HEALTHY LIFE WOMEN STORY

Jangan Tunda Lagi, Saatnya SADARI dan Deteksi Kanker Payudara Sejak Hari Ini!

Pemeriksaan Payudara Sendiri

Suasana haru masih meliputi keluarga jenazah saat aku datang untuk takziah di rumah duka. Pagi ini, 25 Oktober 2019, kakak perempuan  sahabat kami meninggal dunia setelah dua hari sebelumnya dinyatakan kritis. Kanker payudara tak memberinya waktu lebih lama untuk bercengkerama dengan keluarga. Begitu vonis stadium 3B dijatuhkan, hari-harinya seolah hanya menunggu waktu saja. Hingga akhirnya,pagi ini Allah SWT benar-benar memanggilnya. Innalillai wa innailaihi rojiun!

Kaget, Sedih, kehilangan yang terlalu cepat. Mungkin begitu yang dirasakan keluarga besar almarhumah. Perasaan yang sama yang sempat kurasakan sekitar 14 tahun silam. Hari itu, Budhe atau kakak perempuan Papa pun meninggal karena penyakit yang sama. Lagi-lagi, ancaman kanker payudara terasa begitu dekat dan nyata bagi kita kaum perempuan.

Pengalaman Menjadi Perempuan dengan Sejarah Keluarga Kanker Payudara

Menyadari adanya sejarah kanker payudara dalam keluarga dari garis keturunan ayah, aku pun sempat merasa khawatir ancaman serupa akan menghampiriku. Kala itu sekitar tahun 2009, saat aku merasakan adanya benjolan yang tidak biasa pada payudara kananku. Selain teraba, benjolan ini juga seperti bergerak-gerak. Memang benjolannya tidak sampai mengubah bentuk payudara. Hanya saja, saat diraba jelas terasa. Bahkan aku bisa mengira-ngira di mana posisinya.

Aku sadar ada yang salah dengan tubuhku. Aku pun tak menunda untuk menyampaikan keluhanku pada ibu. Benjolan ini memang tidak mengganggu. Tidak menyebabkan rasa nyeri atau memengaruhi kondisi fisikku. Tetapi, tetap saja sangat mengganggu psikisku. Takut dan khawatir, begitu yang kurasakan setiap hari.

Sayangnya, saat itu aku belum mengerti bahkan tidak tahu bahwa benjolan pada payudara bisa diperiksa sendiri. Aku pun membiarkan benjolan itu, sambil terus mengonsumsi air rebusan kunyit putih yang dipercaya mampu mematikan sel-sel kanker. Begitu terus sampai satu tahun berlalu.

Hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan medis pada bulan Mei tahun 2010. Tepat satu setengah bulan menjelang tanggal pernikahanku.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
USG Mammae pada tahun 2010

Melakukan Pemeriksaan Medis dengan Metode USG Mammae

Saat itu aku melakukan pemeriksaan di salah satu laboratorium di Jogja. Meskipun sudah berdomisili di Magetan, aku sengaja  melakukan pemeriksaan di Jogja karena berpikir peralatannya lebih lengkap. Dan tentu saja lebih banyak pilihan rumah sakit jika nantinya harus melakukan perawatan lanjutan.

Setelah mencari dokter bedah perempuan, melakukan konsultasi dan pemeriksaan secara manual, aku pun lagsung didaftarkan untuk USG payudara. Kebetulan sekali saat itu aku sedang tidak menstruasi dan bukan dalam masa PMS. Sehingga kondisi kelenjar payudara normal dan bisa diperiksa.

Pemeriksaan pun berjalan tidak lama. Kalau tidak salah, masing-masing payudara hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja. Sehingga jika ditotal dengan persiapan, kurang lebih satu jam kemudian hasil USG sudah disetorkan ke bagian pemeriksaan.

Delapan jam berikutnya hasil pemeriksaan sudah bisa kuambil sekaligus dikonsultasikan dengan dokter. Untuk payudara sebelah kiri memang dinyatakan normal, sedangkan pada bagian kanan memang terdapat benjolan yang berisi cairan bening yang dokter sebut sebagai kista yang timbul tenggelam. Biasanya faktor hormon yang memengaruhinya.

1 dari 9 Perempuan Memiliki Risiko Kanker Payudara

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Kanker Payudara merupakan tumor ganas dari sel-sel payudara yang tumbuh dan berkembang di luar kendali. Akibatnya, tumor ini menyebar di antara jaringan maupun organ sekitar payudara dan bagian tubuh lainnya. (sehatq.com)

Kanker Payudara memang salah satu penyebab tingginya angka kematian pada perempuan. Tidak bisa dimungkiri, memang setiap perempuan memiliki risiko mengidap kanker jenis ini. Bahkan, banyak sumber menyebutkan bahwa 1 dari 9 perempuan memiliki risiko kanker payudara.

Sayangnya, sebagian besar perempuan terkesan terlambat memeriksakan diri. Alih-alih melakukan pemeriksaan saat masih dini, mereka justru datang saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut. Kelenjar kanker sudah menyebar, proses penyembuhannya pun menjadi lebih susah. Bahkan, tak sedikit yang harapannya tipis.

Hal seperti ini sebenarnya tak perlu terjadi andai saja setiap perempuan mengetahui dan mau menyebarkan informasi terkait faktor penyebab kanker payudara. Salah satunya karena faktor risiko, di mana seorang perempuan bisa saja berada pada risiko tinggi mengidap kanker payudara, atau sebaliknya.

Memang risiko kanker payudara bukanlah vonis secara pasti. Namun ada baiknya untuk mengetahui apa saja faktor risikonya, sehingga perempuan lebih waspada dan tahu di mana posisinya.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Hasil USG Mammaeu pada tahun 2010

Penyebab Kanker Payudara Berdasarkan Faktor Risiko

Penyebab dengan Risiko Tinggi

1.Faktor genetik dan sejarah keluaga

Suatu ketika Angelina Jolie menggemparkan publik dengan keputusannya untuk melakukan masektomi. Keputusan ini diambilnya setelah ia terdeteksi mengidap gen kanker BRCA-1 dan BPCA-2. Menurut keterangan medis, keduanya merupakan gen kanker yang menyebabkan seseorang rentan terserang kanker payudara, bahkan prosentasenya mencapai 40 hingga  85 persen, dibandingkan seseorang tanpa riwayat gen tersebut. (sehatq.com)

Keputusan ini bisa dibilang bijak, mengingat faktor genetik berpengaruh pada risiko kanker payudara golongan tinggi. Baik perempuan muda atau setelah masa menopause, jika dalam keluarganya terdapat akses genetik ini, maka ada baiknya melakukan konsultasi medis.

Sejarah keluarga tidak hanya berasal dari garis keturunan ibu. Garis keturunan ayah pun perlu diwaspadai, misalnya dari adik perempuan atau kakak perempuan ayah. Jadi, sangat disarankan untuk mengetahui sejarah kanker dalam keluarga untuk bisa mengidentifikasi risikonya.

2. Radiasi

Beberapa penyakit yang mengharuskan perawatan radiasi di wilayah dada, leher dan ketiak juga termasuk dalam risiko tinggi kanker payudara.

Bersyukur jika kebetulan kita terbebas dari faktor genetik, sejarah keluarga dan perawatan radiasi yang merupakan faktor penyebab dengan risiko tinggi. Tetapi, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa setiap perempuan memiliki risiko kanker payudara dalam dirinya. Meskipun berada pada risiko sedang, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja.

Penyebab Kanker Payudara dengan Risiko Sedang

  1. Riwayat penyakit pribadi : misalnya memiliki sejarah kanker rahim.
  2. Faktor hormon: menstruasi dini, melahirkan pertama di atas usia 30 tahun, tidak memiliki anak, menopause di atas usia 55 tahun, mengonsumsi pil KB, melakukan terapi hormon.
  3. Gaya hidup: konsumsi alkohol, merokok dan obesitas, kurang olahraga.
  4. Faktor eksternal: lingkungan tidak sehat, kurang vitamin D, terpapar bahan kimia tinggi (baik dari makanan, minuman, kosmetik), mengonsumsi daging mentah, terpapar asap rokok dan sering begadang.

Penyebab Kanker Payudara dengan Risiko Rendah

  1. Perempuan berusia di bawah 55 tahun
  2. Perempuan tanpa faktor genetik atau sejarah keluarga kanker payudara
  3. Tidak pernah terdiagnosa kelainan pada payudaranya
  4. Tidak dalam kondisi obesitas dan menjalani pola hidup sehat.

Memulai Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) sebagai Tindakan Deteksi Dini

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Hasil SADARI dengan dipandu tenaga medis pada Oktober 2019

Semenjak semakin banyak yang kuketahui tentang kanker payudara dan semua faktor risikonya, aku pun semakin perhatian pada kondisiku. Aku juga mulai rajin melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau yang biasa disebut SADARI.

Hal ini kulakukan terus menerus bahkan saat aku sedang hamil dan menyusui kedua anakku. Namun sungguh menakjubkan, karena pada masa-masa hamil dan menyusui tersebut justru benjolannya tidak teraba lagi. Untuk meyakinkan diri sendiri, aku bahkan kembali melakukan pemeriksaan pada awal Oktober  yang lalu. Sekali lagi aku sangat bersyukur karena kondisinya baik-baik saja.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) merupakan cara yang paling mudah dan efektif untuk memantau kondisi payudara perempuan. Cara melakukannya pun hanya dengan tangan dan mengandalkan penglihatan untuk memantau adanya perubahan pada kondisi kulit, puting dan bentuk payudara. SADARI diharapkan bisa memberi sinyal kepada perempuan, agar jika sewaktu-waktu terjadi perubahan yang mencurigakan bisa segera diambil tindakan lanjutan.

Bagaimana Cara Melakukan SADARI?

Waktu paling baik untuk melakukan SADARI adalah beberapa hari setelah masa menstruasi berakhir. Atau, bisa juga pada hari ke-7 hingga ke-10 menstruasi. Maksudnya, jika pada hari ke-7 atau ke-10 menstruasi belum berakhir, maka pemeriksaan tetap bisa dilakukan. Sebaliknya, jika SADARI dilakukan menjelang masa menstruasi justru tidak efektif, karena pada umumnya kondisi kelenjar payudara perempuan menegang pada periode tersebut.

Oh ya, untuk melakukan SADARI kita cukup bertelanjang badan dari batas pinggang ke atas. Pastikan kondisi penerangan baik sehingga payudara terlihat jelas. Begitu pun dengan cermin yang digunakan.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Cara melakukan Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

 

Perubahan Payudara yang Patut Diwaspadai

Berdasarkan penjelasan dokter pada saat pemeriksaan payudara yang terakhir kali kulakukan, benjolan pada payudara memang bisa saja disebabkan oleh berbagai hal, dan tidak semuanya mengarah pada penyakit berbahaya. Tetapi, 1 dari 10 benjolan memang bisa saja bersifat kanker. Untuk itu harus tetap diwaspadai karena penanganan yang terlambat bisa berdampak lebih serius.

Oleh sebab itu,  beberapa perubahan pada payudara harus tetap diwaspadai untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Perubahan tersebut meliputi:

  1. Benjolan teraba dan keras pada payudara atau ketiak
  2. Perubahan pada permukaan kulit payudara yang ditandai dengan keriput atau terlihat cekung.
  3. Perubahan pada ukuran dan bentuk payudara.
  4. Keluar cairan dari puting tapi bukan ASI
  5. Keluar darah dari puting.
  6. Terdapat bagian puting yang memerah dan lembab serta tidak kunjung berubah seperti sedia kala.
  7. Puting melesak  ke dalam
  8. Terdapat ruam di sekitar puting.
  9. Sakit atau nyeri berkelanjutan pada puting.

SADARI perlu dilakukan secara rutin, terlebih jika kita termasuk dalam kategori perempuan dengan risiko tinggi kanker payudara.  Selain itu, mungkin perlu juga dilakukan pemeriksaan klinis. Misalnya melalui USG Payudara seperti yang pernah kulakukan, Mammografi atau MRI.

Breast Cancer Awareness Month

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Yuk, lakukan SADARI sekarang juga!

Tepatnya sejak tahun 1985, bulan Oktober rutin diperingati sebagai Breast Cancer Awareness Month atau bulan peduli kanker payudara se-dunia.

Dalam rangka ikut berpatisipasi menyebarkan informasi risiko kanker payudara, dan bagaimana melakukan deteksi dini melalui SADARI. Maka tulisan ini aku persembahkan khusus sebagai bentuk kepedulianku terhadap seluruh perempuan dengan risiko sejenis.

Sebagai perempuan yang memiliki sejarah kanker payudara dalam keluarga, aku tak mau ada perempuan lain yang terlambat melakukan pengobatan, seperti halnya Bibi dan juga kakak perempuan sahabatku. Aku berharap setiap perempuan peduli dan mau melakukan SADARI sehingga bisa melakukan deteksi lebih dini.

Teman-teman pun bisa berpatisipasi dalam Breast Cancer Awareness Month, salah satunya dengan cara berdonasi. Hal serupa juga dilakukan oleh salah satu brand bra ternama, yaitu Wacoal. Di mana Wacoal ikut mendukung bulan kanker payudara dengan menyediakan kotak donasi di toko Wacoal.

Nah, teman-teman, semoga dengan sedikit informasi dan pengalamanku ini kalian pun jadi lebih peduli dan rutin melakukan SADARI. Karena kalau tidak kita sendiri yang peduli, mau nunggu siapa lagi? Yuk, lakukan SADARI dan ajak perempuan lain untuk melakukannya sejak hari ini!

 

“Breast Cancer Blogger Perempuan Movement, in Collaboration with Wacoal”

 

Referensi:

1. Pendampingan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) oleh Puskesmas Malaka Jaya

2. sehatq.com

3. alodokter.com

4. Konsultasi risiko kanker payudara dengan dokter spesialis

5. Pengalaman pribadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

38 thoughts on “Jangan Tunda Lagi, Saatnya SADARI dan Deteksi Kanker Payudara Sejak Hari Ini!”

  1. Berkat SADARI, anakku ya ketahuan ada benjolan. Lapor ke aku, trus ke dokter deh. Waktu itu tingkat I. Cek sana-sini, akhirnya diputuskan diangkat aja benjolannya, FAM (fibroadenoma mamae). Kelenjar jinak sih. Alhamdulillah, gpp. Msh bisa menyusui smp 2 thn.
    Memang engga boleh lalai sih, jangan anggap sepele benjolan…

    1. Alhamdulillah segera terdeteksi ya, Mbak. Memang lebih aman kalau segera tahu dan diambil tindakan medis. Mumpung belum kenapa-napa

  2. Pas baca ini jadi inget lagi kalo aku juga punya benjolan di pd kiri dekat puting. Tidak pernah membesar sejak 15tahun lalu, baru akhir-akhir ini kerasa nyut-nyut, apa karena sedang menyusui ya mb? kira-kira perlu ga ya aku konsultasi ke onkologi?

  3. Aku nih tukang lalai. Males ngaca, malu lihat timbunan lemak sana-sini hehehe kayanya tambah usia kudu lebih perhatian sama tubuh sendiri. dan bisa dimulai dari payudara. mending di periksa sendiri sekarang ketimbang nanti tapi orang lain yang periksa

  4. aku dah pernah ikut pemeriksaan gratis waktu ada seminar tentang kanker payudara. alhamdulillah hasilnya baik.
    semoga dengan sadari, resiko kanker payudara bisa terdeteksi lebih dini dan terhindar dari resiko kematian.

  5. Kanker Payudara ini tahu-tahu sudah ada dan biasanya kalo udah kedeteksi, tahu tahu udah stadium 3 .. hiks adik iparku begitu soalnya

    bersedekah sebanyak banyaknya dan berdoa Insya Allah dibebaskan dari penyakit mematikan ini amiiin

  6. AKu belum pernah mamografi, mba. Penasaran banget mau nyoba dan berharap hasilnya bagus . Penyadaran tentang bahaya kanker payudara ini harus slalu digiatkan ya mba 🙂

  7. Wah aku baru tau mba Damar pernah punya pengalaman sama payudara ya.. untungnya gakpapa yo mba.. sehat sehat terus ya…
    Emang nek wong wedok itu harus rajin periksa organ-organ tubuh yang penting ya, biar nggak kecolongan kalo ada apa2

  8. Yuni pernah diberi tahu untuk rajin-rajin memeriksa payudara sendiri untuk mengantisipasi kanker payudara. Cuma yuni suka lalai. MashaAllah, harusnya yuni patuh ya. Memang sih tidak ada riwayat dalam keluarga. Hanya saja untuk berjaga-jaga kan tidak ada salahnya.

    Terima kasih Mbak Damar atas informasinya. Bisa jadi pengingat diri sendiri.
    Hehehe

  9. Saya masuk dalam kelompok risiko tinggi mbak, karena bapak saya meninggal karena kanker tenggorokan. Thanks banget artikelnya mengingatkan saya untuk lebih peduli kesehatan diri, harus mulai lakukan SADARI dan cek ke dokter nih. Thanks sekali lagi

  10. Setelah kanker serviks, kanker payudara memang jadi momok bagi banyak perempuan, ya. Dulu, tetangga saya juga ada yg wafat gara-gara kanker payudara ini. Sudah stadium lanjut. Ya, seperti itulah PR-nya. Masih banyak yg malu untuk curhat tentang “kelainan”-nya apalagi memeriksakan diri spt BukNaj. Kadang, minimnya dokter perempuan juga jadi alasan rasa malu ini.

    Tulisan bagus ini. Kita memang sebaiknya tahu tentang faktor risiko dan mulai aware dengan SADARI. Sip.

  11. Setelah baca artikel mbak ini, saya bertekad untuk lebih rajin sadari dengan benar.
    Saya dulu waktu kuliah, pernah mendapati benjolan di payudara kiri saya. Kemudian dioperasi.kata dokter fam. Tidak bahaya sih.
    Tetapi saya rasa lebih aware lebih baik, lebih baik mencegah dan rajin sadari daripada terlambat

  12. Mama saya mengidap kanker payudara dan meninggal tahun 1988. aterima kasih kembali mengingatkan pola hidup sehat dan melakukan SADARI melalui tulisan ini, Mbak Damar.

  13. Kalau udah ngomongin kesehatan dan kanker gini emang kita sebagai perempuan harus banget waspada ya mbak. Sadari ini emang penting banget seh untuk mencegah sesutu buruk terjadi. Jadi jangan sampai sudah besar baru sadar.

  14. Sadari ini emang penting banget ya mbak buat kita perempuan ini. Karena emang kanker payudara sangat lekat dan dekat dengan kita seh. Dan jika kita selalu memeriksakan sendiri payudara kita, jadi sedini mungkin penyakitnya bisa dideteksi dan ditangani agar tidak terlambat

  15. Iya ya, Mak. Memang harus lebih aware sama tubuh kita sendiri. Ga boleh cuek kalau ga mau kena penyakit beresiko tinggi. Saya juga saking khawatirnya krn ibu kmrn meninggal krn kanker PD, jadi rajin SADARI nih.

  16. Pertama kalo melakukan sadari langsung berasa ada benjolan di payudara kiri. Langsung ke dokter. Awalnya ke dokter umum, dan di rujuk ke dokter bedah. Aku pun sempat melakukan usg mamae. Alhamdulillah hasil baik. Bukan positif kanker atau tumor melainkan hanya kelenjar. Tapi dari situ aku kadi agak jaha pola makan. Yaa meskipun sering khilafnya juga. Hahaha

  17. Aku takut banget kalau bahas penyakit kanker payudara ini mom soalnya temenku ada yang kena apalagi sampai meninggal.. Sedih aku

  18. Beberapa tahun lalu, aku juga sempat gunakan USG mamae.
    Alhamdullilah hasilnya negatif.

    Setuju, sadari secara dini bisa menolong kita menemukan solusi lebih dini.
    Waktu memang sangat menentukan kalau untuk penyakit kanker ya, mba
    Lebih cepat diketahui lebih cepat juga dicari solusi

  19. Alhamdulillah mampir ke blog mbak damar jadi nambah pengetahuan nih. Penting banget kampanye sadari ini ya mbak, terutama mengetahui waktu waktu yang pas untuk melakukan pengecekan. Jadi belajar lagi aku.

  20. Aku tiap kali medical check up jika menjalani USG Mammae/ Dan setuju tindakan deteksi dini itu perlu. Semoga sosialisasi untuk pencegahan dan penanganan kanker payudara makin meluas dan informasi menyebar ke banyak perempuan di Indonesia.

  21. Semoga senantiasa diberi kesehatan yaa, kak..
    Aku berdoanya ituu aja.
    Dan melakukan SADARI agar paham ketika ada yang gak beres sama tubuh kita.
    Idealnya dilakukan pengulangan berapa kali dalam kurun waktu tertentu, kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *