WOMEN STORY

Langit Sendu di Hari Pertama 2020-Sebuah Refleksi di Awal Pergantian Tahun

Refleksi awal tahun 2020

Setelah kurang lebih satu jam menepi di salah satu kedai kopi di kawasan Megaria, aku dan suami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah kami di daerah Jakarta Timur.

“Hujan seperti ini bakalan awet, semakin ditunggu semakin deras, kalau nggak nekat nanti kita kemalaman,” begitu ucapku petang itu.

Kami pun bergegas menuju parkiran sepeda motor yang berjarak kurang lebih 50 meter. Sedikit basah karena aliran air ternyata lumayan deras. Sepatu yang kami kenakan pun tak urung basah dan terpaksa kami lepas kemudian simpan dalam bagasi motor.

Berlindung di balik jas hujan yang melekat di tubuh masing-masingi, suami pun memacu kendaraan dengan cepat namun tak sampai ngebut. “Pelan-pelan saja, yang penting sampai di rumah dengan selamat,” begitu pesanku ketika berulang kali kurasakan kecepatan motor mulai bertambah.

Saat itu jalanan masih lancar. Kereta arah bekasi masih aktif beroperasi meskipun terlihat penuh sesak. Transjakarta pun masih terlihat hilir-mudik. Semua masih baik-baik saja. Tak ada genangan yang berarti yang dapat menghambat perjalanan kami. Sungguh tak sedikit pun kami mengira bahwa hujan di malam pergantian tahun ini berujung musibah di awal 2020.

Awal Tahun yang Sendu

Refleksi awal tahun 2020

Sebelumnya, kami telah merencanakan untuk menghabiskan malam pergantian dekade di Jakarta Pusat. Sekedar duduk-duduk di pelataran Monas rasanya cukup untuk mengganti suasana, karena tahun-tahun sebelumnya kami tak pernah melakukannnya. Setiap malam pergantian tahun kami hanya duduk manis di dalam rumah. Tak pernah menghitung mundur menjelang tahun berubah angka. Kami selalu lelap di balik selimut nan hangat.

Tahun ini pun ujung-ujungnya sama saja karena setelah menembus hujan selama kurang lebih satu jam, tubuh kami menggigil kedinginan. Mandi dengan air hangat kemudian tidur merupakan pilihan yang paling tepat. Hingga kami terbangun saat azan subuh memanggil di pagi pertama 2020. Saat hujan semakin deras dan berita banjir mulai kami baca dari beranda sosial media.

Sedih dan khawatir karena tidak hanya kerabat, namun teman-teman kami pun banyak yang harus mengikhlaskan rumah dan harta bendanya diterjang air. Kami cukup bersyukur karena kondisi tempat tinggal kami aman. Meskipun sempat juga terlintas kekhawatiran ketika menyaksikan ketinggian air di Banjir Kanal Timur yang sungguh tidak biasa. Air penuh bahkan menenggelamkan sebagian besar pepohonan yang berada di sekitar kanal. Selama enam tahun tinggal di sekitar BKT, pemandangan seperti ini baru sekali ini kami saksikan. BKT berubah layaknya lautan yang membelah Jakarta Timur.

Kami yakin tak hanya kami sekeluarga yang gagal merealisasikan rencana pergantian tahun yang telah disusun dengan rapi. Mungkin teman-teman pun memiliki rencana seperti kami, sekedar jalan-jalan di dalam kota atau berkunjung ke kota tetangga, namun rencana itu menguap begitu saja ketika hujan yang berujung banjir mengepung Ibu Kota.

Ratusan penjual terompet dan jagung mungkin harus menanggung kerugian besar karena lapaknya bahkan tak sempat digelar. Itu belum seberapa, karena tak sedikit pula yang kemudian membawa barang dagangannya pulang, kemudian disambut air yang menerobos rumah pada keesokan paginya.

Manusia Berencana Tuhan Menentukan

Refleksi awal tahun 2020

Tahun 2019 ditutup dengan sebuah penegasan yang selama ini mungkin telah sering kita dengarkan. Manusia boleh saja berencana. Tapi, selalu ada campur tangan The Invisible Hand yang pada akhirnya menentukan segalanya.

Tak sebatas rencana di akhir tahun yang menguap dan berujung musibah, sepanjang 2019 ini pun mungkin telah banyak “kejutan” yang kita terima. Sesuatu yang sama sekali tak terlintas dalam angan, apalagi direncanakan. Tapi ia datang begitu saja. Entah kegagalan atau kesuksesan yang tidak terduga. Jodoh, rezeki bahkan hidup dan mati yang benar-benar hanya menjadi rahasia Illahi Rabbi.

Sebagai manusia yang memiliki keyakinan tentu kita paham bahwa semua yang terjadi telah digariskan. Tugas manusia hanyalah ikhtiar, berdoa dan berusaha. Ada hal-hal yang bisa kita ubah dengan keduanya. Namun, kita pun tak perlu mengelak bahwa tak sedikit yang menjadi hak prerogatif Pemilik Semesta.

Bencana di awal tahun 2020 mengajak kita kembali merefleksi diri. Adakah tugas-tugas kita sebagai insan di dunia  yang belum kita tunaikan? Sudahkah kita berterima kasih kepada-Nya? Mampukan kita mensyukuri napas yang seringkali kita lupa sebagai nikmat yang tak ternilai harganya? Sudahkah kita bersahabat dengan alam? Apakah kita mampu memberi atau hanya mengeruk apa yang alam berikan? Mampukah kita menjadi makhluk yang saling memudahkan makhluk lainnya?

Mumpung masih di awal tahun, masih ada waktu untuk merefleksi kembali segalanya. Mereka ulang segala rencana kemudian merealisasikannya secara bertahap tanpa meninggalkan harmonisasinya dengan kehidupan.

Selamat mereka-reka mimpi yang baru. Teruslah melangkah hingga sampai di garis finish-mu.

 

44 thoughts on “Langit Sendu di Hari Pertama 2020-Sebuah Refleksi di Awal Pergantian Tahun”

  1. Kami bertiga sempat ingin keluar rumah di malam tahun baru. Ikutan makan jagung bakar, gitu. Sesekali nggak apa-apalah. Ternyata hujan terus mengguyur dan kami memutuskan tidur. Begitu bangun pagi, ternyata banjir di mana-mana, hiks.

    Sedih banget lihat saudara-saudara kita rumahnya terendam banjir. Apalagi banyak menelan korban jiwa. Beneran harus introspeksi diri. Di mana kesalahan kita sebagai manusia. Begitu juga soal segala kegagalan di tahun lalu. Bismilah, banyak berbenah.

  2. Alhamdulillah rumah mbak Damar tidak kena banjir.
    Saya setuju dengan tulisan ini, bahwa segala yang terjadi baik itu baik maupun buruk semua telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Semoga saudara-saudara kita yang kena musibah banjir bersabar dan semoga Allah akan menggantikan hartanya dengan yang lebih baik.

  3. Ngebayangin para penjual terompet dan jagung bakar yg mungkin malah merugi kok ga tega yaa :(. Tapi memang semua udh ditentukan begini Ama yg di Atas. Banjir yg mungkin teguran juga Krn banyak manusia udh lupa menjaga alam. Moga2 ya mba, Tahun baru, kita semua lebih bisa berubah ke arah yg lebih baik. Lebih bisa menjaga kebersihan, jgn rakus menebang pohon dan membakar hutan :(. Harus ada kesadaran dr semua pihak, ga mungkin ini hanya diserahkan ke para pemimpin negara ato kota.

  4. Ya ampunnn mba, kebayang kalo waktu itu dirimu nekat nungguin ujan berenti. Trus tau-tau air naik trus gak bisa jalan dan kejebak di Jakarta Pusat huhuhuhu.. untunge masi sempet sampe rumah dengan selamat ya.. semoga banjir segera surut, gak ada yang kena musibah lagi. Sehat-sehat semuanyaaa

  5. Allah cepet banget dalam memperlihatkan kuasaNya, membuat banyak orang termasuk aku merenung, kita nih emang gak punya apa2. Semua ya milik Allah. MashaAllah mba Damar, makasih atas renungannya di akhir. Semoga diwaktu yang tersisa ini, kita bs memberikan yang terbaik seperti besok udah gak ada.

  6. Kena banjir juga ya , mba” .. semoga kedaan banjir di ibu kota segera pulih. memang betul ya, kalau Allah sudah berkehendak, rencana apa saja bisa menguap begitu saja. Banjir tahun ini kabarnya parah banget gitu ya. begitu cepet merendam ibu kota dan sekitarnya, Semoga juga makin jaya nih blog damaraisyah dot com nya di tahun 2020 ini.

  7. Ah, kadang kita lupa menyukuri hal-hal sederhana yang sebenarnya vital. Nafas, misalnya. Bismillah, semoga ke depan kita bisa selalu menyukuri setiap nikmat yang kita peroleh dan berlapang dada dengan ketidakmudahan yang kita hadapi. Sejatinya kita tak pernah tahu mana yang baik untuk kita. Semangat Mbak Damar.

  8. Merefleksi diri..setuju mbak Damar
    Kaget juga aku, meski air enggak sampai masuk rumah, tapi tetangga ada yang sebetis ketinggiannya. Belum sepupu di Bekasi, ditinggal liburan lantai 1 dan 2 mobil di garasi tenggelam..belum lagi kerabat dan sahabat. hiks!
    Sepertinya saat yang tepat buat sejenak merenung agar di tahun 2020 ini banyak yang kita perbaiki

  9. Hoho, ia mbak Damar, musibah yang menimpa saudara kita di awal tahun ini membuat kita merenung. Apa saja yang sudah kita perbuat di tahun lalu? Dan apa yang akan kita perbaiki di tahun ini? rasanya sungguh banyak PR kita, apalagi yang berkaitan dengan ekosistem, keharmonisan alam yang rasanya makin lama makin terabaikan. Hiks

  10. Betul Mbak, manusia hanya bisa berencana tetapi hanya Allah yang mengatur segalanya. Musibah yang terjadi di awal tahun benar-benar membuat saya semakin yakin, jika semua yang kita miliki hanyalah titipan belaka.
    Semoga saudara-saudara kita yang terkena musibah diberi kesabaran dan keikhlasan ya, Mbak.

  11. Banyaknya terjadi bencana di awal tahun, tentu saja sudah menjadi ketetapan Allah. Sebagai hamba-Nya, kita pasti meyakini bahwa tentu bencana itu tidak terjadi begitu saja. Ada hikmah pembelajaran yang ingin Allah berikan kepada kita. Semoga semua itu akan semakin meningkatkan keimanan dan kesadaran kita bahwa hidup di dunia tidaklah fana.

  12. Teman²ku di Jakarta beberapa ada yg kebanjiran. Engga terduga sih, soalnya rumahnya di Kemang, Bintaro dll. Kayaknya jauh dr banjir.
    Sudah waktunya kita merefleksikan perilaku kita di tahun² sebelumnya dan memperbaiki langkah ke depan. Terutama dalam menata lingkungan…

  13. Ya, dari Solo saya pun menyambut tahun baru dengan sendu. Saudara di Jakarta dan beberapa teman terkena banjir, ikut sedih lihat foto dan video mereka. Ah.. Semoga kesabaran mereka menerima akan membuahkan sesuatu yang manis nanti mungkin segera mungkin di pertengahan atau di penghujung tahun 2020. Semoga.

  14. Betul Mbak, manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang berkuasa atas apa yang terjadi terhadap hasil ciptaan-Nya.

    Sedih banget dengan musibah yang terjadi, tapi harus dijadikan muhasabah supaya bisa terus perbaiki diri di sisa akhir zaman ini

  15. Akhir tahun 2019 kemarin juga aku merasa sedikit sedih karena kamera kesayangan mati total. Mau beli lagi harus bersabar hehehehe. Trus pas bencana banjir terjadi aku jadi mikir, kehilangan yang kualami ga seberapa dibanding dengan orang lain. Ga usah ngoyo atau ngatur Tuhan juga biar semuanya sesuai maunya kita

  16. Alhamdulillah ala kulli hal ya mbak, segala sesuatu terjadi atas ijin Allah. Dan pasti dibalik segala macam musibah di awal tahun ini, ada hikmahnya. Mudah-mudahan kita bisa menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur atas apapun, karena betul manusia hanya bisa berencana dan Allah yang Maha Menentukan. Semangat menjadi pribadi lebih baik lagi, aamiin

  17. Aku suka tulisan Mba Damar. Buat aku tulisan Mba Damar itu suka membuat orang merenung. Mungkin karena Mba Damar sendiri tipe orang yang v suka merenung tentang sesuatu hal, tentang hidup dan tentang sebuah makna. Termasuk di tulisan ini. Aku suka

  18. Adik kandung saya termasuk yang rumahnya terkena banjir hingga lantai atas. Sedih banget pastinya. Tetapi, perlahan harus berusaha bangkit kembali. Jadikan semua ini sebagai renungan

  19. Agak kaget juga karena libur tahun baru lalu, saya dan keluarga mudik alias pulang kampung, pas tanggal 1 pagi mau pulang dengar berita kalau Jakarta juga daerah sekitarnya termasuk Tangerang tempat tinggal saya banjir besar, kebayang gimana paniknya, untung perumahanku ngak kena tapi akses masuk ke rumahku juga susah karena banjir.
    Sedih sih, tapi kadang bisa menjadi cara agar belajar lebih bersabar dan bahkan lebih dekat dengan-Nya karena manusia hanya bisa berencana tapi pada akhirnya Allah yang menentukan segalanya.

  20. Manusia hanya bisa berencana ya tapi takdir yang menentukan. Awal tahun yang benar-benar suram semoga teman-teman bisa bangkit kembali khususnya yang ikut kebanjiran

  21. Memilukan memang kenyataan yang harus dihadapi saudara-saudara kita di Jakarta, terutama bagi yang terkena musibah banjir. Entah berapa sudah nyawa dan harta yang tak tertebus oleh waktu.
    Semoga setelah ini kita semua dimudahkan untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima tiada henti sepanjang hidup.

  22. Bener banget mba manusia yang berencana tapi tuhan yang menentukan itu… Aku skrng banyak belajar ikhlas dan sabar…

  23. Aku kemarin gak ada rencana keluar di tahun baru. Dan yang jauh dari Jakarta dan sekitarnya kaya aku, ikutan syok juga dengan banjir di sana. Kugalau di sini tak ada apa-apanya dibanding mereka

  24. Ingin sekali membaut tulisan seperti ini. Murni dari hati dan fikiran namun rasanya saya butuh waktu lama berhari-hari hanya untuk menulis tulisan refleksi seperti ini.

  25. Semoga saja y mba dengan kejadian banjir YG meluas ini bisa mnjadikan pelajaran untuk menjaga lingkungan tdk membuang sampah sembarangan krn yg rugi tuh bnyak bngt

  26. Aku pun cukup sendu di awal 2020 ini karena banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga. Tapi semuanya bisa diambil hikmahnya. Jadi lebih dekat ke Tuhan dan mensyukuri apa yang ada. Semoga walaupun mimpi nggak sesuai dengan rencana, digantikan dengan yang lebih baik. Aamiin.

  27. Aku jadi ingat lagu Ziggy Zagga-nya Gen Halilintar bahwa setiap manusia tidak sempurna dan sama-sama masih terengah-engah untuk mencapai garis finish.

    Semoga kita bisa mejadi pribadi yang senantiasa muhasabah dan belajar dari kesalahan yang lalu.

  28. Aku pun hampir setiap malam baru tidur..paling kebangun sebentar pas denger suara kembang api..habis itu ya lanjottt tidur lagi heheh. Selamat mewujudkan mimpi di tahun ini yaaa

  29. Malam tahun baru kemarin terpaksa saya harus menonton kembang api di lapangan dekat rumah, menggunakan payung besar di bawah curah hujan. Karena sudah terlanjur janji sama si kecil “nanti malam kita lihat kembang api”. Nggak pernah nyangka kalau besok paginya sisa hujan semalam meninggalkan banjir di mana-mana. Sediiih mendapat kabar dari teman-teman yang terkena bencana. Semoga semakin dikuatkan dan lebih baik segalanya di tahun ini. Aamiin.

  30. kalau saya ingat2 tiap malam tahun baru sepertinya hujan. tapi hujan awal tahun ini memang lebih deras dan lama. saya ajah udah tidur dari jam 9 malam dan terbangun di tahun berikutnya. ahaha. yuk lakukan sesuatu sebaik mungkin, bagaimana hasilnya serahkan pada Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *