TRAVELING

Menyusuri Sisa Kejayaan Dermaga Rempah-Rempah, Wonderful Indonesia di Pelabuhan Sunda Kelapa

Wonderful Indonesia pelabuhan Sunda Kelapa

Sampan yang kami tumpangi bergerak perlahan menjauhi bibir pelabuhan. Dengan beberapa kali dayung, Paman Pembawa Sampan telah membawa kami menjauh dari deretan kapal Phinisi yang berjajar rapi di tepian jalan Maritim Raya.

Beberapa awak kapal yang kami jumpai nampak sedang melakukan bongkar muatan. Beberapa yang lain sedang asyik mengobrol sembari menikmati cairan hitam dalam gelas kaca yang mereka genggam.

Beberapa kapal terlihat sedang bersiap-siap untuk pelayaran berikutnya. Sedangkan satu kapal yang berada pada deretan paling ujung terlihat baru saja merapat setelah perjalanan membelah laut, mengirim barang ke kepulauan Sulawesi.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Sensasi berlayar dengan sampan di bawah kapal-kapal besar

Sampan yang sebelumnya tenang kini bergerak sedikit oleng seolah keberatan dengan beban di atasnya. Paman Pembawa Sampan pun langsung tanggap. Segera ia letakkan dayung,  menyalakan mesin yang terpasang di buritan, kemudian melaju sedikit lebih kencang membawa kami menyusuri pantai hingga sampai ke perbatasan laut lepas.

Sensasi berlayar dengan sampan kecil di bawah barisan kapal Phinisi merupakan satu pengalaman yang ditawarkan wisata bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa. Menggunakan ojeg sampan yang biasanya dimanfaatkan sebagai moda penyeberangan, wisatawan akan diajak menikmati setiap sudut dermaga, merasakan berlayar hingga batas lautan lepas dan melihat langsung dua mercusuar yang menjadi garis batas pelabuhan.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Dua mercusuar yang menjadi garis batas pelabuhan

Sejarah Kejayaan Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa
Deretan Phinisi merupakan daya tarik utama Pelabuhan Sunda Kelapa

“Tak ada itu Batavia dikenal di seluruh dunia kalau tak ada dermaga rempah-rempah. Sunda Kelapa ini sudah ada sejak zaman Jakarta masih Batavia. Di sinilah pelabuhan rempah-rempah yang membuat pedagang dari berbagai negara singgah. Mereka berdagang tapi kemudian menjajah.”

Obrolan kami tentang Pelabuhan Sunda Kelapa di masa lalu dibuka dengan sangat berapi-api oleh seorang lelaki pekerja kasar di pelabuhan itu. Menurut kisah yang diceritakan dalam keluarganya secara turun-temurun, Pelabuhan Sunda Kelapa yang dulunya disebut “Kalapa” ini merupakan pelabuhan terpenting pada masa kejayaan Pajajaran di abad ke-12.

Pelabuhan Kalapa sendiri menjadi pintu masuk pedagang dari berbagai belahan dunia, bahkan sempat menjadi saksi sejarah beberapa peristiwa penting di negeri ini. Mulai zaman masuknya Islam ke bumi pertiwi, masa kejayaan kerajaan-kerajaan nusantara, hingga masa penjajahan Belanda yang kemudian menguasai pelabuhan dan wilayah sekitarnya.

Pada masa penjajahan Belanda inilah nama “Kalapa” diganti  menjadi Batavia. Sampai akhirnya Jepang datang dan tak berapa lama kemudian kemerdekaan menjadi milik Indonesia. Nama Sunda Kelapa pun dipakai kembali sejak penetapannya pada pemerintahan rezim orde baru.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Lokasi bersandarnya Kapal Phinisi merupakan spot foto yang sangat menarik

Dalam perkembangannya Pelabuhan Sunda Kelapa memang sempat di nonaktifkan karena pendangkalan yang terjadi di wilayah pelabuhan. Kapal-kapal besar pun tak lagi bersandar di pelabuhan ini tapi kemudian digantikan dengan pelabuhan baru di Tanjung Priok.

Sejarah Jakarta memang tak bisa terlepas begitu saja dari keberadaan Pelabuhan Sunda Kelapa. Keberadaan dermaga ini telah memperkenalkan Batavia pada masyarakat dunia. Batavia yang pada awalnya hanya menjadi tempat persinggahan dan perdagangan, akhirnya berkembang pesat dengan fungsi sebuah kota besar. Maka tak mengherankan jika pada akhirnya Batavia atau Jakarta ini kemudian ditetapkan sebagai Ibukota negara.

Pelabuhan Sunda Kelapa, Wonderful Indonesia di Tengah Hiruk-pikuk Jakarta

Pelabuhan Sunda Kelapa
Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai altenatif destinasi edutrip untuk anak

Jakarta yang terkenal dengan gedung pencakar langit, mall serta  berbagai tempat hiburan bergaya modern, ternyata masih menyimpan jejak sejarah pendiriannya. Fungsi utama Pelabuhan Sunda Kelapa yang kini meredup, rupanya menjadi sebuah alasan untuk menjadikannya salah satu Wonderful Indonesia, destinasi wisata lokal yang menyimpan sejarah, budaya dan kearifan masyarakat.

 

Berwisata ke pelabuhan Sunda Kelapa tak hanya memaksa kita mengingat sejarah panjang negeri ini. Tapi wisatawan akan disuguhi pemandangan Phinisi yang berjajar rapi, berdiri kokoh dengan aneka warna yang membalut badan kapal. Sungguh bukan pemandangan biasa bagi wisatawan mancanegara, bagi orang lokal pun pemandangan seperti ini tak mudah didapat karena keberadaan Phinisi yang tak selalu ada di setiap pelabuhan.

Keberadaan Phinisi yang kini menjadi alat pengangkut barang dari dan ke luar pulau di Indonesia memberikan warna tersendiri untuk keberadaan pelabuhan  yang kini memiliki dua fungsi. Sebagai dermaga dengan segala aktivitas bongkar muat, juga sebagai destinasi wisata sejarah yang memberikan kenangan mendalam bahwa jargon “nenek moyangku seorang pelaut” bukanlah isapan jempol belaka.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Bertemu kapal nelayan yang kembali dari laut lepas

Selain itu, wisatawan bisa mencoba ojeg sampan seperti yang telah kami lakukan. Dari ojeg sampan ini wisatawan akan dibawa menyusuri perkampungan nelayan untuk melihat lebih dekat kearifan lokal penduduknya.

Rasanya sungguh berbeda dengan menaiki kapal motor yang biasa disewakan di danau atau telaga wisata. Karena lokasinya berada di pelabuhan, maka semuanya sangat alami, begitu pun pemandangan hilir mudik perahu nelayan dan kapal barang yang datang dan pergi silih berganti.

Pelabuhan Sunda Kelapa
Menumpang ojeg sampan untuk melihat setiap sudut dermaga

Pelabuhan Sunda Kelapa tak hanya menarik dari sisi historis-nya, tapi kearifan lokal yang dipertahankan di tengah gempuran modernisasi yang terus menerjang Ibukota, membuatnya layak menjadi satu dari sekian banyak Wonderful Indonesia yang ada di Jakarta.

Sejatinya, setiap tempat di bumi pertiwi ini memiliki kekayaan yang berupa keindahan alam atau cerita di balik keberadaannya. Jadi jika kebetulan teman-teman memiliki dokumentasinya, kalian pun berkesempatan mengikuti Wonderful Indonesia Blogging Competition seperti yang sedang kulakukan ini.

Nah, jangan sampai terlewat ya, karena setiap tulisan kita berkontribusi untuk memperpanjang daftar  Wonderful Indonesia yang ada di setiap daerah.

29 thoughts on “Menyusuri Sisa Kejayaan Dermaga Rempah-Rempah, Wonderful Indonesia di Pelabuhan Sunda Kelapa”

  1. Belum pernah ke Sunda Kelapa.

    Baidewei, suka banget dengan gaya menulisnya.
    Suka…suka…suka…!
    Serasa ikut jalan-jalan di samping mba ne ^^

    Salam kenal dari bumi Borneo yaaa…
    Mampir yuuk
    Tetep yak usaha, diselipin, HIHIHIHI…

  2. wah..naik sampan, enggak kebayang ..sambil menikmati jajaran kapal yang bersandar dan membayangkan seperti apa riuhnya pelabuhan Sunda Kelapa 2 di masa jayanya.

    Enggak ngeh ada beginian di Jakarta..kemana saja saya? hiks

  3. Wah baru tahu ada ojeg sampan di pelabuhan Sunda Kelapa. Jadi pengen ajak anak-anak berwisata ke sana. Terima kasih mba sudah sharing info lokasi wisata ini

  4. Aku hunting foto ke sini sama temen berdua. Spotnya emang cakep2 sih. Cuman aku kurang berani aja buat explore lebih, soalnya banyaknya para kaum laki2 yang lagi kerja di sana. Harusnya lain kali mah ajak suami ke sana biar sekalian naik perahu.

  5. Akuuuuu… Akutu malu orang Jakarta tapi belum pernah ke sini. Hihii… Ragu juga sih aku pikir ini hanya pelabuhan, tempat bongkar muat barang ternyata bisa menjadi destinasi wisata juga ya.

  6. Wah, kreatif nih BukNaj membidik Wonderful Indonesia dari sisi yg lain. Iyes, tempat wisata sejarah pun tetap menarik untuk dikunjungi, ya.
    Bener, gak semua pelabuhan ada Phinisi-nya. Wah kapal ini nilai historisnya berharga sekali. Saya cuma pernah baca di sebuah novel yg bersetting di Sulawesi. Belum pernah liat wujud aslinya, hiks. Keren infonya

  7. Pilihan spot wisata yang tepat untuk dibahas. Setuju banget kalo Pelabuhan Sunda Kelapa ini jadi salah satu cerminan Wonderful Indonesia yang agak terabaikan di tengah gemerlap dan hiruk pikuk Metropolitan. Dan sayangnya, saya belum sempat hunting2 foto ke sini wkwkwk. Masukin list liburan ah… 🙂 🙂

  8. terakhir wisata naik kapal begini waktu di kalimantan, dan itu kapal kecillll nelayan yang kalo oleng dikit bikin dag dig dug

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *