MOMMIES WORLD PARENTING

Mudik Hari Raya sebagai Momen Evaluasi Diri

“Sekali-kali kita coba, yuk! Hari Raya di Jakarta saja. Nggak usah mudik ke mana-mana,” begitu ucapku pada suami sambil membongkar koper pasca mudik Hari Raya.

“Memang kenapa? Kalau orangtua masih ada, mudik itu harus diusahakan,” jawab suami tanpa berpaling dari smartphone-nya.

Iya, sih. Selama orangtua masih ada, memang sayang rasanya jika tidak menyempatkan untuk mudik di Hari Raya. Pulang kampung memang bisa kapan saja. Tapi harus kuakui rasanya berbeda dengan pulang di Hari Raya. Ada perasaan haru dan rindu yang menggebu-gebu yang terkadang susah dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan yang seolah hanya kita yang tahu rasanya. Semacam kerinduan pada masa kecil dan dunia kita pada masa itu. Nggak cuma aku, mungkin teman-teman juga mengalaminya.

Itu sebabnya, meskipun mulut ini kadang berucap, “Wis ta, Yah, gak mudik juga gak popo.” Tapi entah mengapa aku selalu merencanakan mudik di Hari Raya. Mulai perencanaan bujet dan moda transportasi yang digunakan. Sampai mau ngapain aja di sana.

Urusan mudik ini memang nggak bisa diputuskan secara mendadak. Misalnya karena kami lebih memilih untuk pulang kampung dengan kereta api, maka 90 hari sebelum rencana keberangkatan mudik, kami pasti sudah berburu tiket kereta. Itu artinya, sebelum H-90 itu pun kami harus sudah menyisihkan anggaran pembelian tiket.

Ya, anggaran tiket inilah yang membuat kami tak bisa membuat keputusan secara mendadak. Tahu sendirilah bagaimana susahnya mendapatkan tiket kereta api saat lebaran. Apalagi nggak setiap tahun kami bisa mengikuti program mudik gratis seperti yang baru-baru ini menjadi rezeki kami. Jadi memang harus direncanakan dengan matang.

Itu baru urusan bujet, belum lagi acara kumpul keluarga yang kerap kali berujung pada aneka pembahasan tentang karier, pendidikan jodoh, atau urusan tambah momongan. Tema-tema sensitif seperti ini sering kali membuat seseorang harus berpikir dua kali untuk menghadiri acara silaturahmi keluarga besar.

 

Mudik dan Berbagai Pertanyaan Sensitif

Padahal, kalau dipikir-pikir tema sensitif semacam ini ya nggak pernah ada habisnya. Mulai zaman masih sekolah dulu biasanya suka ditanya masalah peringkat di kelas. Sekolahnya favorit atau enggak? Begitu kuliah bobot pertanyaan juga bertambah seperti, “Kapan wisuda?” sudah wisuda ditanya lagi, “Sudah dapat pekerjaan atau belum?” Sudah kerja ditanya lagi, “Kerjaannya mapan atau enggak? Sudah punya calon belum? Kapan nikah?” Wah, pokoknya pertanyaan seperti itu nggak bakalan ada habisnya. Bisa bikin capek kalau dipikir serius.

Hal-hal seperti ini juga yang sering kali membuat malas mau mudik. Kalau pun akhirnya berangkat, kayaknya butuh persiapan batin banget buat menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Atau, kadang kalau aku  justru menghilang saja dari acara silaturahmi keluarga besar. Lebih aman dan tenang, meskipun rugi nggak dapat silaturahminya.

Benarkah Mudik Bisa Menjadi Ukuran Kesuksesan Seorang Perantau?

Belum lagi, mudik kerap kali menjadi ukuran kesuksesan bagi perantau. Kalau mudiknya bawa kendaraan pribadi, oleh-oleh yang dibawa melimpah, sehingga bisa dibagikan pada keluarga dan tetangga, besaran angpau yang diberikan selalu meningkat setiap tahunnya. Tiga hal tersebut biasanya menjadi indikasi kesuksesan bagi seorang perantau. Meskipun masih banyak juga indikasi lainnya, yang biasanya disebarkan dari mulut ke mulut saudara dan tetangga.

Memang harus diakui, hal yang paling mudah untuk dijadikan ukuran kesuksesan seseorang seringkali masih mensyaratkan materi. Jarang sekali orang mengakui kesuksesan seseorang jika tampilan luarnya masih begitu-begitu saja. Meskipun dalam kenyataannya mungkin mereka memiliki berbagai prestasi. Bisa juga karena mereka memiliki perencanaan yang matang untuk masa depan. Atau memang sudah biasa memilih gaya hidup sederhana sebagai bentuk ketaatan pada ajaran agamanya.

Lagi pula, kesuksesan tidak selalu tampak di permukaan. Bagaimana seseorang mengalami jatuh-bangun hingga akhirnya keluar dari masalah yang membelenggunya, itu  juga kesuksesan.

Bagaimana seseorang mampu memberikan banyak manfaat bagi lingkungan atau tempat kerjanya, itu juga kesuksesan meskipun tak selalu berwujud kenaikan pangkat aau jabatan.

Bagaimana ia mampu keluar dari tekanan masa lalu? Itu sebuah kesuksesan.

Dan tentu saja bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri berarti bagi orang lain. Siapa yang menyangkal, itu pun layak disebut sebagai kesuksesan.

Ah, banyak sekali definisi kesuksesan dalam hidup ini jika kita mau lebih peka dan tidak melihat segala sesuatu dari segi materi dan tampilan saja. Tapi ya sudahlah, nikmati saja stereotip yang terlanjur berkembang di masyarakat. Yang penting kita tidak terseret ke dalamnya.

Mudik sebagai Ajang Pamer Pengasuhan

Lepas dari pertanyaan sensitif seputar tema sekolah, pekerjaan, menikah dan kapan punya momongan, enam tahun terakhir ini aku mulai dihadapkan pada pertanyaan sensitif yang berkaitan dengan pengasuhan.

Najwa minum ASI atau Sufor?

MPASI-nya kemasan atau bikin sendiri?

Giginya sudah ada berapa?

Sekolah di mana?

Oh sekolah negeri, kenapa nggak sekolah agama saja biar pinter ngaji?

Kursus apa saja?

Dan, masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin juga teman-teman terima.

Itu belum seberapa. Ketika tiba-tiba anak saudara atau tetangga menunjukkan keahlian tertentu, maka terkadang anak kita juga kena imbasnya.

“Wah, si A baru 2 tahun saja ngomongnya sudah pinter, Najib kok masih terbata-bata. Ibuknya harus lebih pinter lagi momongnya.”

“Waduh, anakmu gak bisa duduk anteng? Kok, berdiri dan mondar-mandir terus. Apa nggak nggak diajari tata-krama bertamu?”

Ngok!! langsung kunyah nastar, hahaha.

Ya emang, sih. Sebagai orangtua kami masih buanyak kekurangan. Lha kita aja juga masih belajar. Tapi bukan berarti kami abai dengan pengasuhan anak-anak, semua juga butuh proses, kan? Dan gak bisa langsung di-judge cuma karena satu atau dua kali pertemuan.

Aku pribadi sempat merasa sensi dan mudah berkecil hati. Kayak nggak percaya diri kalau mau ketemu keluarga besar atau tetangga. Apalagi statusku ibu rumah tangga, yang menurut standart umum harus JAGO dalam urusan rumah tangga. Wkwk, masak aja penuh perjuangan, temans! Status IRT pun aku masih banyak malasnya, hehehe.

 

Mudik sebagai Momen Evaluasi Diri

Untungnya itu semua sudah berlalu. Maksudnya bukan nggak ada yang tanya hal-hal sensitif gitu, tapi masa-masa menjadi perempuan atau orangtua yang mudah sensi sudah berlalu. “Bodo amat!”, kalau kata orang Betawi.

Sekarang, aku menganggap mudik sebagai momen evaluasi diri.

Apakah ada perubahan dalam diri, ibadah, pekerjaan dan keluargaku di setiap momen mudik?

Jika jawabannya tetap sama, mungkin memang ada yang salah dalam diriku. Entah itu karena terlalu nyaman dengan kondisi yang sekarang, atau justru karena terlalu malas untuk melakukan perubahan.

Begitu pun dalam hal pengasuhan. Jikalau dari tahun ke tahun tidak terlihat perubahan dalam diri anak-anak, misalnya dalam hal bersikap. Mungkin juga ada yang tidak tepat dalam cara kami mengasuh mereka. Maka sejak itu pula evaluasi perlu dilakukan.

Momen mudik tidak lagi menjadi se-menakutkan dulu (kecuali urusan bujet, ya, wkwkwk). Aku justru sangat menantikan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar, salah satunya untuk menyerap lebih banyak cerita dan pengalaman. Syukur-syukur kalau bisa jadi bahan tulisan, hahaha, maunya.

Dari ajang bersilaturahmi pula aku mulai belajar bahwa setiap orang memiliki masalah masing-masing. Berat atau ringan tentu saja hanya mereka yang tahu. Tapi, bahwa masalah bukanlah halangan bagi seseorang untuk tetap melangkah dengan pikiran positif, itu yang aku pelajari dari silaturahmi demi silaturahmi saat Hari Raya.

Momen mudik dari tahun ke tahun ibarat milestone kehidupan. Mengingat diriku yang begitu menantkan Hari Raya karena baju baru, angpau dan segala kue manisnya, seringkali membuatku tersenyum sendiri. Ternyata perjalananku sudah sangat jauh. Tapi, apakah aku sudah jauh lebih baik dari gadis kecil dalam bayanganku itu? Tentu saja hanya aku yang bisa menjawabnya.

 

2 thoughts on “Mudik Hari Raya sebagai Momen Evaluasi Diri”

  1. Sama Mba. Aku ama suami juga selalu berusaha pulang. Paling sebulan atau 2 bulan sekali kami pulang lihat ortu kami. Karena memang kebetulan deket aja cuma ke Bandung dari Tangsel.

    Mumpung suami dimutasinya msh deket. Kalau nanti dimutasi lagi jauh belum tentu kami bisa sering pulang. Paling nggak pas mudik usain pulang. Kalau jauh dari orang tua itu, kerasa banget mereka begitu berartinya karena terkadang suka bikin rindu

  2. Mudik adalah moment pertanyaan sensitif mbak itu yang aku rasakan huhu. Masih ada seringnya baper kalau ditanya kok belum isi dll. Kuingin marah. Jadinya sayangkan udah puasa sebulan penuh pas ditanya pertanyaan sensitif malah jadi emosi.

    Sampai saat ini masih seringnya baper sih mbak. Gimana caranya yah biar moment mudiknya lebih berkesan dan ditunggu-tunggu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *