BLOG CONTEST Opini

Meretas Jarak, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pariwisata Nasional dengan Keandalan Sistem Transportasi

Empat tiket kereta api dengan rute Jakarta-Yogyakarta sudah di tangan, ketika tiba-tiba saja rencana liburan akhir tahun, pada tahun 2018 yang lalu harus berubah.

Awalnya, dari Jakarta kami berencana langsung ke Borobudur via Yogyakarta dengan menumpang bus antarkota jurusan Yogyakarta-Magelang. Namun, secara mendadak suami harus berangkat ke Palembang untuk perjalanan dinas yang tidak dapat diwakilkan. Sedangkan aku sendiri dan anak-anak harus mengubah rute ke arah Madiun, kemudian lanjut ke Magetan karena kondisi ibu yang tiba-tiba saja drop.

Kami pun tak menunggu lebih lama  untuk segera membatalkan satu tiket kereta atas nama suami. Sebagai gantinya, ia segera melakukan reservasi untuk 1 tiket pesawat jurusan Jakarta-Palembang. Kemudian 1 tiket lagi untuk penerbangan Palembang-Surabaya, karena rencananya dari Palembang nanti suami akan menyusul ke Magetan via darat dengan bus antarprovinsi.

Sedangkan aku dan anak-anak tetap menggunakan kereta jurusan Jakarta-Yogyakarta, karena tiket terlanjur dipesan. Dari Yogyakarta, kami pun melanjutkan perjalanan ke Magetan via Kereta Api Sancaka jurusan Yogyakarta-Surabaya, hanya saja kami berhenti di Madiun, kemudian melanjutkan perjalanan ke Magetan yang masih berjarak 25 km dengan bus antarkota.

Candi Borobudur sebagai salah satu dari 5 Bali Baru
Candi Borobudur, satu dari 5 Bali Baru

Tiga hari di Magetan rasanya cukup. Setelah kondisi ibu terlihat mulai stabil, kami  kembali melanjutkan perjalanan untuk merealisasikan rencana ke Candi Borobudur yang sempat tertunda.

Kali ini kami mengandalkan bus patas jurusan Surabaya-Magelang via Ngawi. Perjalanan nyaman, anak-anak pun tidak rewel karena tertidur pulas selama perjalanan.

Puas bermain di candi selama lebih kurang 6 jam, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan bus antarkota. Sengaja mengambil jeda satu hari di rumah kakak di Kaliurang, Yogyakarta, sebelum kami sekeluarga mengakhiri liburan dan kembali ke Ibu Kota.

Meretas Jarak, Merajut Negara Kepulauan dengan Aksesibilitas Transportasi

Bagi sebagian orang, perjalanan kami pada liburan akhir tahun yang lalu memang terlihat ruwet dan sangat melelahkan.

Tidak salah memang, karena kondisi kami pun sempat drop sesampainya di Jakarta, akibat kelelahan.

Akan tetapi, bagi orang-orang seperti kami—yang terlanjur mengandalkan moda transportasi publik untuk mengakses berbagai destinasi perjalanan—rasanya naik turun dan berganti kendaraan umum itu biasa saja. Melelahkan memang. Tetapi, selama konektivitas antarmoda transportasi tersedia, jauh atau dekat tidak menjadi masalah.

Terlebih, dalam lima tahun terakhir ini, sistem transportasi Indonesia terlihat jauh lebih baik. Tidak hanya dari segi pelayanan dan kenyamanan—yang dibuktikan dengan revitalisasi sarana dan infrastruktur transportasi—keamanan dan aksesnya pun semakin mudah. Kontras dengan kondisi saat aku dan suami harus menjadi frequent traveler akibat long distance married hingga tahun 2013 yang lalu.

IMG_20191111_120017_compress38
Menumpang bus antarkota antarprovinsi untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur di Magelang

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan rupanya memiliki rencana matang, menyeluruh dan berkelanjutan terkait perubahan wajah transportasi Indonesia. Tidak mengherankan dan memang sudah seharusnya mengingat aksesibilitas transportasi merupakan satu-satunya cara untuk meretas jarak yang terbentang. Merajut satu per satu wilayah kesatuan NKRI yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Di samping itu, keandalan dan aksesibilitas transportasi jugalah yang pada akhirnya  menjadi urat nadi pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah di Indonesia. Juga sebagai pendorong perkembangan pariwisata nasional yang ditandai dengan bermunculannya destinasi wisata baru, yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Transportasi sebagai Urat Nadi Pertumbuhan Perekonomian Nasional

(foto: dokumen pribadi)

Berbicara tentang transportasi maka erat kaitannya dengan mobilitas baik manusia (penumpang) maupun barang. Bayangkan apabila satu hari saja sistem transportasi terhenti, maka kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Tidak hanya melumpuhkan aktivitas masyarakat, namun juga mengganggu distribusi barang yang berakibat fatal terhadap laju perekonomian.

Masalah perekonomian sendiri memang masih sangat nyata, dan menjadi pekerjaan rumah yang lumayan pelik bagi setiap pemangku kebijakan di negeri ini. Salah satunya mengenai masalah distribusi barang yang nyata-nyata menimbulkan kesenjangan harga di berbagai wilayah di Indonesia.

IMG_20191111_113349_compress80

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa wilayah Indonesia  Bagian Timur tertinggal jauh dari Indonesia Bagian Barat dalam pertumbuhan perekonomian. Hal ini ditengarai karena terbatasnya sarana dan infrastruktur transportasi, yang menyebabkan sebagian besar wilayah di Indonesia Timur susah diakses, bahkan terisolasi dari distribusi barang dan jasa.

Kendala transportasi inilah yang menyebabkan ongkos pengiriman barang membumbung tinggi. Akibatnya sudah pasti, harga barang pun melambung jauh dari biaya produksi. Daya beli masyarakat rendah karena tidak sesuai dengan tingkat pendapatan. Pasar pun tidak bergairah yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

Manfaat Transportasi dalam Sektor Perekonomian Nasional

IMG_20191111_113401_compress21

Peran transportasi sebagai urat nadi perekonomian daerah memang tidak bisa diabaikan. Hal itulah yang kemudian mendorong pemerintah untuk meningkatkan pembangunan sarana dan infrastruktur transportasi baik di darat, laut maupun udara.

Tak sebatas pada perbaikan atau revitalisasi infrastrukturnya. Namun pemerintah, dalam kurun lima (5) tahun terakhir ini telah melakukan penambahan jumlah moda angkutan dan memberlakukan konektivitas antarmoda.

Pembangunan pada sektor transportasi telah memberikan denyut kehidupan baru bagi pertumbuhan perekonomian. Adapun manfaatnya secara langsung bisa diketahui dalam poin-poin di bawah ini:

Manfaat Transportasi Secara Ekonomi (klik setiap poin)

Transportasi memungkinkan seseorang untuk berpindah dengan cepat dan lebih mudah untuk satu tempat ke tempat lainnya. Di samping itu, transportasi memungkinkan terjadinya akses terhadap berbagai lokasi baru, dan tentu saja membuka peluang baru bagi seseorang.

Dengan tersedianya sarana dan infrastruktur transportasi, maka bahan baku produksi dapat terkirim ke area industri. Sebaliknya, di mana barang hasil produksi juga dapat didistribusikan ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Aksesibilitas tranpsortasi memungkinkan distribusi barang dan jasa lebih cepat dan besar kemungkinan untuk menekan biaya pengiriman.

Kecepatan distribusi barang merupakan salah satu cara untuk menjaga suplai barang. Di mana kecukupan suplai barang merupakan salah satu faktor untuk menekan disparitas harga.

Transportasi dan produktivitas dapat meningkatkan nilai jual dari suatu wilayah atau daerah.

Misalnya daerah-daerah industri yang diminati pekerja, daerah pengrajin batik yang sangat disukai wisatawan, atau daerah dengan penghasil komoditas alam tertentu.

Daerah-daerah dengan nilai jual tertentu biasanya memiliki gairah pasar yang positif dan denyut perekonomian cenderung stabil.

Aksesibilitas transportasi memungkinkan perkembangan suatu wilayah. Adanya kemudahan transportasi merupakan salah satu daya tarik bagi investor, apalagi jika ditunjang dengan komoditas khusus dari wilayah tersebut.

Di samping itu aksesibilitas transportasi juga mendorong wilayah tersebut mengembangkan sumber daya alam yang dimiliki untuk diarahkan pada usaha baru. Misalnya sektor industri atau pariwisata yang merupakan dua sektor yang berpeluang menyerap tenaga kerja lokal. Sehingga arus urbanisasi dapat ditekan serendah mungkin.

Keandalan Transportasi Mendorong Pertumbuhan Pariwisata Dalam Negeri

IMG-20191108-WA0011_compress66
Pembukaan bandara baru di lokasi 3TP memperbesar aksesibilitas destinasi wisata daerah (dokpri)

“Bagaimana akses transportasi menuju Pulau Komodo?”

“Apakah penerbangan ke Raja Ampat tersedia sewaktu-waktu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini rasanya sangat sering kita dengar jika menyangkut akses transportasi menuju daerah-daerah wisata.

Selain sektor ekonomi, keandalan transportasi yang diwujudkan dengan tersedianya sarana dan infrastruktur yang memadai dan terkoneksi merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan pariwisata nasional.

Harus diakui bahwa industri pariwisata merupakan sektor yang dapat menaikkan gairah pasar. Keberadaan infrastruktur transportasi yang handal dalam bentuk pelabuhan, bandara, akses rel kereta api dan jalan, sangat menunjang pertumbuhan sektor pariwisata daerah, yang berimbas pada pariwisata nasional.

Sedangkan yang terjadi selama ini, industri pariwisata hanya berkembang di daerah-daerah perkotaan yang telah memiliki sarana transportasi yang memadai bagi pendatang.

Raja Ampat (foto milik National Geography Indonesia)

Kita ambil contoh saja Raja Ampat dan Labuan Bajo. Kedua destinasi wisata ini sangat menonjol dari segi obyek pariwisatanya. Pemandangan alam yang indah dan alami merupakan nilai lebih yang dimiliki keduanya. Namun sayang peminatnya belum sebesar Bali atau Yogyakarta.

Hal ini bisa saja terjadi karena keterbatasan akses menuju daerah-daerah tersebut. Kalaupun ada, tarif angkutan yang ditawarkan sangat tinggi, yang seringkali menyurutkan minat wisatawan karena harus mengalokasikan dana yang lumayan besar hanya untuk biaya transportasi.

Dalam kondisi seperti ini keandalan sarana dan Infrastruktur transportasi bersifat mendesak dan tidak dapat ditunda-tunda lagi. Itu sebabnya Kementerian Perhubungan gencar melakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris, untuk membuka keterisolasian.Yaitu dengan memberikan dukungan infrastruktur dan aksesibiltas transportasi terhadap daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal, Perbatasan).

Geliat PariwisataTanah Air dalam 5 Tahun Terakhir

Merujuk laporan The Travel Tourism Competitiveness Report yang rilis pada event World Economic Forum (WEF) 2019, peringkat daya saing pariwisata Indonesia berada pada peringkat 40 dari 140 negara. Bahkan berada pada peringkat 4 di kawasan Asia Tenggara.

Peringkat Indonesia ini naik setelah sebelumnya berada pada urutan 42 di tahun 2017. Dan, sempat berada pada urutan 50 di tahun 2015.

Pariwisata nasional telah  memberikan harapan baru bagi masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari daya dorongnya dalam menggerakkan perekonomian nasional. Selain menjadi salah satu sektor yang menyumbang devisa dalam jumlah besar, sektor pariwisata telah melahirkan peluang-peluang usaha baru dan mampu menyerap tenaga kerja lokal.

Tips wisata Candi Borobudur dengan anak
Candi Borobudur sebagai salah satu dari 5 Bali Baru selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Sumbangan devisa dalam negeri dari sektor pariwisata pun mengalami peningkatan yang menggembirakan setiap tahunnya. Salah satu sumber menyebutkan, sektor pariwisata menyumbang sekitar 12,2 miliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2015. Naik menjadi 13,6 miliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2016. Kemudian mencapai angka 15 miliar dollar Amerika Serikat pada tahun 2017.

Untuk kunjungan wisatawan mancanegara sendiri termasuk berada dalam jumlah yang menggembirakan. Data pada tahun 2018 menunjukkan angka 15,81 juta wisatawan datang ke Indonesia dari berbagai belahan dunia.

Destinasi Wisata Prioritas

Pulau Komodo, salah satu destinasi favorit di Labuan Bajo (foto milikTravel Detik)

Sebagai bentuk dukungan terhadap sektor pariwisata nasional, pemerintah kembali membuat gebrakan baru dengan menetapkan lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), atau dikenal dengan Bali Baru dengan status super prioritas.

Kelima destinasi tersebut meliputi Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Magelang, Mandalika yang berada di wilayah Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Barat, dan Likupang yang terletak di kawasan Sulawesi Utara.

Meskipun berbagai kendala sempat  dihadapi dalam  penyediaan sarana dan infrastruktur pendukung pariwisata di 5 KSPN ini, namun perkembangannya cukup dinamsi. Bahkan ditargetkan rampung pada akhir tahun 2020.

Ini semua tidak mungkin terjadi tanpa kerjasama berbagai pihak. Dan tentu saja semua pencapaian ini merupakan salah satu prestasi Kementerian Perhubungan dengan program kerjanya selama kurun waktu 5 tahun terakhir.

Capaian Kementerian Perhubungan dalam Kurun Waktu 2014 hingga 2019

Selama kurun waktu tahun 2014 hingga 2019, pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris telah menambah juga memperbaiki berbagai sarana prasarana transportasi baik darat, laut, udara maupun perkeretaapian.

Untuk capaian pembangunan sektor transportasi darat meliputi:

  1. Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT)
  2. Rehabilitasi terminal
  3. Pembangunan pelabuhan penyeberangan dan kapal.
  4. Pengembangan transportasi perkotaan dengan mengembangkan MRT dan LRT di kota-kota besar, untuk menekan kemacetan.
IMG_20191111_113432_compress72
Commuter Line, moda transportasi massal andalan warga Jabodetabek (dokpri)

Sektor transportasi laut juga tak mau ketinggalan, dengan melakukan beberapa lompatan yang berupa:

  1. Pembangunan pelabuhan non komersial sebanyak 118 lokasi.
  2. Pengembangan pelabuhan yang meliputi Pelabuhan Patimban, Kuala Tanjung.
  3. Proyek Tol laut
  4. Kebijakan baru yang berupa keputusan untuk memfokuskan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub. internasional.
Sektor transportasi udara sangat vital untuk menunjang konektivitas antarpulau (dokpri)

Bagaimana dengan sektor transportasi udara?

Tentu saja sektor ini pun melakukan satu lompatan serius dalam kurun 5 tahun terakhir. Salah satunya dengan, pembangunan bandara baru di 15 lokasi  guna peningkatan konektivitas antarwilayah dan mendukung ditetapkannya 5 KSPN atau Bali Baru.

Untuk sektor perkeretaapian sendiri juga telah meraih beberapa capaian. Di antaranya:

  1. Pembangunan proyek Double-Double Track (DDT).
  2. Reaktivasi jalur KA.
  3. Pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
  4. Serta proyek Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya
IMG_20191111_115953_compress43

Kesimpulan

Langkah-langkah Kementerian Perhubungan dengan memprioritaskan pembangunan sarana dan infrastruktur transportasi merupakan upaya strategis dan tepat, mengingat wilayah Indonesia berbentuk kepulauan, di mana aksesibilitas antarwilayah sangat penting untuk menjaga interaksi, kesatuan dan persatuan.

Pembangunan  sarana dan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris merupakan  jalan pintas untuk meretas jarak yang terbentang, menekan kesenjangan pembangunan, menurunkan disparitas harga yang berdampak pada kesenjangan perekonomian wilayah, mendorong pengembangan kawasan wisata di daerah-daerah yang selama ini minim diakses wisatawan, serta membuka isolasi terhadap daerah-daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan).

“Transportasi Unggul, Indonesia Maju”,  slogan ini sepertinya tidak hanya sekedar kata-kata penyemangat saja, karena dalam lima tahun terakhir pemerintah telah merealisasikan, dan membuktikan program pembangunan transportasi dalam pencapaian-pencapaian yang menggembirakan.

Harapannya, semoga pembangunan transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris terus dilanjutkan. Dikebut dengan rencana-rencana dan langkah strategis yang semakin matang. Sehingga seluruh sumber daya yang ada di negeri ini bisa dikembangkan, kemudian dapat diambil manfaatnya  untuk masyarakat luas..

Untuk informasi lebih lanjut mengenai program-program Kementerian Perhubungan, silakan kunjungi dan ikuti sosial medianya di:

Website resmi: dephub.go.id; Facebook: Kementerian Perhubungan RI;

Instagram: @kemenhub151; Twitter: @kemenhub151

 

Referensi:

1. Website Kementerian Perhubungan (dephub.go.id)

2. Sosial media Kementerian Perhubungan ( https://instagram.com/kemenhub151)

3.Website Kompas (www.kompas.com)

4. Jurnal Transportasi (https://www.academia.edu/28652010/TRANSPORTASI_PERAN_DAN_DAMPAKNYA_DALAM_PERTUMBUHAN_EKONOMI_NASIONAL).

5. Infografis dari instagram Kementerian Perhubungan (@kemenhub151)

6. Website Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM (www.pustral.ugm.ac.id)

Disclaimer:

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Kementerian Perhubungan dengan tema “Transportasi Unggul, Indonesia Maju”.

16 thoughts on “Meretas Jarak, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Pariwisata Nasional dengan Keandalan Sistem Transportasi”

  1. Transportasi menjadi tulang punggung pariwisata memang. Tanpa sarana trasnportasi memadai gimana kalau mau jalan-jalan ya kan… syukurlah kinerja Kemenhub makin memudahkan kita pergi ke destinasi wisata yang jadi impian

  2. Menggunakan transportasi umum, bolak balik dari satu titik ke titik yang lainnya memang bikin badan tumbang ya, Mbak.

    Setuju, Mbak. Transportasi akan mendukung pariwisata dan meningkatkan devisa negara. Saya juga masih suka bertanya-tanya, gimana cara ke Raja Ampat.

    Dari 5 Bali baru yang dicanangkan saya baru bisa ke Borobudur. Karena memang masih lokasi di Jateng.

    Semoga yang lainnya bisa juga saya kunjungi.

  3. Mudah2an setelah ini Kementerian Perhubungan juga bisa mendorong pemerintah daerah untuk mengadakan transportasi dalam kota yang layak juga. Soalnya kayak bus dari Madiun – Magetan aja kondisinya kayak gitu. Trus di Magetan sekarang, nyaris nggak ada angkot lagi deh kayaknya. Udah jarang banget aku liat. Semua pada naik kendaraan pribadi. Kota kecil gitu jadi berasa penuh.

  4. Betul mba kalau akses dan konektivitas transportasi bisa menjangkau seluruh Indonesia secara merata maka melancong ke mana pun jadi lebih mudah.

  5. Wow lengkap banget penjelasannya. Memang transportasi tuh vital banget ya buat pariwisata kita. Kadang malah menjadi status bangsa itu sendiri. Maju berkembang atau tertinggal. Semoga kedepannya bisa merata di negeri kita kenyamanan transportasinya

  6. Iya, pengen banget jalan-jalan ke raja ampat atau labuan bajo, tapi biayanya mahal, apalagi kalau sekeluarga dikali 4 orang, hiks… Semoga ke depannya bisa lebih terjangkau…

  7. transportasi emang salah satu faktor pendukung yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi, khususnya pariwisata ya…kalau mau traveling ke suatu tempat, bisa jadi ketersediaan transportasi lokal menjadi pertimbangan

  8. Semoga sarana dan prasarana transportasi Indonesia semakin maju. Selain itu juga semoga peradaban masyarakat nya juga mengikuti, menjadi lebih beradab, modern, dan disiplin. Agar manfaat transportasi sebagai media kemajuan ekonomi dan pariwisata bisa tercapai maksimal.

  9. Dulunya dari Semarang-Surabaya atau sebaliknya, yuni mengandalkan bus Patas antar kota. Waktu itu nama busnya Indonesia kalau tidak salah. Yuni memilih perjalanan malam dengan asumsi subuh sudah tiba di Surabaya. Busnya nyaman sih, bisa tidur juga. Jadi nggak terlalu capek. Mana armadanya berhenti di tempat istirahat. Kalau lapar bisa sekalian makan karena tiket busnya juga bisa dipakai buat klaim makan. Pokoknya enak lah.

    Tapi semakin ke sini, yuni berganti pakai kereta kalau mau mudik. Lebih singkat waktu tempuhnya. Dan nggak kalah nyaman dong. Hehehe…

  10. Benar Mbak. Untuk wilayah indonesia timur memang masih mahal untuk masalah transportasi. Kita harua berpikir dua kali kalau mau ke sana hehehe. Tetapi alhamdulillah, sekarang pemerintah melalui kementrian perhubungan sudah bekerja keras menangani masalah itu. Semoga kedepannya bisa terealisasi, transportasi dengan pendekatan indonesia sentris mampu mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga negara indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *