LIFESTYLE PARENTING TIPS WOMEN CORNER

Kiat Parenting di Masa Pandemi

Kasus coronavirus di Indonesia terus meningkat meskipun masa karantina sudah berjalan hampir tiga bulan. Kondisi yang penuh ketidakpastian ini mau tak mau memaksa kami mengubah kiat parenting di masa pandemi, karena secara psikologis baik orangtua maupun anak-anak pasti mengalami gangguan akibat rasa takut dan cemas.

Kami tidak mau terlalu kaku dalam menerapkan aturan-aturan di rumah. Tapi, bukan berarti longgar karena menyadari efek yang bisa ditimbulkan di kemudian hari.

Misalnya menyangkut daily routine. Sebelum karantina corona ini terjadi, anak-anak sudah cukup nyaman dengan jadwal yang kami tetapkan bersama. Mereka tahu kapan waktunya mandi, bermain, kapan belajar, beraktivitas di luar rumah. Bahkan kami punya jadwal bed time story yang selalu on-time pada pukul 9 malam. Perlahan semua ini berubah karena pola aktivitasnya pun berubah. Seperti jadwal istirahat pada malam hari yang mulai lebih larut atau mandi pagi yang seringnya malas-malasan.

Memang tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa disiasati. Setelah melalui beberapa kali trial and error, kami mencoba menggabungkan beberapa referensi sampai akhirnya menemukan cara pengasuhan yang sesuai dengan keluarga kami.

Tips Parenting di Masa Pandemi #1: Memahami Ketakutan Anak

parenting di masa pandemi

1. Mengajak anak berbicara tentang coronavirus.

Kami sempat kembali pada titik awal masa pandemi ini dengan mengajak anak-anak berbicara tentang coronavirus dan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Kami refresh kembali ingatan mereka tentang penyebaran virus corona, mengapa mereka harus melakukan rutnitas baru yaitu memakai masker dan sering mencuci tangan, menunjukkan kemungkinan tertular yang bisa datang dari siapa saja yang kami jumpai. Mengingatkan kembali bagaimana mencegah penularan coronavirus, dan dengan berat hati, kami pun harus menyampaikan tentang “new normal” yang ternyata tidak hanya untuk masa karantina ini. Namun bisa saja terjadi hingga waktu yang tak dapat ditentukan..

Membekali anak dengan informasi baru tentang coronavirus merupakan salah satu cara untuk memahami ketakutan mereka. “Ibu tahu kalian takut. Tidak apa-apa. Tetapi kalian harus tahu apa yang kalian takuti,” begitu setidaknya yang kami sampaikan pada DuoNaj.

2. Mengenali perasaan mereka

Masa karantina ini memaksa kami untuk lebih peka mengenali perubahan emosi anak. Beruntung Najwa dan Najib termasuk extrovert sehingga lebih mudah mengenali perubahan emosinya. Biasanya kalau Najwa sedang tidak enak hati, ia lebih banyak uring-uringan dan malas. Berbeda ketika suasana hatinya sedang baik, maka ia akan sangat bersemangat dan inisiatif.

3. Meningkatkan intensitas komunikasi dengan keluarga besar

Salah satu ketakutan anak-anak adalah tidak bisa berjumpa saudara dan kakek neneknya di luar kota. Setiap mendengar berita tentang kasus baru di Magetan, mereka terlihat khawatir dengan kondisi kakek, nenek dan saudara-saudaranya. DuoNaj pun tak segan mengucap doa untuk keselamatan kami semua.

Kami menyiasati situasi ini dengan lebih intens berkomunikasi via WhatssApp atau Video Call. Melihat keluarga besar kami dalam kondisi baik-baik saja sedikit banyak membantu mengurangi kekhawatiran dan membangun optimisme anak.

4. Menjadi role model dalam mengelola perasaan

Dalam segala hal orangtua selalu menjadi role model utama bagi anak. Terlebih DuoNAj masih kecil sehingga hanya kamilah panutannya. Mereka belum memiliki idola sebaik orangtuanya untuk diikuti dalam segala hal. Mau tak mau kami harus tenang mengelola emosi. Cerdas menunjukkan empati dan membangun optimisme bagi anak-anak.

5. Mengajak untuk bersabar

Memang terdengar klise, tapi kami merasa perlu untuk terus mengingatkan anak-anak supaya bersabar. Bahwa musibah selalu ada hikmahnya. Bahwa penyakit pasti ada obatnya. Bahwa hari baru akan datang setelah segala kesusahan.

6. Berbagi lebih banyak cinta dan pelukan.

Sedikit lebay namun terbukti mampu mengurangi ketakutan anak-anak. Bagi kami pelukan tak sekedar saat sedih atau gembira. Tanpa alasan pun kami tak segan memeluk keduanya. Kami bersyukur anak-anak menunjukkan reaksi positif dan bahagia dengan kebiasaan baru ini sebagai salah satu cara pengasuhan di masa pandemi.

Baca juga: Hari-hari pada Awal Masa Pandemi Corona

Tips Parenting di Masa Pandemi #2: Membangun Rutinitas di Masa Pandemi

parenting di masa pandemi

1. Membangun kembali rutinitas sehari-hari

Anak-anak bersekolah di rumah, suami pun bekerja dari rumah saja. Tak ada istilah terburu-buru di pagi hari. Tetapi justru di situlah awal mula hancurnya rutinitas harian di rumah kami.

Belajar dari hal tersebut, kami merasa perlu untuk memasukkan poin penting tentang membentuk  rutinitas baru sebagai salah satu tips pengasuhan di masa pandemi. Ya, memang di rumah saja. Tetapi bukan berarti tidak mandi. Bukan berarti bangun tidur bisa semaunya sendiri.

Memang tidak seketat rutinitas pada hari-hari normal. Iyalah, tidak mungkin kami memaksa normal dalam kondisi yang tidak normal. Namun setidaknya kebiasaan baik yang sudah pernah dibangun jangan sampai hancur begitu saja.

2. Quality time bersama keluarga.

24/7 di dalam rumah bukan berarti seluruh waktu berkualitas dengan keluarga. Baik aku, suami, Najwa dan Najib juga memiliki kesenangan sendiri yang tidak bisa diganggu anggota keluarga lainnya. Terlebih aku dan suami yang meskipun di rumah namun masih memiliki tanggung jawab pekerjaan.

Biasanya kami menyelipkan beberapa jam untuk nonton film bersama. Mendongeng menjelang jam istirahat siang atau malam. Bermain bersama anak-anak setelah menyelesaikan kewajiban pekerjaan. Atau memasak, membuat kue dan berolahraga bersama.

Semua aktivitas tersebut tidak kami lakukan secara bersama-sama dalam sehari, namun sifatnya bergantian dan terjadwal. Misalnya, hari ini membuat kue kering, maka esok hari kami jadwalkan mengajak anak-anak berolahraga bersama. Entah senam di rumah, atau berjalan kaki keliling perumahan saat pagi hari dan masih sepi.

Sebenarnya menyediakan waktu untuk quality time bersama anak-anak bukanlah hal baru bagi kami, namun di masa pandemi ini rasanya menjadi sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian ekstra.

Baca juga: Ciri-ciri Virus Corona Berdasarkan Gejala pada Pasien Positif

Tips Parenting di Masa Pandemi #3: Menerapkan Aturan Disiplin dengan Cara Positif

Dalam kondisi seperti ini, anak seumuran remaja atau pra-remaja memang cenderung sensitif karena merasa kesepian dan merindukan teman-temannya. Hal ini terlihat pada Najwa yang sering terlihat sedih. Tetapi, untungnya Najwa sudah bisa curhat. Ia sangat sering mengungkapkan perasaannya kepada kami, atau kadang-kadang ia tuliskan di buku diary.

Berbeda dengan anak yang berumur lebih muda seperti Najib. Mereka belum mampu mengungkapkan perasaannya dengan baik melalui kata-kata. Biasanya, anak yang lebih kecil cenderung berperilaku buruk ketika frustasi atau mengalami stres.

Kami sadar, kondisi ini dapat menimbulkan efek kurang baik bagi kami semua. Orangtua akan lebih mudah marah ketika terpicu oleh sikap anak yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, sudah saatnya aturan untuk bersikap disiplin kembali diterapkan dalam keluarga. Bedanya, kali ini kami menyesuaikan dengan gaya pengasuhan di masa pandemi yang mengedepankan cara-cara positif.

1. Beri arahan tentang perilaku buruk.

Terkadang anak-anak berperilaku tidak baik karena merasa bosan atau tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kondisi ini semakin buruk bagi anak-anak kinestetik yang cenderung kelebihan energi.

2. Ciptakan mainan kreatif

Ajak anak melakukan permainan yang selama ini tidak dilakukannya. Mendirikan tenda di halaman atau di dalam rumah mungkin bisa dicoba untuk suasana bermain yang berbeda.

3. Memberikan perhatian lebih pada perilaku baik.

Berikan pujian untuk setiap kebaikan yang dilakukan anak. Sampaikan dengan jelas harapan orangtua tentang kebaikan yang telah dilakukan anak.

4. Pengabaian

Ada kalanya kami mengabaikan perilaku buruk yang dilakukan anak karena meyakini cara ini efektif untuk menghentikannya. Sekali lagi bukan karena menolak perilaku buruk anak, namun kami menyadari, perilaku buruk bisa terjadi karena kebosanan dan rasa frustasi pada anak.

5. Menerapkan konsekuensi

Melakukan cara-cara positif dalam menerapkan aturan disiplin bukan berarti tidak memberikan konsekuensi atas perilaku buruk yang dilakukan anak. Selain reward dan pujian atas perilaku baik, konsekuensi tetap kami berikan jika mereka terus bertingkah. Tetapi perlu dicatat, hindari memberikan hukuman fisik pada anak.

Selain fokus pada anak dan menerapkan cara-cara baru dalam parenting di masa pandemi, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Orang dewasa seringkali lupa menjaga diri karena berkeyakinan tubuhnya kuat. Padahal, sebagai orang yang memiliki peran utama  dalam pengasuhan di masa pandemi ini, kita harus sehat dan berada pada kondisi emosi yang stabil sehingga bisa bersikap tenang saat menghadapi anak.

Usahakan inhale-exhale. Renungkan segala hal yang sedang dialami dalam masa pandemi ini.Yakin semua akan baik-baik saja karena wabah ini tidak terjadi selamanya.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *