TRAVELING

Lebih Dekat dengan Kemegahan Katedral hingga Keteduhan Istiqlal dalam Program SabangMerauke 2019

Katedral dan Istiqlal, dua bangunan menjulang yang berdampingan antara satu dan yang lainnya ini seolah mewakili semangat untuk terus merawat toleransi di negeri ini. Negeri dengan 34 provinsi yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Negeri dengan ratusan bahkan ribuan pulau yang terpisah jarak, laut dan pegunungan. Negeri yang kaya dalam keberagaman suku bangsa, bahasa daerah, adat istiadat, serta budaya dan tradisi leluhurnya. Dan yang tak bisa dilupakan begitu saja, negeri ini pun kaya dalam perbedaan cara masyarakat meyakini siapa Tuhan yang selalu ada dalam hati mereka.

Enam agama yang secara konstitusi diakui di negeri ini bukanlah hal yang sederhana, mengingat setiap agama memiliki beragam aliran yang tak mungkin terus diperdebatkan, satu dan yang lainnya. Karena semua agama baik dan mengajarkan kebaikan bagi setiap pemeluknya. Maka satu-satunya cara untuk merawat keberagaman ini tetap dalam bingkai kedamaian adalah dengan merawat toleransi. Saling memberikan penghormatan sebesar-besarnya atas perbedaan itu tanpa perlu mengusik yang lain.

Secara pribadi, hal ini pula yang kemudian menarik minatku untuk bergabung dalam salah satu agenda acara dalam rangkaian Program SabangMerauke 2019 beberapa waktu yang lalu. Kebetulan, jadwalku lumayan longgar pada tanggal 4 Juli 2019 kemarin. Kebetulan juga, tepat hari itu merupakan jadwal kunjungan ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, 2 tempat peribadatan dari 2 agama besar di Indonesia.

Sebagai bloger, jujur aku tertarik untuk mengabadikan arsitektur dari dua bangunan megah ini. Tapi sebagai perangkai cerita, aku tidak bisa menolak ketika panitia menawarkan kesempatan untuk bercengkrama dan mendengarkan langsung cerita dari 20 pelajar dari 20 daerah di negeri ini. Bagiku ini momen langka, karena bersama mereka aku seolah berada dalam miniatur masyarakat Indonesia.

 

Adik, Kakak SabangMerauke bersama Citra Scholastika

Berbagi Pengalaman tentang Toleransi Bersama Citra Scholastika

Pagi itu pun aku segera ber-commuter line menuju Stasiun Juanda. Dari Stasiun Juanda, aku bergegas menaiki jembatan penyeberangan hingga akhirnya berhenti di turunan tangga, tepat di depan Masjid Istiqlal.

Rupanya, kunjungan pagi itu bukan dimulai dari sana, karena sepertinya panitia sengaja menjadikan Masjid Istiqlal sebagai lokasi pemberhentian ishoma. Sehingga, Gereja Katedral pun dipilih sebagai tempat kunjungan yang pertama.

Dari Masjid Istiqlal aku hanya berjalan sedikit kemudian menyeberang langsung ke gerbang utama gereja. Dua tempat ini memang selalu kukagumi karena keindahan arsitekturnya. Tapi lebih dari itu, aku pun tak bisa menyembunyikan kekagumanku pada panggilan ibadah yang seolah bergantian dari kedua sisi jalan.

Setibanya di halaman Gereja Katedral, security mengarahkanku untuk berkumpul dengan rombongan peserta SabangMerauke 2019 yang telah lebih dulu mendapatkan briefing dari panitia. Di area depan Museum Katedral, lebih dari 30 orang yang terdiri dari Adik dan Kakak SabangMerauke 2019 telah mendapatkan penjelasan perihal agenda acara pada hari ini.

Sedikit terlambat, tapi tak satu agenda pun terlewatkan. Aku segera bergabung dengan seluruh peserta untuk mengikuti acara pertama dalam rangkaian tour tempat ibadah hari ini, yang dimulai dengan “Sharing Pengalaman Toleransi bersama Citra Scholastika”.

Sesi sharing bersama Citra Scholastika

Iya, teman-teman se-angkatanku pasti tak asing dengan penyanyi jebolan ajang pencarian bakat yang satu ini. Penyanyi kelahiran tahun 1994 ini tak hanya menarik karena penampilannya yang enerjik, tapi Citra Scholastika memang memiliki kualitas vokal yang tinggi. Tak heran dong, karena ternyata ia telah mengolah bakat tarik suaranya sejak kecil. Saat dirinya menjadi salah satu penyanyi cilik di gereja.

Citra Scholastika lahir dan dibesarkan dalam keluarga besar dengan keyakinan beragam. Beberapa anggota keluarga besarnya muslim, tapi ia dan orangtuanya sendiri memeluk agama Katolik. Menurut Citra, sejak ia kecil hingga dewasa seperti sekarang, tak ada sedikit pun masalah yang menyinggung keyakinan dalam keluarga besar mereka. Semua saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Bahkan perayaan hari besar dari kedua keyakinan dalam keluarga mereka seringkali menjadi ajang silaturahmi dan berbagi kebahagiaan.

 

Citra sedang menjelaskan tentang keuskupan di Katedral.

Pertemanan yang Luas Mengantarkan Citra pada Kemenangan

Selain pengalaman berada dalam keluarga yang menganut keyakinan berbeda, Citra juga banyak bercerita pengalamannya selama berpindah-pindah tempat tinggal. Lahir di Yogyakarta, keluarga Citra tak lantas menetap di sana. Ia sempat mengikuti orangtuanya dipindahtugaskan ke Sumatera Utara kemudian Papua. Pengalaman ini pun sedikit banyak membuka cara pandangnya tentang keberagaman dalam masyarakat. Dalam kesehariannya pun Citra lantas tumbuh menjadi gadis yang bisa berteman dengan siapa saja.

Masih segar betul dalam ingatan Citra ketika ia mengikuti ajang pencarian bakat beberapa tahun yang lalu. Kala itu, Citra sebagai salah satu finalis termuda, tak pernah lupa untuk menyapa kota-kota yang pernah ditinggalinya. Ia yang sebagian jiwanya telah menyatu dengan masyarakat dan tradisi di daerah masing-masing tak segan untuk menyapa teman-temannya dari daerah-daerah tersebut.

Pergaulan yang luas dan cara Citra melihat perbedaan sedikit banyak membantunya dalam ajang pemilihan kemarin. Tak hanya bertalenta, Citra memang disukai dan dipilih penggemarnya melalui polling penonton.

Sebagai penutup di sesi sharing kemarin, Citra juga berbagi sedikit mengenai pencariannya akan Tuhan. Ia berkata bahwa agama yang diyakininya saat ini tidak datang begitu saja. Meskipun lahir dari orangtua Katolik, tapi Citra “mencari”, hingga akhirnya “menemukan” Tuhan yang diyakininya.

Ia beriman dan mengimani Tuhannya tanpa paksaan dari siapapun. Dan keyakinan itu tak bisa digoyahkan oleh siapapun. Sama halnya seperti kita yang telah meyakini agama dan Tuhan kita masing-masing.

Menelusuri Kemegahan Gereja Katedral

Karena keterbatasan waktu pada kunjungan tempat peribadatan pada hari itu, acara sharing bersama Citra Scholastika pun segera diakhiri, kemudian dilanjutkan tour singkat ke gedung utama gereja, yang biasa digunakan untuk peribadatan.

Selain terkesan megah dengan interior yang menarik dan berkesan etnik, gereja yang berumur kurang lebih 118 tahun ini ternyata sempat mengalami kehabisan dana pada pembangunannya di tahun 1890. Sempat terhenti selama 7 tahun setelah peletakan batu pertama, pembangunan gereja kemudian dikebut hingga akhirnya diresmikan pada tahun 1901. Nama Katedral pun dianggap pantas digunakan karena di dalam gereja ini terdapat Cathedra yaitu Tahta Uskhup.

Terdapat 3 menara di gereja Katedral. Menara yang pertama yaitu Menara Daud yang dilengkapi lonceng hadiah dari George Marie van Arcken. Sedangkan di menara kedua yaitu Menara Gading terdapat lonceng yang lebih kecil yang merupakan sumbangan dari Tuan Chasse. Menara ketiga adalah Menara Angelus Dei. Sedangkan untuk lonceng yang terbesar bernama Wilhelmus yang merupakan hadiah dari Tuan J.H. de Wit.

Ketiga menara di Gereja Katedral dibuat dari besi, di mana untuk bagian bawah didatangkan dari Nederland, sedangkan bagian atas menara dibuat di bengkel yang berlokasi di Wilhelmina.

Peserta SabangMerauke 2019 sedang mendengarkan penjelasan tentang sejarah Gereja Katedral

 

Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal Diresmikan Sebagai Cagar Budaya Nasional

Selain tour singkat di area gereja dan museum, peserta SabangMerauke juga berkesempatan mendapat penjelasan dari Ibu Susyana Suwadie, Manager Humas Gereja Katedral, mengenai sejarah singkat, struktur kepengurusan dan tata cara beribadah di Katedral.

Dalam kesempatan tersebut turut hadir salah seorang Romo Katedral yang menyambut hangat peserta SabangMerauke 2019. Bahkan dengan ramah menjawab setiap rasa ingin tahu dari peserta.

Tak hanya oleh peserta yang beragama Katolik, kesempatan ini pun dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh peserta dari pemeluk agama lain, seperti Islam, Kristen, Hindu dan Budha untuk bertanya baik mengenai simbol, sejarah, interior bahkan hubungan baik antara pengurus Gereja Katedral dengan tetangganya, yang tak lain dan bukan adalah Masjid Istiqlal.

Sayangnya, waktu yang diberikan panitia terlampau singkat sehingga rasanya belum puas untuk bertanya lebih banyak. Tetapi, dalam waktu yang tak seberapa tersebut, setidaknya peserta dapat merasakan langsung semangat untuk bersama-sama merawat toleransi. Menjaga persatuan dalam negeri yang kaya keragaman ini.

Oh ya, dalam kesempatan tersebut, Ibu Susyana Suwadie juga menyampaikan mengenai status Gereja Katedral yang telah meningkat dari Cagar Budaya Provinsi menjadi Cagar Budaya Nasional. Menurut SK Menteri No243/M/2015, Gereja Katedral telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Kemudian disusul SK Menteri No193/M/2017 tentang penetapan status Masjid Istiqlal.

Meresapi Keteduhan Masjid Istiqlal

Puas berjalan-jalan di area Gereja Katedral yang luas, Peserta SabangMerauke 2019 segera beranjak menuju ke lokasi berikutnya yang ada di seberang bangunan gereja. Sesuai rencana, di Masjid Istiqlal nanti kami tidak sekedar melakukan tour, tetapi sekaligus makan siang, istirahat dan salat zuhur bagi peserta yang beragama Islam.

Menapaki serambi utama masjid kami  disambut oleh perwakilan dari pihak Humas dan Protokoler Istiqlal yang pada siang itu akan menemani tour masjid sekaligus menjawab rasa penasaran peserta. Kami pun segera menuju bangunan di salah satu sayap di lantai dua untuk mendengarkan penjelasan dari Pak Didik—Bagian Humas. Dan seketika itu juga, ketika kami memasuki area yang dimaksud, panas Jakarta seolah berlalu begitu saja tergantikan dengan sejuknya suasana di dalam masjid.

 

Pak Didik sedang menjelaskan tata tertib dan pembagian area Masjid Istiqlal

Masjid yang pembangunannya diprakarsai langsung oleh Presiden RI yang pertama ini mulai dibangun pada tahun 1951, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Ir. Soekarno. Pembangunan masjid bergaya modern minimalis ini dirancang langsung oleh pemenang sayembara arsitektur masjid yang kala itu dimenangkan oleh Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Tidak ada interior atau ornamen berlebihan pada rancang bangunnya. Semua didesain sangat minimalis dan modern, namun tetap memperhatikan simbol-simbol khusus. Misalnya saja penggunaan marmer untuk melapisi lantai dan ornamen geometrik yang memanfaatkan baja anti karat. Di samping itu, untuk mengukuhkan kesan teduh dalam suasana masjid, rancang bangunnya pun sengaja dibuat terbuka sehingga sirkulasi udara bebas dan ruangan terasa teduh dan sejuk. Begitu pun ruangan salat yang berada di lantai utama di mana kanan dan kiri ruangan dibuat pelataran terbuka yang dimaksudkan untuk memudahkan cahaya dan udara masuk dari sana.

Makna dalam Pemilihan Nama, Jumlah Tiang Penyangga, Menara dan Kubah Masjid Istiqlal

Bangunan utama Masjid Istiqlal dimahkotai sebuah kubah raksasa berdiameter 45 meter. Menurut keterangan pihak masjid, angka 45 melambangkan kemerdekaan Indonesia yaitu pada tahun 1945.

Di samping kubah utama,  jumlah tiang penyangganya pun ternyata tidak dibuat dengan jumlah asal-asalan. Angka 12 dipilih sebagai jumlah tiang penyangga kubah mewakili 1 Rabbiul Awwal yang merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sedangkan untuk menaranya sendiri terkesan unik karena jumlah menara tunggal yang jarang ada di masjid-masjid lainnya. Tetapi, ternyata menara tunggal setinggi 96,66 meter—yang berdiri di sudut selatan masjid ini melambangkan ketauhidan atau keesaan Allah SWT.

Sedangkan pemilihan nama Istiqlal yang dalam bahasa Arab berarti “Merdeka” merupakan ungkapan rasa syukur bangsa Indonesia atas nikmat kemerdekaan yang akhirnya diraih setelah ratusan tahun diperjuangkan.

Masjid Istiqlal Menjadi Daya Tarik bagi Wisatawan

Tak hanya dikunjungi umat Islam untuk menunaikan ibadah, sekarang banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri tertarik untuk melihat dan mengabadikan momen di masjid ini. Untuk itu beberapa peraturan pun mulai diberlakukan. Misalnya seperti,

  • Pengunjung diharuskan melepas alas kaki di area masjid
  • Pengunjung tidak diperkenankan menggunakan pakaian minim seperti celana pendek, rok mini atau tank top dan kaos berlengan kutung. Biasanya pengelola masjid akan meminjamkan sarung atau abaya.
  • Pengunjung nonmuslim (kecuali tamu negara dan VVIP)  tidak diperkenankan memasuki lantai utama tempat mimbar dan mihrab berada, tapi tetap boleh mengunjungi bagian pelataran, selasar, menara atau koridor.

Lagi-lagi waktu yang diberikan panitia terlalu sempit sehingga rasanya belum puas bertanya-tanya dan mengelilingi area masjid. Memasuki waktu salat zuhur, rombongan kami pun dipecah menjadi dua, di mana rombongan peserta muslim segera menuju gedung utama untuk menunaikan salat. Sedangkan rombongan peserta nonmuslim menunggu di pelataran masjid.

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan beribadah tanpa gangguan DuoNaj bersama belasan peserta lainnya. Menikmati alunan adzan hingga lantunan dzikir dan salawat membuatku merasa damai dan tentram di tengah tekanan hidup yang datang silih berganti.

Kunjungan ke Gereja Katedral yang diakhiri dengan salat berjamaah di Masjid Istiqlal meluaskan pandanganku tentang keyakinan seseorang yang benar-benar tak bisa dipaksakan. Keyakinan tersebut datang dari “dalam” dan tak boleh diintervensi oleh siapapun. Pada akhirnya pun setiap orang akan menemukan keyakinan masing-masing sebagai tuntunan menggapai kedamaian dalam hidup hingga kelak kematian menjemput.

 

 

Sekilas tentang SabangMerauke

Nah, sebagai penutup aku ingin berbagi sedikit tentang Program SabangMerauke 2019 itu sendiri. Jadi, awal mula aku bergabung sebagai salah satu peserta dalam acara ini karena tawaran di grup KEB beberapa waktu yang lalu. Dan tawaran ini untuk yang berminat menjadi volunteer ya, jadi ini bukan job atau postingan berbayar.

Nah, pas kebetulan jadwalku kosong di tanggal 4. Pas kebetulan juga DuoNaj ada yang menjaga. Dan pas kebetulannya lagi, jadwal acaranya pas tour Katedral, Istiqlal dan Immanuel. Tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar karena berharap bisa mengabadikan momen-momennya.

Ternyata, program seperti ini rutin diselenggarakan SabangMerauke. Karena SabangMerauke sendiri sebenarnya merupakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi, pendidikan dan keindonesiaan.

Teknis Pelaksanaan Pertukaran Pelajar SabangMerauke

Untuk teknis pelaksanaanya sendiri, seluruh peserta melalui seleksi baik melalui formulir pendaftaran yang disebarkan oleh penyelenggara, dan atau referensi dari Pengajar Muda dari daerah-daerah di luar kepulauan Jawa. Kemudian, anak-anak ini, atau yang kemudian disebut ASM (Adik-adik SabangMerauke) akan diundang ke Jakarta untuk tinggal bersama keluarga asuh yang berbeda agama, suku bangsa dan budaya.

Dalam perjalanannya Adik-adik SabangMerauke akan didampingi oleh Kakak-kakak SabangMerauke yang juga dipilih berdasarkan seleksi. Nah, selama di Jakarta, mereka semua akan berinteraksi dengan teman yang berasal dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda. Nantinya, diharapkan ASM terpilih bisa ikut menyebarkan nilai-nilai perdamaian di daerah asalnya, yang dimulai dari lingkaran terdekatnya.

Selain menyelenggarakan kegiatan pertukaran pelajar seperti ini, SabangMerauke juga aktif menyerukan kampanye toleransi. Sejak berdiri di tahun 2012, SabangMerauke telah menginisiasi Diversity Dinner sebanyak 2 kali pada tahun 2016, kemudian rutin hingga tahun-tahun berikutnya, yaitu pada 2017, 2018 dan 2019.

Oh ya, Program SabangMerauke 2019 ini masih berlanjut hingga 19 Juli 2019 nanti ya. Jadi, jika kalian berminat mendokumentasikan kegiatan atau menuliskan ceritanya, langsung saja teman-teman hubungi pihak SabangMerauke melalui akun sosial medianya di instagram @sabangmerauke

 

 

 

41 thoughts on “Lebih Dekat dengan Kemegahan Katedral hingga Keteduhan Istiqlal dalam Program SabangMerauke 2019”

  1. Indahnya perdamaian ya mba, kampanye toleransi yang baik nih. Jangan tutup mata bahwa Indonesia dari Sabang sampai Merauke ya memang beragam suka, bangsa, juga agama. Lakum diinukum waliyadiin.

  2. Waaah programnya bagus banget ini buat anak-anak muda. Biar lebih saling toleransi antar umat beragama & beragam suku, karena aku yakin disetiap agama pasti diajarkan untuk saling menghormati orang laing apapun kepercayaan yg mereka anut.
    Dan cerita ttg Citra Sholastika jg seru, jadi contoh keluarga di Indonesia yg terbuka dan saling menghargai perbedaan 🙂 nice sharing indeed

  3. Wah, program yg cihuy dan keren buanget! Bravo tim #SabangMerauke !
    Istiqlal memang menyedot banyak pengunjung ya Mak.
    No wonder, beberapa spot-nya kayak kurang terpelihara (bagian toilet, misalnya)
    Tapi arsitekturnya cihuy banget siiik.

  4. Citra ternyata kelahiran 94 ya mbaa, beda dikit sama adik aku..
    aku suka deh tour bgini. Istiqlal udah lama banget nggak ksana adem banget di dalam sana. Anginnya lumayan kenceng, jadi pengin ajak anak2 ksana. btw aku pnasaran masuk ke gereja katedral mba..

  5. Kok bagus banget sih ini programnya SabangMerauke, mbak
    Aku belum pernah menginjakkan kaki ke dua tempat sbagai cagar budaya nasional, masjid istiqlal dan gereja katedral tersebut mbak
    Beruntung bisa mengikuti touringnya ya mbak
    TFS Mbak

  6. Subhanallah, mbaaak, Megah banget gerejanya, kereeen. Eh, aku belum pernah berkunjung ke Masjid Istiqlal, semoga suatu saat kesampaian. Beruntung banget mbak Damar ikut acara AdikKakak SabangMerauke2019. Bravo, Maaak :*

  7. Aku seneng bacanya, Mbak Damar menulis dengan gaya bahasa “aku”. Dan kita seangkatan mbak, aku dulu penggemar Citra saat masih jadi finalis idol. Suaranya khas, ngejazzzz. Suara santei tapi berkualitas. Gak nyangka pertemanan yang luas bisa mengantarkannya juara. Btw semoga dengan adanya program pertukaran pelajar di Indonesia ini makin meningkatkan semangat toleransi antar warga, antar pelajar dan umat manusia 🙂

  8. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Dua-duanya bangunan cagar budaya. Keduanya juga memiliki arsitektur yang menawan. Selama ini belum pernah masuk Katedral. Hanya bisa melihat dari luar. Program Sabang Merauke ini seru kayaknya. Bisa bertemu dengan semua anak dari seluruh Indonesia.

  9. Wuih senangnya yang bisa ikutan tour keren ini! Aku mocone melu terharu mba, Indonesia ini kaya raya, gak cuma fisik tapi juga agama dan budaya. Sudah sepantasnya kita ikut serta merawat dan jadi tiang penjaganya ya. Salam bhineka tunggak ika deh pokoknya!

  10. Pas kebetulannya banyak banget. Alhamdulillah senengnya bisa masuk² dan wawancara dengan pengelola rumah ibadah, agama apapun. Aku seneng nih jalan² kayak gini. Kenapa yaa…kok selalu waktunya mepet. Jadi suka bingung, antara mau motret atau dengerin penjelasan…

  11. Wahh seneng ya mbak. Bisa merasakan damainya aura toleransi.
    Setuju Mb Damar, cara merawat keberagaman tentunya dengan toleransi.
    Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

    Saling memberikan penghormatan sebesar-besarnya atas perbedaan itu tanpa perlu mengusik yang lain.

    Makasih sdh berbagi.

  12. Menginspirasi juga kegiatan Sabang Merauke ini, mengajarkan anak muda arti toleransi. Semoga kegiatan ini bisa menebarkan kebaikan ke sesama, teman-temannya juga. Agar negara ini tidak terpecah belah

  13. Senangnya aku ada program bagus kayak @sabangmerauke ini. Semoga ya anak-anak muda di negara ini semakin menghargai perbedaan dan merawat toleransi. 🙂 Aku udah lama pun Gak ke Istiqlal. Dan kayaknya baru ngeh kalau Istiqlal itu artinya merdeka. Kemana aja akuuu.. 😀 Pingin juga deh rasanya ke Katedral.. Kalo gak salah ada museumnya juga di dalamnya. Pingin ke sana..

  14. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral adalah simbol toleransi yang seharusnya makin membuat umat beragama di Indonesia saling memghormati. Saya baru satu kali ke Istiqlal dan belum sekalipun ke Katedral. Tapi, mengamati dari gambar, arsitekturnya memang mengaggumkan.
    Yang satu megah, yang lain minimalis namun memberikan keteduhan.
    Semoga dengan program Sabang-Merauke, generasi mudah jadi makin sadar dan peduli dengan beragam perbedaan di negeri ini.

  15. Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral adalah simbol toleransi yang seharusnya makin membuat umat beragama di Indonesia saling memghormati. Saya baru satu kali ke Istiqlal dan belum sekalipun ke Katedral. Tapi saya mengagumi arsitektur kedua bangunan ini.
    Yang satunya megah dan artistik yang satunya sederhana namun teduh. Berbeda tapi tetap harmonis.
    Semoga dengan program Sabang – Merauke, anak muda kita peduli untuk merawat perbedaan dengan toleransi.

  16. Pas baca informasi tentang kegiatan ini sebenarnya tertarik banget, tapi sayangnya jauh ya di jakarta. Pikirku pasti seru banget bisa bersama-sama teman-teman berbeda agama dan keyakinan lalu menelusuri sejarah gereja dan masjid megah itu. Ternyata memang ceritanya sangat menarik

  17. Pengalaman yang sangat berharga ya, Mbak. Bisa salat di Masjid Istiqlal dan berkunjung ke Gereja Katedral.

    Mantap juga ya, keduanya sudah dinobatkan sebagai cagar budaya.

    Dan menariknya nih, bagi saya pribadi, kedua bangunan tempat ibadah yang berbeda itu seperti sarat makna. Bahwa meski kita berbeda agama, dalam masyarakat kita bisa saling toleransi dan berdampingan.

    Saya mau cek IG @sabangmerauke nih. Penasaran pengen tahu ke mana aja menjelajahnya.

  18. Programnya SabangMerauke keren, menambah wawasan sekaligus memupuk rasa toleransi beragama ya. Alhamdulillah, awal tahun saya berkesempatan bisa sholat di Masjid Istiqlal.

  19. Ternyata dalam setiap pembangunan gedung atau bangunan, selalu ada simbol-simbol yang ditanamkan agar diingat dan difahami maknanya. Seperti jumlah kubah, jumlah menara Istiqlal dan lainnya.

  20. jadi kebayang bagaimana teduhnya IStiqlal, aku belum pernah masuk area Gereja Katredal sih, mnbak, tapi kalau dari luarnya emang bagus arsiteknya, aku seringnya ke Monasnya doang. maklum orang kampung wkwkwk

  21. Senangnya bisa tour religi di berbagai tempat peribadatan agama yg terkenal yang berbeda dengan di Jelaskan sejarah serta bagian-bagian penting di area tersebut

  22. Setiap ke Istiqlal, aku selalu ambil gambar Katedral di Kejauhan. Suka dengan arsitektur bangunannya, dan cukup penasaran dengan isinya seperti apa. Dua Tempat Ibadah dari Agama yang berbeda dan berdampingan membuat semakin yakin bahwa berbeda itu bisa tetap dalam perdamaian dan keindahan 🙂

  23. Wah ini programnya keren banget
    Dengan begini kita akan semakin menghargai keberagaman negeri tercinta
    Nusantara kita ini kaya akan budaya, ada beragam agama, suku dll
    Semoga kegiatan ini meluas ke semua kalangan sehingga perdamaian negeri ini tercipta

  24. Hidup berdampingan itu indah asal gak campur aduk utk urusan ibadah.
    Keluarga besarku juga campuran sih kyk keluarga Citra. Tapi bersyukur ada yang mengalah utk menyamakan agama (terserah aja agamanya apa, yg penting ortunya sama agamanya dulu) pertimbangannya supaya anak2 keturunannya gak bingung mau beribadah kyk gmn. Tugas keluarga cuma bisa dukung dan menghargai. Ini malah ngalor ngidul komennya wkwkwkk

  25. Keberadaan masjid Istiqlal Dan gerejw Katedral jadi saksi bahwa banyak agama tetap bisa hidup berdampingan ya mba. Btw Aku tau nih program SM, beberapa org teman suami jd inisiator organisasi kece ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *