WOMEN CORNER

Nostalgia “Nikah Koboi” A La PakNaj dan BukNaJ – Habis Nikah Besoknya Bhay….

Nikah ala koboi

Gara-gara heboh berita pernikahan Suhay Salim yang dilakukan di KUA— yang cuma bercelana jeans dan pakaian kasual serta tanpa make-up layaknya sepasang muda-mudi yang janjian mau malam mingguan di luar. Eh, lha kok BukNaj jadi kepengin bernostalgia dengan acara nikahan yang digelar delapan tahun silam.

Emang sih, nggak ada mirip-miripnya sama cerita Suhay yang langsung menggemparkan jagat dunia maya. Aku pun nikahan tetap berkebaya dan pakai ronce melati di kepala. Tapi gaya “nikah koboi” Suhay ini mengingatkanku dengan proses pernikahan  yang bisa dibilang sangat cepat. Proses perkenalan yang mak bras-bres terus nikah, juga prosesi akad, resepsi hingga malam pertama yang benar-benar hanya semalam, karena malam berikutnya aku bhay….. Dan cobaan pertama dalam kehidupan rumah tangga kami pun dimulai.

 

Nasib Adik Ipar yang Jadi “Orang Ketiga”

Flashback sedikit ya. Jadi, aku dan suami kenal sekitar 6 bulan sebelum menikah. Kami kenal lewat handphone, SMS-an karena waktu itu belum zamannya WA. Pak Bas juga kayaknya sering banget stalking FB aku, kelihatan kan, doi rajin banget ngomenin status atau foto aku. Menurut penerawanganku sih, doi emang naksir berat sama aku, buahahaha. *Piss, Pak Bas.

Nah, sebulan setelah perkenalan online itu kami pun merencanakan sebuah pertemuan, dengan orang ketiga sebagai “obat nyamuknya”. Dan siapakah dia yang harus menanggung penderitaan ini? Tak lain dan tak bukan, dia adalah adiknya suami alias adik iparku, buahahaha. *ngakak lagi*.

Aku suka ketawa sendiri kalau ingat momen ini. Merasa kasihan aja sama adik ipar yang sengaja kami jadikan penengah. Tapi sekaligus malu berat, karena secara nggak langsung dialah satu-satunya saksi ke-jaim-an kami pada waktu itu. Duh, isin banget pokok e. Tapi nggak apalah, justru bakalan jadi kenangan manis bagi kami berdua, dan mungkin kenangan pahit buat Om Aham, wkwkwkwk. Maaf ya, Om. *salim dulu*

Ternyata Allah memang telah menggariskan perjodohan kami. Pertemuan yang hanya beberapa menit itu akhirnya menimbulkan setruman-setruman khusus antara kami, (((SETRUMAN))).

 

Pembacaan Naskah Lamaran

Singkat cerita, sebulan berikutnya, pada malam minggu yang dingin yang membuatku tertidur lelap setelah azan isya’, Pak Bas pulang lagi dari Jakarta. Datang ke rumah dan kemudian bertemu dengan ibuku. Lha iya ibuku yang nemuin, wong akunya udah tidur. Ini beneran, loh, aku nggak tahu kalau dia datang terus ngelamar langsung pada ibu.

Dan akhirnya, setelah malam itu pun aku mulai berkenalan dengan bapak ibu calon mertua. Beuh, kenalan sendiri, lho, lha gimana wong Pak Bas di Jakarta. Yawislah, aku berani-beraniin aja. Toh, akunya kan sebenarnya seneng kenalan sama orang baru. Seneng cerita ngalor-ngidul. Jadi ya no problemo.

Atas undangan dari Bapak Mertua, gantian aku yang datang ke rumah suami dan terpaksa kebingungan nyari pintu rumahnya. Nggak usah tanya gimana ceritanya, soalnya panjang banget kalau diceritain di sini. Intinya, rumah mertuaku memang super unik, sudah banyak yang mengakuinya. Tapi begitulah, di rumah ini aku banyak merangkai cerita. Nggak hanya cerita LDR, tapi juga cerita wejangan dari mertua.

Nikah ala koboi
Salah satu rezeki itu berupa Bapak Mertua yang “unik” dan Ibu Mertua yang “gupuhnya” nggak perlu diragukan lagi

Lanjut lagi rencana nikahan. Dua bulan setelah suami melamarku pada ibu, gantian bapak ibu mertua yang datang melamarku. Acaranya sangat minimalis, karena cuma ada aku sekeluarga dan bapak ibu mertua, tanpa Pak Bas yang saat itu nggak dapat izin dari kantor. Bahkan hantaran buat lamaran pun aku sendiri yang harus mengangkatnya dari mobil mertua, wkwkwk.

Setelah basa-basi sekedarnya, Bapak Mertua langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Dan kami pun sudah siap dengan jawaban yang akan diberikan. Tapi, kejutan nggak berhenti sampai di situ saja. Di tengah ketegangan kami menantikan kalimat yang akan diucapkan bapak, tiba-tiba beliau mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya.

Ternyata oh ternyata, kertas itu berisi draft naskah lamaran yang telah beliau persiapkan, hahaha. Spontan kami semua tertawa termasuk bapak. Dan ketegangan malam itu pun sirna begitu saja setelah acara pembacaan naskah lamaran yang beliau lakukan. Walah, Mbah Kung-nya Najwa ini memang super unik, kok.

 

Nikah Serba Minimalis

Akhirnya tanggal pernikahan pun ditentukan pada acara lamaran malam itu. 27 Juni 2010 dipilih bukan karena menyesuaikan pon, wage atau kliwon. Bukan juga karena letak posisi bintang atau mengikuti bisikan dari alam mimpi.

Tanggal itu yang bertepatan hari Minggu sengaja dipilih karena menjelang libur akhir tahun ajaran. Perhitungan kami, keluarga yang kebetulan berada di luar kota bisa sekalian berlibur dengan anak-anaknya. Tanpa khawatir terlalu lama bolos atau meninggalkan pelajaran.

Jam pernikahan pun dipilih pagi. Sekali lagi bukan karena saran dari Mbah Kyai, tapi karena kami menginginkan seluruh rangkaian acara selesai sebelum waktu zuhur tiba.

Nikah ala koboi

 

Konsep pernikahan pun dibuat seminimalis mungkin. Semua serba santai tanpa tradisi layaknya pengantin Jawa pada umumnya.

Undangan yang disebar juga tak banyak. Hanya tetangga, teman dan keluarga dari kedua belah pihak yang jumlahnya justru lebih banyak.

Semua sengaja dibuat serba minimalis. Bahkan sebenarnya aku pengin yang lebih minimalis. Semacam Suhaylah kalau bisa, *terSuhay. Tapi ya jelas nggak bisa dong, dalam keluargaku itu nggak ada acara nikah pakai baju kasual. Kain batik dan kebaya wajib hukumnya. Jadi cita-citaku untuk akad nikah di masjid dengan baju gamis sederhana langsung kandas. Cuma kesampaian akad nikah saja yang akhirnya dilakukan di masjid dekat rumah.

Ya, namanya nikah kan melibatkan dua keluarga. Jadi aku lebih banyak “manut” saja pada waktu itu, daripada engkel-engkelan yang berujung nggak enak. Intinya konsep tetap minimalis, baik dari segi bujet juga acara, karena kami nggak mau punya “tanggungan” di belakang.

 

Pengantin yang Menunggu Penghulu

Akhirnya D day pun tiba. Setelah sehari sebelumnya aku baru bisa cuti dari tempat kerja, 27 Juni pagi selepas subuh aku berangkat ke salon untuk dirias. Ya, untuk acara nikahan kemarin aku nggak pakai perias. Cuma aku seorang yang dandan lengkap itu pun di salon langganan.

Dengan membawa kebaya untuk akad nikah, aku berangkat diantar kakak—dengan tubuh yang sebenarnya masih terlalu lelah setelah lembur di kantor hingga H-2 pernikahan.

Proses merias yang hanya memakan waktu 1,5 jam membuatku siap lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Jadwal akad nikah yang seharusnya jam 7.30, ternyata penghulunya malah baru datang jam 8.30, karena akad nikah di tempat sebelumnya agak telat. Jadi rekor banget nih, karena biasanya penghulu yang menunggu pengantin. Tapi kali ini pengantin yang menunggu penghulu dengan cemas. Pak Bas pun semakin deg-deg-an sampai harus berkali-kali menyeka keringat.

 

Ikrar Akad Nikah yang Sepanjang Jalan Kenangan

 

 

Syukur alhamdulillah tepat pukul 08.30 acara akad nikah pun dimulai. Tanpa contekan untuk ikrar akad nikah, Pak Bas harus berlatih dulu mengucapkan ikrar yang panjangnya sepanjang jalan kenangan.

Saya terima nikah dan kawinnya, Damar Nur Aisah binti almarhum Ismail Besari bin Hardjo Besari, dengan wali nikah saudara laki-laki dari pihak ayah Aditya Aji Gautama bin almarhum Abu Yamin bin Hardjo Besari, dengan mas kawin tersebut, TUNAI!

Sah … Sah … Sah!!

Alhamdulillah, setelah melalui tiga kali latihan, Pak Bas berhasil mengucapkan ikrar akad nikah dengan lancar tanpa contekan. Meskipun keringat terus bercucuran dan diakhiri air mata yang langsung meleleh karena tak bisa lagi ditahan.

 

 

Acara pun dilanjutkan resepsi sederhana dan ber haha-hihi dengan tamu undangan dan keluarga. Tak ada yang terlalu menarik atau formal. Acara juga berlangsung tak terlalu lama. Setelah berfoto-foto dan menikmati hidangan yang semuanya dimasak di rumah, rangkaian acara pernikahan pun selesai tepat pukul 11.30, sebelum azan zuhur berkumandang.

 

Habis Nikah Besoknya Bhay….

Tak ada foto-foto romantis a la raja dan ratu sehari, karena kami berdua sama-sama malu. *Padahal biasanya malu-maluin. Kami pun lebih menikmati foto-foto candid yang berhasil diabadikan Faqih—temanku yang menjadi fotografer pada hari itu.

Setelah acara pernikahan yang melelahkan, kami pun tak menyiakan-nyiakan waktu yang terbatas untuk beristirahat sambil ngobrol dan “lain-lainnya”. Kenapa terbatas? karena esok harinya pada tanggal 28 malam aku harus terbang ke Singapura, menyusul teman-teman yang sudah lebih dulu mengikuti internship program dari afiliasi kantor kami.

Dengan berat hati aku pun melambaikan tangan. Mengucap bhay... pada pengantinku yang harus kesepian untuk beberapa waktu ke depan.

Jangankan honeymoon, kami pun belum sempat mengenal satu sama lain lebih jauh. Untungnya Pak Bas ridlo, ya. Jadi acara honeymoon pun langsung ditunda. Nggak tanggung-tanggung ditundanya sampai usia pernikahan 8 tahun berjalan dan kami beranak dua. *Nggak niat ini mah, wkwkwkwk.

Kadang aku mikir kok ya gitu bangetttt ya drama pernikahanku. Tapi kemudian yakin semua sudah dibuat sangat indah oleh Allah, termasuk langsung diberi keturunan sebulan setelah pernikahan.

Pernikahan seperti yang dilakukan Suhay Salim memang sempat sangat kuidamkan, karena prinsipku menikah itu memang harus dibuat mudah dan ekonomis. Tapi harus menyesuaikan dengan kemauan kedua belah pihak, kan? Intinya jangan dibuat ribet dan nggak perlalu terlalu idealis kalau sudah melibatkan dua keluarga.

Bicarakan dengan baik-baik dan ambil jalan tengah yang tidak memberatkan kedua belah pihak. Tapi, kalau “nikah koboi” bisa diterima semua pihak, ya kenapa enggak? Hehehe.

19 thoughts on “Nostalgia “Nikah Koboi” A La PakNaj dan BukNaJ – Habis Nikah Besoknya Bhay….”

  1. Masya Allah mba, seru banget proses pernikahannya . Dulu juga pengen sederhana kya gitu, g undang byk orang tapi tak direstui orang tua dr kedua belah pihak. Maklum sodaranya banyak..

  2. Wah…seru kisahnya. Aku yaa engga ada hanimun, soalnya aku hani. Gariiing…
    Sama…sebulan kemudian hamil. Yawda…jalan² berduanya yaa sekarang aja. Haha…alhamdulillah…

  3. Seru bangeeet cerita pernikahannya. Tapi Alhamdulillah dari kedua orangtua pun setuju ya pernikahan yang sederhana. Banyak lho yang pengantinnya maunya sederhana, tapi orangtua yang maunya meriah dan yang ribet-ribet.

    Anyway, nggak masalah ya karena kehidupan pernikahan baru saja dimulai. Jadi ada baiknya meminimalkan segala beban dan tanggungan. Semoga terus sakinah, mawaddah, warrahmah ya, Mbak Damar …

  4. Masya Allah, Tabarakallah mbak ^^

    Suhay memang mengejutkan dunia maya, sebelumnya beberapa kawan juga menikah di KUA dan lebih simple serta hemat biaya. Balik lagi sih ke kedua belah pihak keluarga, maklum di Indonesia kan adat dan budaya masih kental. Do’akan ya Bu Naj semoga gie didekatkan jodohnya *eaa serta bisa menikah dengan mudah, murah dan nyaman ^^

  5. Hhhh, bacanya sampe kepingkel-pingkel Mbak Damar …
    Milenial banget deh pokoknya. Segala aturan ditabrakk, hihihi
    Bismillah SAMAWA till Jannah ya mbak.
    Aamiin

  6. Seru ya mbak, aku nikah malah enggak make up kebaya juga cuma pas akad. Sampai rumah ganti gamis aja. Dan enggak punya foto nikah begitu mbak hahhah lebih miris ya mbak.

    Enggak masalah menjadi kenangan manis malah. Semoga nanti punya foto nikah jika bertemu jodoh kembali.

    Thanks mba sharing nya, saya juga mau ah nikah no kebaya yang ribet enak pakai gamis ya.

  7. Cie…cieer..cieeer yang lagi nostalgia hihihi. Ceritanya mba damar bkin aku bernostalgia jga wkwkwk. Aku ama suami sblumnya ga kenal sama sekali. Lalu kenal lwar taaruf hihihi. Pertemuan k 4 langsung dilamar dan bulan dpn lngsung nikah hihihi. Cepet jg prosesnya dan tanpa resepsi juga

  8. Kok saya baca ini senyum-senyum meong sih. Hehehe….

    Bukan senyum lagi tapi ngakak saat baca mertuanya bawa konsep lamaran. Unik dan lucu benar tuh mbak mertuanya.

  9. Waaw..waw…seru bingit ya.
    Pasti kenangan yg ga terlupakan..hehe.
    Klo saya praharanya sebelum lamaran, alhamdulillah lainnya lancar. Hanymoonnya di yogya-dieng, alhamdulillah 3 th baru ada si kecil

  10. Wiiiiy…lucu sekali ya. Kasihan pak suami abis nikahan langsung ditinggal tugas ke Singapura. Tapi proses nikahnya cepet juga ya. Aku juga cepet 2 bulan doang langsung nikah gak pakai pacaran. Hehee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *