LIFESTYLE

Melalui “Semesta Mata” Okky Madasari Bicara Parenting hingga Sejarah dan Tradisi Indonesia

Okky Madasari

Lekas-lekas kami berdua menaiki tangga berjalan menuju lantai delapan, tempat di mana acara peluncuran novel anak karya Okky Madasari akan dilangsungkan. Tiga puluh menit sebelumnya aku dan Najib memang sudah sampai di mall besar ini, tapi sengaja rehat ke food court dulu di lantai 5 untuk sekedar mengganjal perut, setelah 90 menit perjalanan dari rumah kami di Jakarta Timur.

Sesampainya di lantai 8, aku segera mengisi buku tamu kemudian masuk ke area pertunjukkan di Galeri Indonesia Kaya. Bersyukur kami tidak terlambat, bahkan mendapatkan tempat duduk di barisan paling depan.

 

Okky Madasari
Si cantik Tara Cherrino membuka acara peluncuran dengan dua buah lagu anak

 

Panggung di depan kami yang sedari awal hanya dihuni seorang MC cantik berbalut vest batik panjang, dalam sesaat saja berganti dengan pertunjukkan lagu dan musik yang dibawakan seorang gadis cilik. Tara Cherrino, begitu gadis cantik itu menyebut namanya. Didampingi sang papa, Tara mengawali acara ini dengan 2 buah lagu yang dibawakannya dengan apik. Sebuah lagu anak pada zamanku, dan satu judul baru yang merupakan single pertama miliknya.

Seketika itu juga kami yang hadir di sana ikut menyanyi dan menggoyangkan kepala. Suasana di ruang pertunjukan pun berubah menjadi lebih hangat dan ceria, cocok dengan sosok Matara yang menjadi tokoh dalam 2 novel anak karya Okky Madasari.

 

Pertunjukkan Dongeng oleh Kak Rona Mentari

Kehangatan dan keceriaan itu pun tak berakhir sampai di situ saja. Rupanya Okky Madasari dan tim peluncuran hari itu sangat memahami apa yang dibutuhkan tamu-tamu ciliknya. Tak hanya pementasan lagu, kami pun kembali diajak memasuki dunia kanak-kanak dengan pertunjukkan dongeng yang mengangkat kisah dari novel anak miliknya.

Petualangan “Mata di Tanah Melus” dibawakan apik dan sangat ekspresif oleh pendongeng muda Rona Mentari. Najib yang sangat menyukai pertunjukan dongeng terlihat begitu antusias, terpukau dengan ekspresi kak Rona hingga tak mengedipkan mata. Sampai-sampai, hingga hari ini pun ia masih saja memintaku menirukan gaya mendongeng seperti Kak Rona.

 

Okky Madasari
Kak Rona Mentari menceritakan petualangan Mata di Tanah Melus melalui petunjukan dongeng interaktif

 

Selayang Pandang Petualangan Mata di Tanah Melus

Bagi teman-teman yang kebetulan menjadi pembaca setia karya Okky pasti sudah tidak asing dengan kisah petualangan Matara di salah satu wilayah terluar Indonesia. Belu, ke sanalah Matara si gadis dua belas tahun melakukan perjalanan bersama ibunya. Dalam perjalanan itu, Matara mengalami banyak hal yang menakjubkan sekaligus ganjil. Tak hanya tersesat di surga kecil di Fulan Fehan, Matara bahkan harus berurusan dengan bangsa Melus yang dipercaya sebagai penghuni awal di Belu. Juga bertemu dengan makhluk-makhluk yang selama ini hanya ada di alam imajinasi anak.

Tak hanya bertutur cerita fiksi anak, dalam petualangan Mata di Tanah Melus ini Okky tak lupa menyisipkan pesan moral serta nilai-nilai kebudayaan dan tradisi yang mulai ditinggalkan. Tentang eksploitasi sumber daya alam, perburuan buaya, tentang kesenjangan yang dialami masyarakat pedalaman, serta hubungan anak dan orangtua.

Okky tak sedikit pun kehilangan jati diri atau meninggalkan gaya menulis seperti halnya pada novel-novel sebelumnya. Tapi dalam karya sastra anak pertamanya ini, pembaca akan melihat betapa ia bekerja keras memadukan keindahan alam imajinasi anak dengan realita kehidupan yang sering kali suram.

 

Okky Madasari
Okky Madasari blak-blakan tentang penciptaan Semesta Mata

 

Menyusuri penciptaan Semesta Mata

Pada acara peluncuran kemarin, Okky memberikan “bonus” untuk pembacanya. Nggak tanggung-tanggung, kami semua diajak kembali pada masa-masa riset dalam rangka penciptaan Semesta Mata. Seperti yang kita ketahui, Okky tidak main-main dengan proses penulisan dua novel anak karyanya. Latar tempat yang dipilihnya tak sekedar tempelan, tapi ia mendatangi dan meleburkan diri serta beriteraksi langsung dengan masyarakat yang menjadi latar ceritanya.

Setelah perjalanan selama 20 hari ke Belu di Nusa Tenggara Timur untuk riset buku pertama, Okky pun menyambangi Pulau Gapi di Ternate yang menjadi latar cerita buku kedua.  Dari novel ini pula baru kuketahui bahwa Pulau Gapi memiliki kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk buku ketiga yang direncanakan terbit pada Juni 2019, lagi-lagi Okky memilih wilayah Indonesia bagian timur untuk singgah dan mempelajari kultur masyarakatnya.

Wakatobi adalah pulau yang dipilih. Dalam buku ketiga nanti Okky akan mengangkat kehidupan suku Bajo yang mendiami Wakatobi dan hidup di atas laut. Untuk novel keempat ini pun Okky telah menyiapkan judul “Mata dan Manusia Laut”.  Dan rencananya, untuk novel keempat atau serial terakhir Mata ini Okky akan mengajak Matara pulang ke Jawa. Hm, jadi penasaran, nih, kota mana yang nanti akan dipilihnya.

 

Riset dan Mengasuh, Mengasuh dan Riset

Satu hal yang kerap kali membuatku dan mungkin pembaca lainnya merasa takjub adalah kehadiran Mata Diraya dalam setiap riset yang dilakukannya Okky. Gadis cilik berusia 4 tahun ini pun terlihat begitu menikmati perjalanan demi perjalanan menyertai proses penulisan karya ibunya. Sedikit pun tak nampak bosan atau kelelahan, tapi justru sangat antusias.

Aku sempat berpikir, dengan kondisi riset sambil mengasuh, apakah Okky tidak kewalahan? Sebuah jawaban mengejutkan justru terucap dari penulis 5 novel dewasa dan 1 kumpulan cerpen ini. Menurutnya, kehadiran Raya justru membuat semesta imajinasinya meluap-luap, banyak juga kejadian yang dialami Raya yang kemudian dia ambil dan masukkan sebagai bagian cerita di kedua novel anaknya.

Misalnya suatu kejadian ketika Okky singgah di Fulan Fehan. Di situ, setiap Okky ingin turun dan membuka pintu mobil, Raya selalu  menangis histeris, kemudian diam lagi ketika pintu ditutup. Menurut penduduk setempat, bisa jadi hal ini dikarenakan Okky belum “permisi”. Konon,  masyarakat setempat memiliki tradisi bahwa pendatang baru sebaiknya “permisi” dulu dengan melempar beras dan uang. Kejadian yang dialami Raya inilah yang kemudian menjadi semacam percikan ide, yang mendasari keputusan Okky untuk menjadikan Fulan Fehan sebagai pusat cerita petualangan Mata di Tanah Melus

Sekedar tambahan informasi, Fulan Fehan merupakan padang rumput luas yang berada di NTT. Menurut Okky, tempatnya sangat indah, persis seperti yang digambarkannya dalam novel Mata di Tanah Melus. Tapi memang tempat ini dianggap keramat, sehingga dalam novelnya pun Okky mengangkat sisi magis di dalamnya.

 

Okky Madasari
Kehadiran Mata Diraya banyak menyumbang ide dalam penciptaan Semesta Mata

Okky Madasari Bicara Parenting, Sejarah, Budaya dan Tradisi Indonesia

Novel anak Okky bisa dibilang beda dari kebanyakan buku cerita anak yang beredar di pasaran. Khusus untuk buku cerita lokal bergenre petualangan, Okky tidak hanya bermain dengan dunia imajinasi anak, tapi ia menggabungkan antara mitologi, kebudayaan, tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat, kekayaan daerah serta sejarah.

Misalnya tentang Pula Gapi yang kusebut memiliki kontribusi pada ilmu pengetahuan. Ternyata, di pulau inilah ilmuwan besar Britania Raya—Alfred Russel Wallace—pernah bermukim bahkan sempat berkirim surat dengan Charles Darwin. Di Pulau Gapi ini juga Wallace berhasil memetakan tumbuhan dan hewan di kawasan Nusantara yang kemudian dikenal dengan istilah Garis Wallace.

Serial Mata tidak hanya menghadirkan kisah petualangan, tapi juga cerita sejarah seperti pada saat datangnya Portugis di wilayah Kesultanan Ternate. Selain itu kisah-kisah di dalamnya selalu dibingkai dengan keindahan alam, keunikan tradisi dan budaya serta cara berinteraksi masyarakatnya.

Untuk nilai-nilai moral seperti yang selalu diharapkan ada dalam setiap cerita anak, Okky sengaja menyisipkannya dalam cerita sehingga anak tidak merasa sedang diceramahi. Sedangkan dari sudut pandang parenting, novel ini mengingatkan pembaca tentang bagaimana seharusnya orangtua bersikap pada anak. Mengajarkan tentang rasa sayang yang tak semestinya berlebihan. Keinginan yang tak seharusnya berubah menjadi egoisme orangtua. Juga kesediaan untuk mendengarkan, karena pada dasarnya anak-anak hanya butuh didengarkan. Dengan begitu mereka berharap orangtua mampu melihat dan memahami dunia tempat mereka hidup, belajar dan yang paling penting bersenang-senang.

 

Okky Madasari
“Unik”, satu kata yang kugunakan untuk menggambarkan sosok Okky Madasari sejak mengenalnya 22 tahun silam

 

Acara peluncuran sore itu sangat berkesan bagiku  juga Najib. Sampai hari ini, Najib masih saja bercerita tentang apa saja yang didengar dan dilihatnya pada sore itu. Tentang Raya yang menemani ibunya saat sesi sharing di panggung utama. Tentang Raya yang berani bercerita tentang novel ibunya. Tentang Kak Rona yang lucu dan Tara Cherrino yang suaranya bagus. Semua pengalaman ini semakin menarik minatnya untuk mendengarkan serial Mata yang kubacakan.

Serial Mata memang bergenre novel anak, tapi aku yakin siapapun dapat menikmatinya. Untuk anak dengan usia lebih muda, cara yang paling tepat untuk mengenalkan serial ini adalah dengan membacakan atau mendongengkannya. Tapi jika kemampuan membaca dan pemahaman berbahasa anak sudah mumpuni, maka biarkan saja mereka bersenang-senang dengan ilustrasi dan setiap kejutan dalam cerita.

Harus kuakui Okky Madasari out of the box dalam penciptaan Semesta Mata. Maka dari itu aku sangat merekomendasikan novel anak ini untuk kita-kita, orangtua millenial yang mengaku peduli dengan literasi anak.

32 thoughts on “Melalui “Semesta Mata” Okky Madasari Bicara Parenting hingga Sejarah dan Tradisi Indonesia”

  1. Whuaaa tercengang aku… Apalah diri ini. Memang karya yang apik dihasilkan dari perjuangan yang besar. Melihat risetnya total banget menjadikan buku ini layak best seller; artinya memang bermanfaat bagi para pembacanya.

  2. Hmm asyik banget acaramya ya mbak? Komplit ada dongeng dari kak Rona Mentari pula. Iih jadi mupeng sama bukunya. Ini dijual di toko bukukah mbak?

  3. Makasih, Mbak Damar liputannya. Bisa menjawab kepenasarananku ttg Mata dan Okky Madasari. Kebetulan juga lagi cari novel anak yang kece. Ah, ini jawabannya. Siap jajan awal bulan buat buku ini. Hehe

  4. Novelnya sepertinya menarik. Sayang, kemarin ada temannya yang mempromosikan buku ini dengan cara kurang bijak. Semoga kehadiran buku ini bisa turut membawa warna yang baik bagi bacaan anak-anak Indonesia

  5. Waduh untuk menulis novelnya sampai harus “ngungsi” u riset. Luar biasa yah…
    Belum pernah baca buku karyanya nih saya. Sepertinya bagus² yah…

  6. Wah, senengnya bisa hadir di acara seperti ini. Saya belum pernah sih baca novelnya Mbak Okky, sekadarnya baca review aja yg mengatakan bahwa novel2nya keren, penuh dg kritik sosial.
    Ternyata nulis novel anak juga ya beliau. Dari pemaparan BukNaj, kok saya jadi mupeng ini. Si kakak pasti gak nolak klo dibeliin, hehe.
    Btw, wah ada Rona Mentari. Yang ini saya udah lama tahu. Keren dia, mendongeng sambil gitaran.
    Makasih sharingnya 🙂

  7. Selalu kagum dengan penulis yang melakukan riset dengan all out seperti Okky Madasari ini. Pasti novelnya pun lebih hidup karena latarnya bukan sekedar imajinasi semata.
    Ah, jadi penasaran nih sama Semesta Mata.

  8. Ikut membayangkan petualangan Matara di desa Nusa Tenggara Timur yang penuh dengan nuansa budaya dan sejarah. Jangankan anak-anak kayaknya saya pun akan suka buku ini. Sambil menikmati petualangannya secara tak langsung kita belajar tentang tradisi dan budaya Indonesia

    1. Sebenarnya 9 tahun ke atas, Mbak. Tapi anak saya yang kecil sudah saya bacakan. Sedangkan yang besar sudah membaca sendiri. Kalau untuk yang kecil saya sering baca dan sampaikan dalam bentuk dongeng. Seru sih, jadi menambah pengetahuan.

  9. Salah satu penulis favorit Indonesia nih.. dan memang inspirasi menulis tuh mudah didapat dari anak-anak yaa.

    Makanya saya kadang suka main sama anak2 kalau kemana saja.. seru aja gitu melihat dunia dari mata mereka, dimana kita orang dewasa kadang sudah lupa seperti apa rasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *