PARENTING WOMEN CORNER

Kebaya dan Kain Jarik adalah Simbol Kelembutan, Bukan Ketidakberdayaan

Pendidikan untuk perempuan

Najwa sangat antusias karena untuk pertama kalinya ia akan mengikuti peringatan Hari Kartini di sekolahnya. Bertepatan dengan Hardiknas pada tanggal 2 Mei nanti, sekolah Najwa akan menyelenggarakan karnaval budaya untuk meramaikan dua peringatan tersebut. Nah, seperti karnaval pada umumnya, anak-anak diperbolehkan memakai baju daerah, profesi atau baju muslim karena karnaval kali ini sekaligus untuk menyambut bulan Ramadan yang tinggal menghitung hari.

Siang itu ketika pengumuman dari sekolah kuterima di grup WA orangtua, Najwa langsung memutuskan kostum yang akan dikenakannya. Baju kebaya dengan kain jarik, lengkap dengan sanggul khas Jawa ia pilih untuk acara karnaval nanti. Awalnya aku masih merayunya untuk memilih kostum yang lebih sederhana. Misalnya baju muslim atau pakaian profesi yang bisa diakali tanpa harus menyewa. Tapi Najwa bergeming dengan pilihannya. “Sekali-kali gitu lho, Buk. Aku juga pengin pakai baju kebaya, biar punya kenangan,” begitu ia bilang.

Akhirnya, baik aku maupun Pak Bas mengiyakan pilihannya. Kalau dipikir-pikir, ya memang nggak ada salahnya, sih. Lha wong sesekali ini, yang penting makna perayaan Hari Kartini disampaikan pada anak-anak.  Qadarulloh tetangga kami perias dan memiliki persewaan baju adat. Kami pun bergegas ke sana untuk memilih dan memesan kostum yang nantinya bakal digunakan.

Jangan Berhenti pada Euforia Kebaya dan Kain Jarik

Setidaknya sampai tahun lalu, perdebatan tentang perlu atau tidaknya peringatan Hari Kartini dengan “pesta kostum” seperti ini masih ramai diperbincangkan. Ada yang pro, karena momen seperti ini jarang terjadi pada anak. Selain itu kernaval budaya seperti ini juga perlu untuk mengenalkan keberagaman Indonesia dengan berbagai ada dan budayanya.¬† Tapi, ada juga yang kontra, karena peringatan Hari Kartini semestinya lebih pada makna dan langkah nyata bukan hal-hal simbolis semata.

Apapun itu aku setuju keduanya. Makanya aku tetap oke dengan pemilihan kostum Jawa, tapi tak lupa tetap beri pemahaman pada anak mengenai perjuangan R.A. Kartini.

Kartini memang tidak sekedar pakaian yang dikenakannya. Tidak sebatas kebaya, kain jarik atau sanggul yang menampilkannya sebagai sosok yang sederhana, konvensional, lemah dan tidak berdaya.

Bukan. Bukan itu semua. Karena kenyataannya Kartini cerdas dan berwawasan luas. Di zaman yang serba terkekang. R.A. Kartini mendobrak tembok-tembok pingitan dengan buku dan surat-menyurat. Ia tak hanya melahap berbagai bahan bacaan, tapi bertukar pikiran dengan teman-temannya sehingga tetap mengikuti perkembangan dunia luar. Kartini adalah perempuan pejuang literasi.

Kartini sama sekali tidak lemah dan pikirannya tak pernah terkungkung seperti raganya. Ia juga bukan perempuan tak berdaya, meskipun langkahnya lemah di balik kain jarik yang membebat kakinya. Tapi pemikirannya jauh ke depan. Kartini bukan perempuan biasa di zamannya.

Secara simbolis, aku pun kurang setuju jika peringatan kelahiran Kartini hanya diisi dengan euforia berkebaya. Perempuan masa kini harusnya lebih maju sejak dalam pikiran. Apalagi tantangan Kartini masa kini jauh lebih besar. Tidak hanya pingitan, kekangan, dan keterbatasan kesempatan. Tapi pandangan miring bahkan dari sesama perempuan merupakan tantangan terbesar yang seringkali melemahkan.

 

Perempuan dan Pendidikan Merupakan Dua Hal yang Saling Terikat

Jika Anda mendidik laki-laki, berarti Anda mendidik seorang (person). Tapi jika Anda mendidik perempuan, maka Anda telah mendidik seluruh anggota keluarga.

Kita semua, kaum perempuan pasti sudah tidak awam dengan kalimat di atas. Bahkan kita pun sering mendengar bahwa “Perempuan adalah tiang negara”. Perempuan juga disebut sebagai pencetak peradaban.

Menjadi perempuan, apapun posisi dan profesinya memang dituntut untuk cerdas. Ia adalah sang pemilik rahim yang dari pengidupan, kasih sayang dan ilmunya terlahir manusia-manusia baru untuk peradaban yang semakin baik.

Perempuan dan pendidikan juga merupakan dua hal yang berbeda. Tapi satu dan lainnya seolah tak bisa dipisahkan. Terikat, karena seluruh rangkaian sistem pendidikan ini dimulai oleh seorang perempuan. Bahwa perempuan adalah pendidik pertama, sejak dalam rahim hingga kelahiran seorang anak. Ketika seorang anak mampu berdiri dan mendengar bahkan mengucap kata pertamanya. Perempuanlah yang berada di sampingnya. Memang ada peran ayah, tapi tentu saja intensitasnya berbeda.

Pendidikan merupakan alat untuk mengubah peradaban. Sedangkan perempuan berada dalam posisi paling strategis untuk menggunakan alat tersebut. Pendidikan bagi perempuan merupakan satu hal penting yang perlu dipikirkan bersama-sama. Kesempatan bagi setiap perempuan untuk mendapatkan pendidikan harusnya terbuka luas. Tak terbatas! Hal seperti ini yang harusnya terus diupayakan setiap tahunnya, setiap perayaan Hari Kartini tiba.

Bentuk-bentuk Pendidikan untuk Perempuan

Pendidikan untuk perempuan masih menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa kita. Karena beberapa hambatan seperti cupet-nya pemahaman terhadap ajaran agama—yang seringkali dimaknai perempuan berpendidikan tinggi cenderung melawan kodrat. Tanggung jawab dalam keluarga, atau rasa enggan untuk keluar dari zona nyaman yang datang dari perempuan sendiri. Pendidikan untuk perempuan sering dianggap enteng kemudian dinomorduakan.

Belakangan, justru perempuan sendirilah yang menginisiasi pendidikan untuk kaumnya. Bermunculannya berbagai komunitas berbasis emansipasi lumayan efektif membuka akses pendidikan bagi perempuan. Komunitas-komunitas ini tidak hanya menjadi ladang ilmu, tapi juga membuka ruang untuk kiprah dan kreativitas perempuan. Bahkan, faktanya banyak perempuan sukses dalam berbagai versi.

Pendidikan bagi perempuan memang tidak sebatas pada pendidikan di jalur formal. Pendidikan bisa diberikan dalam bentuk pembinaan dan pendampingan usaha, pelatihan berbasis minat, pemahaman tentang peran dan kedudukan perempuan secara hukum dalam pernikahan. Beberapa model pendidikan seperti ini sepertinya sedang diminati dan perlu dikembangkan dalam berbagai bidang.

Tapi jangan lupa, pendidikan bagi perempuan tidak hanya membentuk akal dan intelektualitasnya saja. Namun penting untuk menyentuh kepribadian dan sisi humanisnya. Di sinilah istimewanya pendidikan bagi perempuan. Karena dengan kecerdasan, keterampilan dan eksistensinya, perempuan tetaplah tempat untuk pulang. Tempat di mana keteguhan hatinya tak mudah digoyahkan. Tempat di mana keteduhan dan kelembutannya mampu mengayomi dan merangkul siapa saja.

Perjuangan Kartini  di masanya memang berbeda dengan Kartini masa kini. Tapi setidaknya semangat Kartini untuk menjadi perempuan berdaya tak boleh pudar. Tugas kitalah untuk menjaga nyalanya turun-temurun dalam generasi kita. Sehingga 21 April tak sekedar menjadi ajang perayaan secara simbolis, namun ada manfaat yang benar-benar bisa dirasakan perempuan.

 

Postingan ini dibuat untuk PAS Blogger WP Collab dengan tema “Pendidikan Perempuan”. Tulisan lain bisa di baca di www.betykristianto.com. Blog bertema lifestyle yang ditulis oleh seorang bloger sekaligus penulis buku, Bety Kristianto.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *