku pribadi, menulis itu sudah seperti kebutuhan sehari-hari. Meskipun nggak semua tulisan yang kubuat akhirnya tayang di blog atau media sosial.
Kadang aku memang hanya menulis di buku catatan. Isinya pun kadang-kadang cuma ide yang kebetulan melintas. Jika situasinya memungkinkan, biasanya memang aku eksekusi menjadi sebuah tulisan utuh. Hanya saja, seingatku, saat awal-awal aku menulis itu semuanya seperti spontan saja. Kadang nggak mikirin bagus atau enggaknya, atau malahan nggak sempat kepikiran, Bakalan ada yang baca atau enggak, ya?  So far, aku nggak pernah merasa harus punya stok kepercayaan diri lebih saat mulai menulis. Itu sebabnya aku sempat heran saat beberapa kali mengikuti workshop penulisan, dan pertanyaan tentang “bagaimana meningkatkan kepercayaan diri penulis pemula” ini terus saja disebut-sebut.

Tapi, aku sadar bahwa setiap orang memiliki tantangan masing-masing — dalam hal ini tantangan saat mulai menulis. Begitu pun yang dihadapi oleh salah seorang teman — yang kuketahui sangat lihai merangkai kata-kata secara lisan.
Suatu ketika temanku ini menyampaikan sedikit kegalauannya ketika ingin menulis. “Beneran, nih, nggak pede? Kenapa?” Kira-kira begitu pertanyaanku waktu itu. Aku merasa kaget saja, karena menurutku, temanku ini nggak punya satu alasan pun yang seharusnya membuat dia nggak pede. Makanya aku berusaha meyakinkan dulu sebelum kami ngobrol lebih jauh.
Dari obrolan kami yang tidak seberapa panjang itu, akhirnya topik pun mengerucut pada masalah yang membuatnya merasa tidak percaya diri. Beberapa di antaranya mungkin pernah juga kita alami saat awal-awal menulis.

3 Alasan Kurang Percaya Diri saat Mulai Menulis

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula
Pertama, merasa idenya biasa saja.
Aku langsung senyam-senyum setelah mendengar masalah yang pertama. Ya, karena sampai hari ini pun aku merasa ideku biasa-biasa saja. Malahan, mungkin udah pasaran. *ketawakecut
Misalnya saja, nih, ide tulisan tentang parenting — yang menjadi main topic di Damar Aisyah’s Blog. Coba saja searching, dalam sehari, kira-kira ada berapa ratus orang yang menulis tentang parenting? Pasti banyak. Nggak cuma ratusan mungkin malah ribuan. Tapi, ini kan ceritaku, bukan cerita orang lain. Selalu ada “taste” dalam setiap tulisan yang membuatnya memiliki cita rasa yang berbeda. Itulah sebabnya aku tetap menulis parenting, karena pengalamanku belum tentu sama dengan orang lain. Meskipun untuk suatu pembahasan sejenis.
Kedua, takut nggak ada yang baca.
Kalau aku, sih, awalnya memang menulis untuk diriku sendiri. Biar nggak semua-semua disimpan di kepala. Selain itu juga biar timeline-ku ada isinya, hehehe. Nggak seru, dong, masak punya akun tapi isinya hasil nge-share tulisan orang semua?
Jadi, sejak di awal itu memang menulis murni untuk keperluanku sendiri. Nah, saat kita mulai konsisten, kemudian orang membaca, merasa mendapatkan manfaat, mungkin di situlah titik awal seorang pemula mendapatkan pembacanya.
Ketiga, nggak bisa nulis panjang.
Oke, aku pun nggak selalu nulis panjang, kok. Tapi, bukankah tulisan yang panjang pun selalu dimulai dengan yang pendek-pendek. Misalnya, kalimat pertama. Nah, jangan-jangan kalimat pertama saja belum dibuat? Trus kapan bisa panjang?
Kedengarannya memang bukan suatu masalah yang besar. Ibaratnya, “Ya sudahlah, kalau nggak percaya diri ya nggak usah nulis. Beres masalah!” Ternyata, ya, nggak bisa gitu juga. Karena sekarang ini kegiatan tulis-menulis kayakya udah multifungsi banget.

Mengapa Butuh Menulis?

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula
Kalau dulu, aktivitas menulis memang terbatas untuk profesi dan kalangan tertentu. Misalnya akademisi, jurnalis, penulis, atau beberapa profesi yang lain. Mereka memang akrab bahkan diharuskan untuk menulis karena profesi yang dipilih. Beda misalnya sama orang-orang yang berprofesi sebagai pebisnis atau pedagang.
Tapi itu dulu, dong. Kalau sekarang, kayaknya semua profesi dekat dengan aktivitas menulis. Mengapa? Karena dunia semakin sempit dengan adanya kemajuan teknologi—yang memungkinkan arus komunikasi semakin efektif dalam bentuk pesan tertulis.
Dulu, orang berbondong-bondong belajar public speaking untuk menunjang bisnis. Sekarang pun masih, tapi mereka lebih tertarik untuk belajar menulis. Misalnya dalam bentuk pelatihan copy writing atau story telling, yang dirasa lebih efektif untuk mengejar closing. Wajar, karena jangkauan pemasaran semakin luas. Nggak ada lagi batasan-batasan wilayah semenjak arus bisnis mulai bergeser ke  ranah digital.
Apakah hanya pebisnis? Tentu saja enggak. Karena di era digital ini sebagian besar orang butuh mengomunikasikan profesi, usaha atau hobinya melalui tulisan. Tujuan utamanya tentu saja untuk berbagi pesan dan manfaat, tapi efek balik yang ditimbulkan memungkinkan terbukanya peluang dan kesempatan baru bagi seseorang.

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula

Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula
Jadi, nggak salah banget kalau kita beranggapan bahwa aktivitas menulis itu perlu dijadikan kebiasaan bahkan keahlian. Rasanya aku pun sangat bersyukur karena telah menjadikan aktivitas ini sebagai bagian dari keseharianku. Meskipun belum ahli, tapi setidaknya aku memiliki kepercayaan diri untuk terus menulis dan berbagi.
Sikap percaya diri memang sangat penting untuk dimiliki. Nggak cuma dalam hal menulis, tapi juga untuk bertahan dalam belantara kehidupan ini. Nah, khusus untuk kalian yang ingin memulai menulis, setidaknya lakukan lima hal ini agar kalian nggak perlu bilang, “Aku nggak pede , nih!”
Mulai Menulis
Kebiasaan menulis hanya mungkin terjadi jika kita mulai ‘menulis’. Begitu pun untuk meningkatkan kepercayaan diri kita. Enggak mungkin kita pengin jadi the expert kalau aktivitasnya saja belum dimulai. Begitu pula dengan rasa percaya diri. bagaimana mungkin kita ingin percaya diri jika kita saja belum pernah menulis?
Maka mulailah menulis melalui media apapun yang membuat nyaman. Nggak perlu langsung memulainya di blog atau media sosial, buku catatan kecil yang biasa disimpan di antara tumpukan baju atau di bawah bantal adalah media yang paling cocok untuk kalian yang mengaku belum percaya diri.
Menulis untuk Diri Sendiri
Seperti yang kubilang, aku mulai menulis untuk diriku sendiri. Untuk membuat lega karena bisa berkeluh kesah tanpa perlu membuat sakit telinga orang lain. Untuk mengungkapkan keindahan yang mampu ditangkap penglihatan. Bahkan untuk menyampaikan kekesalan, ketidakcocokan tanpa perlu beradu argumentasi dengan orang lain.
Semua itu kutulis dalam buku catatan pribadi. Dengan begitu aku bisa bersenang-senang saat membacanya, kemudian merobek dan membuangnya jika kurasa sudah saatnya dimusnahkan.
Untuk pemula, biasakan menulis untuk dirimu sendiri sehingga kita nggak perlu dibuat pusing dengan segala pakem menulis. Menulis dan buat diri kita senang dengan apa yang kita tuliskan.
Menulis Hal yang Paling Dekat dengan Kita
Kalau aku lebih sering menulis tentang parenting dan bukan politik, tentu karena dunia mengasuh dan segala pernak-perniknya lebih dekat dengan keseharianku. Cara ini membuatku lebih percaya diri karena menulis sesuatu yang benar-benar aku tahu. Meskipun tentu saja aku butuh studi pustaka untuk memperkuat pendapatku.
Maka dari itu penting bagi penulis pemula untuk menulis segala sesuatu yang ada di dekatnya, atau paling dikuasainya. Dengan begitu kita akan lebih lancar dalam menulis dan percaya diri dalam menuangkan gagasan. Meskipun, ada saatnya nanti kita dihadapkan pada kondisi harus menulis sesuatu yang berada di luar “lingkaran” kita. Tapi nggak perlu tergesa-gesa, karena semua ada waktunya.
Setiap Tulisan Menemui Pembacanya
Memang kayaknya sedih banget, ya, kalau tulisan kita nggak ada yang baca. Jangankan orang yang nggak kita kenal, orang terdekat kita saja belum tentu membaca tulisan kita. Awalnya memang bikin nggak percaya diri, karena kayaknya kok apa yang kita tulis itu nggak bermanfaat.
Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita ingat kembali apa tujuan awal menulis — menulis untuk diri sendiri. Dan secara tidak langsung kita akan menyadari telah mendapatkan pembaca yaitu diri kita sendiri. Seiring berjalannya waktu, selaras dengan meningkatnya rasa percaya diri dan keahlian menulis, maka bukan tidak mungkin orang mulai melirik tulisan yang kita buat.
Yang jelas pastikan dulu tulisan tersebut memang bermanfaat. Meskipun ada ribuan tulisan dengan tujuan manfaat sejenis, pastilah ada satu atau dua pembaca yang melihat tulisan kita. Biasanya hal ini terjadi karena pengalaman pribadi yang menyertai sebuah tulisan. Yang kemudian mampu membentuk keterikatan antara pembaca dengan sebuah tulisan.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula
Berhentilah Membaca jika Tak Ingin Menulis
Artinya sama saja dengan,  “Jangan berhenti membaca jika ingin menulis”.  Membaca adalah salah satu cara untuk mengakrabi aneka bentuk tulisan. Sarana mendapatkan inspirasi dan cara menyajikan sebuah tulisan. Membaca juga dapat melenturkan gaya menulis, memperdalam pengetahuan atas satu materi yang dituliskan dan memperkaya kosakata.
Sering kali aku mengalami “macet” menulis. Tapi, nggak jarang juga karena satu bahan bacaan aku harus mensyukuri ide yang meluber-luber. Nggak perlu heran, karena sejatinya setiap tulisan selalu memunculkan inspirasi. Jadi nggak salah juga jika seorang penulis sering kali mendapat inspirasi dari sesama penulis. Yang penting jangan sekali-kali melakukan plagiasi.
Pepatah bilang, “Banyak jalan menuju Roma”, begitu pun halnya dengan meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis. Ada berbagai cara yang bisa diaplikasikan. Yang lima ini pun tentunya belum seberapa dan nggak ada apa-apanya. Tapi lebih dari itu semua, yang terpenting adalah menemukan keyakinan diri bahwa kita BISA, sedangkan yang lainnya anggap saja sebagai “bumbunya”.
Aku pun nggak bisa menjamin setelah melakukan 5 hal ini kepercayaan diri kalian langsung meningkat. Tapi setidaknya coba dulu. Karena sebenarnya dengan melakukan poin pertama pun, kalian sudah mendapatkan kepercayaan diri untuk menulis 😊😊.

17 thoughts on “Meningkatkan Kepercayaan Diri Penulis Pemula”

  1. Gara-gara merasa enggak pede dan khawatir enggak ada yang baca, aku menunda-nunda ngeblog.. Padahal dah bikin dari kapan..eh baru diisi kapan.. Hiks! Bener banget segala poin di atas bisa menjadi pemicunya. Padahal kalau diingat lagi jika semua tulisan memang akan menemui pembacanya tentu tak perlu ada rasa tak percaya diri itu. ..

  2. Insya Allah aku udah pede klo nulis… #ahseek. Request dong tips pede jadi pembicara. Soalnya aku sengaja milih nulis supaya gak banyak interaksi sama org, lha kok tyt profesi ini juga menuntut hal demikian.

  3. Saya waktu mulia menulis dg menulis di buku harian. Nulis & nulis aja, sampai bisa dituangkan dimedia umum & internal kantor. Alhamdulillah PD aja sampai lahir buku antologi & solo…betul Mba..menulis perlu PD & banyak membaca sebagai sumber ide.

  4. Takut ga ada yang baca, itu ketakutan pertama aku dalam menulis apalagi dulu ada yang bilang " emang ada yang baca ya nulis kaya gitu " langsung terasa menusuk ke hati dan down seketika. Lalu mikir untuk bangkit dan mulai menulis untuk diri sendiri aja. Nyatanya memupuk rasa PD untuk nulis itu hal pertama yang harus dilakukan ya mbak

  5. Poin-poin yang mba sebutin diatas hampir pernah saya alami semua mba, emang harus balik ke diri sendiri ya, menulis untuk diri sendiri, jadinya kita juga ngga akan merasa minder..

  6. dulu juga aku nulis ya nulis aja karena aku yakin setiap tulisan akan ketemu sama pembacanya dan hal yang dekat dengan aku dunia seputar kerjaan jadi itu yang gampang aku tulis ga pake riset hahhaa dan yang parenting bener banget mba pengalaman kita beda sama org lain jadi gpp mau ada ribuan tulisan juga yg ptg kita beda rasanya

  7. Jujur mba Damar dulu waktu awal aku belajar nulis. Aku paling takut n ga PD waktu ngeshare tulisan aku di medsos apalagi di komunitas blogger gtu. Ga PD aja takut tulisan aku itu alay, atau sampah bagi orang lain hihihi. Tapi lama-lama mulai belajar memberanikan diri. Kalai sekarang jad PD 2 aja n nggak nyangka malah punya pembaca setia. Allhamdulillah kayak mimpi mba damar

  8. Kalau saya pribadi pernah berpikir gini, kayak gak ada gunanya apalagi banyak penulis baru bermunculan kok kayaknya bisa lebih dari kita. Tapi ya itu, untungnya emang ini passionku. Jadi bertarung dengan diri sendiri aja deh

  9. Aku banget nih, sering banget merasa "ntar ada yang baca ga ya?". Belum apa-apa udah kecut duluan. Thx tipsnya mbak, semoga bisa melawan semua kegalauan itu.

  10. Aku punya temen yang hobi nulis status berlembar-lembar di Facebook, sering viral statusnya. Terus, dia pernah coba nulis di blog, tapi gak bertahan lama. Balik lagi ke Facebook. Katanya di Facebook lebih rame. Mungkin pada senang menulis, medianya aja kali yang berbeda ya. Ada yang hobi nulis berlembar-lembar juga di IG stories. *wew, aku mah gak sanggup* Aku pribadi prefer nulis di blog dan media cetak.

  11. thank ya sharingnya, , dulu aku sering banget gak PEDE nulis malah saat2 udah mulai kenal banyak tulisan blogger yang keren. awal bikin blog setiap nulis enjoy bgt suka, senang, pede, smakin pede pas baru pertama kali ikut lomba blog langsung menang haha… tapi dari kepedean itu malah jatuh minder dan bingung sama jati diri blog. tapi alhamdulilah sekarang sudah pede lagi 🙂 waah ini mah jadi curhat sendiri yaak … wkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *